Harga Minyak Naik Setelah Saudi Abaikan Kekhawatiran Pasokan

NEW YORK — Harga minyak berbalik naik dari kerugian sesi sebelumnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah produsen minyak utama Arab Saudi menolak seruan untuk tambahan pasokan OPEC+, dan Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan lonjakan harga gas alam dapat meningkatkan permintaan minyak di antara pembangkit listrik.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember terangkat 82 sen menjadi menetap di 84 dolar AS per barel, naik 1,0 persen, dan merupakan tingkat penyelesaian tertinggi sejak Oktober 2018.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November menguat 87 sen menjadi berakhir di 81,31 dolar AS per barel, mencatat penutupan tertinggi tujuh tahun lainnya.

Pasar sebagian besar mengabaikan peningkatan besar yang tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS karena para penyuling memangkas produksi dalam periode yang umumnya lebih lambat untuk fasilitas tersebut.

Permintaan minyak akan meningkat setengah juta barel per hari (bph) karena sektor listrik dan industri berat beralih dari sumber energi yang lebih mahal, kata IEA, memperingatkan bahwa krisis energi dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Dalam laporan bulanannya, IEA meningkatkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2022 sebesar 210.000 barel per hari, dan sekarang memperkirakan total permintaan minyak pada 2022 mencapai 99,6 juta barel per hari, sedikit di atas tingkat pra-pandemi.

Gedung Putih telah berdiskusi dengan para produsen minyak dan gas tentang biaya bahan bakar, dengan harga bensin eceran mencapai tertinggi dalam tujuh tahun dan tagihan pemanas musim dingin diperkirakan akan meningkat. Ia juga mendesak OPEC+ untuk meningkatkan produksi.

Lihat juga...