Harga Jual Kelapa di Flores Diatur Tengkulak Bermodal Besar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Harga jual kelapa dan kopra di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dipermainkan pengepul atau tengkulak sehingga seringkali membuat petani mengalami kerugian ketika harga jualnya anjlok.

“Harga jual kelapa dan kopra masih diatur oleh tengkulak dan pengepul yang bermodal besar sehingga sering kali anjlok,” sebut Rikardus Umbu, pemilik usaha kopra putih di Kota Larantuka, Flores Timur, NTT saat dihubungi, Selasa (5/10/2021).

Pemilik usaha pengolahan kopra putih di Kelurahan Weri, Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur,NTT, Rikardus Umbu saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (25/9/2021). Foto: Ebed de Rosary

Icad sapaannya mengakui, petani tidak memiliki daya tawar dan pilihan sehingga terpaksa menjual kelapa serta kopra ke tangan pengepul meskipun dengan harga jual yang rendah.

Dirinya mengaku miris melihat situasi ini sehingga selalu mengajarkan kepada petani agar jangan menjual kelapa bulat atau gelondongan tapi diproses menjadi produk yang bernilai jual tinggi.

“Saya selalu mengajak petani agar mengolah kelapa menjadi kopra putih dan produk lainnya. Selain bisa membuat kopra, petani juga bisa menjual tempurung kelapa dan sabut kelapanya,” ujarnya.

Icad mengakui, dirinya selain sedang mengajak para petani untuk bekerjasama memproduksi kopra putih serta produk lainnya berbahan kelapa hingga menjadi produk setengah jadi.

Ia mengaku selalu mendorong para petani muda agar bisa membuka usaha pengolahan kelapa menjadi produk setangah jadi atau produk akhir yang siap dijual ke pasaran.

“Apabila dibuat produk setengah jadi dan produk akhir maka keuntungan yang didapat akan meningkat. Pengusaha dapat untung tapi jangan sampai petani semakin jauh dari sejahtera,” ujarnya.

Sementara itu, Rahman Tukan Hanafi seorang anak muda yang memproduksi kelapa menjadi produk jadi berupa sabun cuci piring, sabun cuci serta minyak kelapa dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil), mengakui, dirinya tergerak melihat banyaknya bahan baku kelapa di kampungnya di Kecamatan Tengah yang hanya dijadikan kopra hitam dengan harga jual yang tergolong murah.

“Saya mengajak anak-anak muda membentuk kelompok lalu kami memproduksi berbagai produk berbahan kelapa. Penjualan produk yang kami hasilkan pun mulai mengalami peningkatan,” ungkapnya.

Rahman meminta agar anak-anak muda bisa kreatif memanfaatkan komoditi yang ada di wilayahnya agar diolah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi dibandingkan dengan menjual bahan mentah.

Lihat juga...