Harga Komoditi Kakao di Sikka Alami Kenaikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Harga jual aneka komoditi perkebunan termasuk kakao di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan setelah sebelumnya sempat anjlok hingga Rp15 ribu per kilogram selama 2 tahun pandemi Covid-19.

“Harga jual kakao sudah mengalami peningkatan hingga mencapai Rp35 ribu per kilogramnya,” sebut staf Wahana Tani Mandiri (WTM) Dedy Alexander Saragih, saat ditemui di kantornya di Kelurahan Beru, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (12/10/2021).

Staf Wahana Tani Mandiri (WTM) Dedy Alexander Saragih saat ditemui di kantornya di Kelurahan Beru, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (12/10/2021). Foto: Ebed de Rosary

Aleks sapaannya menjelaskan, harga jual kakao ini merupakan harga tertinggi dan rata-rata harga jual kakao berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Dirinya mengakui, tingginya harga ini dipicu oleh mulai berkurangnya stok kakao di petani karena mendekati akhir tahun dan memasuki musim hujan kakao sudah mulai berbunga.

“Biasanya sejak bulan Juni sudah mulai dilakukan panen kakao karena sudah mulai matang. Para petani rata-rata belum memperhatikan kualitas karena penjemuran kakao yang tidak tepat,” ujarnya.

Aleks menyebutkan, pihaknya selalu mengingatkan para petani agar memperhatikan kualitas kakao dengan melakukan pemanenan buah kakao yang benar-benar matang.

Ia tambahkan, proses penjemuran kakao pun harus steril dan bersih sehingga harus ada tempat khusus untuk menjemurnya bukan di halaman rumah apalagi meletakkan di tanah dengan hanya dilapisi terpal.

“Proses pasca panen masih harus diperbaiki agar kualitas kakao yang dihasilkan harga jualnya bisa lebih tinggi. Petani kita belum masuk ke pasar kakao fermentasi yang harga jualnya bisa dua kali lipat,” ucapnya.

Sementara itu Lukas Lura, salah seorang pedagang kakao mengakui, membeli kakao dari petani di desa dengan harga Rp30 ribu per kilogram namun harga jual bergantung kepada kualitas.

Luky sapaannya juga mengamini masih minimnya petani menjaga kualitas kakao, karena menjemur kakao di tanah lapang bahkan di jalan raya terkena debu atau kotoran.

“Petani kita harus diberikan penyadaran dan pendampingan agar lebih memperhatikan kualitas pasca panen. Di Maumere sendiri sudah ada pabrik yang membeli kakao dengan harga mahal sesuai kualitas biji kakao yang dihasilkan,” ucapnya.

Luky menambahkan, meskipun ada pembeli yang membeli kakao dengan harga mahal namun para petani belum banyak yang tertarik untuk memperhatikan kualitas kakao agar harga jual yang diperoleh bisa lebih baik.

“Memang perlu pendampingan dan ada penampung di desa yang mau membeli kakao dengan kualitas bagus dengan harga yang pastinya lebih tinggi,” ujarnya.

Lihat juga...