Intensitas Hujan Tinggi , Harga Sayuran di Pontianak Naik

PONTIANAK – Intensitas hujan yang mulai tinggi di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), berdampak kepada kenaikan harga barang, terutama untuk komoditas sayur. Hal tersebut terasa terjadi di Pasar Flamboyan Pontianak, Kalbar.

“Musim hujan hasil panen petani merosot. Petani sayur banyak yang gagal panen, lantaran sayuran banyak yang rusak. Sayur yang masuk juga sedikit, makanya harga langsung naik. Rata-rata harga sayuran naik paling tidak Rp2.000,” ujar seorang pedagang sayuran di Pasar Flamboyan Pontianak, Herika, MInggu (3/10/2021).

Beberapa sayur yang mengalami kenaikan harga adalah, sayur bayam, sawi, kangkung, kacang-kacangan. Sementara untuk harga beras, sejauh ini masih stabil. “Untuk harga bayam semula Rp6 ribu menjadi Rp8 ribu bahkan sampai Rp10 ribu per ikat. Lalu kangkung yang semula Rp4 ribu menjadi Rp8 ribu sampai Rp10 ribu. Kemudian untuk kacang biasanya Rp8 ribu kini menjadi Rp12 ribu per-ikat,” jelasnya.

Sementara untuk harga cabai rawit, yang dipasok lokal, sempat menyentuh angka Rp124 ribu per kilogram. Dan kini turun menjadi Rp47 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram. “Hargai cabai memang sedang stabil. Harga cabai stabil di kisaran Rp30 ribu per kilogram. Sementara cabai merah lokal stabil di Rp60 ribu per kilogram, Tapi bisa saja harga cabai rawit naik lagi,” tandasnya.

Sejauh ini, di Kota Pontianak dari data harga rata-rata yang disajikan di aplikasi Jepin dalam satuanan kilogram, untuk ayam Rp32 ribu, ikan tenggiri Rp70 ribu, ikan kakap hitam Rp57 ribu, bawal Rp56 ribu, tongkol Rp38 ribu, udang putih Rp33 ribu. Kemudian untuk aneka sayuran seperti sawi keriting Rp22 ribu per kilogram, sawi putih Rp20 ribu per kilogram, kangkung Rp10 ribu, kacang panjang Rp11 ribu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, secara umum saat ini harga pangan di tengah masyarakat relatif stabil. “Harga yang ada di tengah masyarakat stabil, hal itu tidak terlepas dari pasokan, distribusi dan stok terus dipantau. Jika ada gejolak harga dengan cepat kita carikan solusi,” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Krimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak mengimbau, masyarakat setempat mewaspadai dampak cuaca ekstrem, yakni hujan disertai angin kencang, terutama daerah-daerah pesisir dan dataran rendah, guna mengurangi risiko bencana.

“Masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaannya terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tersebut, terutama dalam menghadapi potensi terjadinya bencana banjir, genangan air, dan sebagainya di sebagian wilayah Kalbar, khususnya wilayah yang sering terjadi bencana tersebut,” kata Prakirawan BMKG Supadio Pontianak, Debi.

Cuaca ekstrem, yang berpotensi banjir, biasanya terjadi pada Januari, Maret, April, November, dan Desember. “Hampir semua daerah di Kalbar berpotensi terkena dampak cuaca ekstrem tersebut, sesuai dengan informasi analisis dan prakiraan dasarian yang dikeluarkan BMKG dan akan diperbarui setiap 10 hari sekali,” jelasnya. (Ant)

Lihat juga...