Inggris – Irlandia ‘Bertikai’ di Twitter Soal Kesepakatan Brexit

Kepala tim negosiator Inggris di Uni Eropa David Frost di London, Inggris, November 2020. -Ant/Reuters

LONDON – Inggris dan Irlandia bertikai di Twitter pada Minggu terkait aturan perdagangan di Irlandia Utara, wilayah Inggris yang berbatasan dengan Irlandia, dalam perjanjian Brexit.

Sebelumnya, negosiator Inggris untuk urusan Brexit, David Frost, menyatakan lagi pandangannya bahwa Uni Eropa (EU) harus menyetujui “perubahan signifikan” dalam protokol Irlandia Utara yang mengatur perdagangan dan perbatasan.

Protokol tersebut merupakan bagian dari kesepakatan Brexit yang dinegosiasikan Perdana Menteri Boris Johnson dengan EU.

Namun, pemerintah Inggris berulang kali mengatakan protokol tersebut harus diperbarui kurang dari setahun sejak diberlakukan, karena menghambat pelaku bisnis yang mengimpor barang-barang Inggris ke Irlandia Utara.

Menteri luar negeri Irlandia, Simon Coveney, mencuit di Twitter: “Pertanyaan serius: Apakah UKG (pemerintah Inggris) benar-benar ingin melanjutkan kesepakatan atau merusak hubungan?”

Cuitan itu dibalas oleh Frost: “Saya lebih suka tidak bernegosiasi lewat Twitter, tapi karena @simoncoveney telah memulai prosesnya…”

Frost menolak argumen Coveney, bahwa dirinya sedang membuat tuntutan baru.

Dia mengatakan kekhawatiran Inggris atas peran Pengadilan Eropa dalam proses tersebut telah dikemukakan tiga bulan sebelumnya.

“Masalahnya adalah terlalu sedikit orang yang mendengarkan,” kata Frost.

Pada Sabtu, Frost merilis cuplikan pidato yang akan dia sampaikan pekan ini, yang kembali mendesak perubahan dan mengindikasikan keinginan untuk membebaskan protokol itu dari pengawasan hakim Uni Eropa.

Menanggapi hal itu, Coveney mengatakan Inggris telah menciptakan penghalang baru bagi kemajuan, dan mereka tahu hal itu tidak akan diteruskan oleh EU.

Perseteruan itu muncul di awal pekan dalam debat berkepanjangan tentang bagaimana mengatur aliran barang di antara Inggris, Irlandia Utara dan EU.

Komisi Eropa berharap dapat mengeluarkan aturan baru untuk mengatasi persoalan perdagangan pasca-Brexit pada Rabu, namun mereka berulang kali menyatakan keengganan untuk menegosiasi ulang protokol tersebut.

Sehari sebelumnya, Frost dijadwalkan akan berpidato di depan komunitas diplomatik di ibu kota Portugal, Lisbon. Dia akan menyampaikan, bahwa negosiasi tanpa akhir bukanlah pilihan dan bahwa London perlu bertindak dengan menggunakan mekanisme perlindungan pada Pasal 16, jika tak ada solusi yang bisa disepakati segera.

Pasal 16 membolehkan setiap pihak untuk mengambil tindakan sepihak jika protokol tersebut dianggap berdampak negatif. (Ant)

Lihat juga...