Ini Olahraga Ringan untuk Lansia di Rumah

Editor: Makmun Hidayat

BOGOR — Walaupun harus berada di rumah, para lanjut usia (lansia) tak boleh lalai untuk menggerakkan otot untuk memastikan fungsi tubuh terjaga dan sekaligus menjaga kemandirian. Tentu saja gerakan menggerakkan otot yang dilakukan di rumah ini disesuaikan dengan kondisi para lansia.

Praktisi kesehatan Mitra Keluarga Kemayoran Jakarta, dr. Michael Triangto, SpKO menjelaskan bahwa lansia membutuhkan olahraga.

“Karena semakin bertambah usia maka semakin membutuhkan perawatan. Agar menghindari dampak negatif dari penurunan fungsi panca indra, fungsi kognitif dan sistem syaraf. Termasuk juga penurunan kualitas otot dan tulang. Olahraga akan membantu menjaga atau minimal memperlambat proses penurunan sehingga hidup seorang lansia tetap berkualitas,” kata Michael dalam acara edukasi lansia, secara online diikuti Cendana News dari Bogor, Jumat (8/10/2021).

Ia menyebutkan sebagai seorang lansia, masalah yang paling besar adalah potensi jatuh.

“Hal ini sangat besar potensi terjadinya. Baik karena misalnya penurunan fungsi penglihatan atau penurunan tingkat sensor tubuh yang menurunkan tingkat keseimbangan dan refleks menurun. Jadi penting untuk menjaga kondisi rumah itu menghindarkan para lansia dari jatuh, termasuk saat olahraga,” ucapnya.

Praktisi kesehatan, dr. Michael Triangto, SpKO, dalam edukasi online lansia, Jumat (8/10/2021). -Foto Ranny Supusepa

Untuk memulai olahraga, ia menyebutkan, para lansia harus melakukan perenggangan. Mulai dari leher, lalu pinggang dan kaki.

“Latihan yang bagus untuk lansia adalah aerobik. Karena sangat baik untuk melatih jantung dan paru serta meningkatkan pembakaran tubuh untuk menurunkan lemak dan kadar gula darah. Dan bisa juga untuk mengurangi dosis obat yang harus dikonsumsi setiap hari sebagai akibat dari penyakit bawaan yang umumnya dimiliki oleh lansia Indonesia,” ucapnya lagi.

Salah satu olahraga aerobik yang dapat dilakukan di rumah adalah menggunakan mini cycle, yang dapat dilakukan para lansia sambil menonton acara televisi maupun berinteraksi dengan anggota keluarga lain di ruang keluarga.

“Keluhan yang biasa muncul adalah rasa nyeri di lutut. Kalau memang dirasakan nyeri, artinya kita sesuaikan olahraganya. Jangan mengayuh dengan kaki tapi cari alat untuk melakukan kayuhan tapi memanfaatkan tangan,” tuturnya.

Kalaupun memang tak bisa membeli alatnya, para lansia juga bisa melakukan gerakan mengayuh ini tanpa bantuan alat.

“Dapat dilakukan di kursi atau di tempat tidur. Caranya dengan duduk agak condong ke belakang. Angkat kaki hingga agak tinggi atau setara pinggang. Sedikit renggangkan jarak antara kaki kiri dan kaki kanan. Lalu lakukan gerakan mengayuh, yang lamanya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing lansia,” tuturnya lebih lanjut.

Olahraha aerobik ini, lanjut Michael, harus lah disertai dengan latihan penguatan otot. Caranya, dengan duduk kursi lalu mengangkat kaki hingga setinggi paha hingga 10 repetisi dalam 3 – 8 set, sesuai kemampuan.

“Setelah itu, latihan lainnya yang perlu dilakukan adalah latihan keseimbangan. Yang dilakukan di lantai dengan bertumpu pada kedua telapak tangan dan lutut. Angkat kaki dan julurkan ke belakang secara bergantian,” kata dokter yang sudah banyak mempublikasikan buku dan video gerakan olahraga ini.

Dari kegiatan olahraga yang dilakukan secara rutin ini, paling tidak 150 menit per minggu, ia menyebutkan lansia akan mendapatkan manfaat kemandirian serta meningkatkan koordinasi dan daya ingat.

“Jika olahraga ini dilakukan dengan didampingi oleh anak atau cucu di rumah, pastinya kebersamaan dan interaksi ini akan menambah kualitas ikatan keluarga. Hal ini penting bagi para lansia, yang umumnya takut akan kesendirian,” pungkasnya.

Lihat juga...