ITAGI Lakukan Kajian Kriteria Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum

Ilustrasi - Warga negara asing mengikuti vaksinasi yang diadakan di Balai Kota Jakarta, Selasa (24/8/2021) -Foto: ANTARA

JAKARTA – Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), melakukan riset untuk menetapkan sejumlah kriteria vaksin booster atau penguat, yang rencananya disuntikkan kepada masyarakat umum di Indonesia.

“Untuk booster, bisa vaksin yang sama dan berbeda. Kalau yang berbeda, kita pilih yang punya efikasi tinggi dan daya tahan yang tinggi untuk varian virus baru,” kata Ketua ITAGI, Sri Rezeki Hadinegoro, di Jakarta, Rabu (20/10/2021).

Rencana vaksinasi booster atau dosis ketiga sebagai penguat imun, saat ini masih diteliti ITAGI bersama sejumlah pakar dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Indonesia (UI). Penelitian itu menyikapi permintaan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyusul program vaksinasi booster bagi masyarakat, yang semakin menguat bergulir di 2022. “Memang benar kami bersama sejumlah universitas diminta Pak Budi Gunadi Sadikin meneliti booster. Ini masih penelitian dan belum ada hasil,” katanya.

Tangkapan layar Ketua ITAGI, Sri Rezeki Hadinegoro, saat sebagai pembicara dalam agenda pelatihan media yang diselenggarakan BPOM secara virtual di Jakarta, Selasa (19/10/2021) – foto Dok Ant

Sri mengatakan, proses penelitian saat ini dilakukan terhadap beberapa varian vaksin yang beredar di Indonesia. “Untuk yang primer dipakai Sinovac dua kali atau AstraZeneca dua kali atau di-booster dengan vaksin lain,” katanya.

Salah satu metode penelitian dilakukan pada campuran vaksin Sinovac dosis 1 dan Sinovac dosis 2 dan untuk dosis ketiga juga menggunakan Sinovac. Metode lainnya adalah, Sinovac dosis 1 dan dosis kedua digabung dengan Moderna atau Pfizer sebagai booster. “Penelitian ini belum termasuk vaksin Merah Putih karena belum jadi,” katanya.

Selain menyasar masyarakat berusia produktif dan remaja, ITAGI juga berencana menguji coba vaksin booster untuk kelompok masyarakat berusia di atas 60 tahun. “Sebab kita tahu, bahwa mereka (lansia) sangat rentan terpapar oleh virus corona, akibat gangguan kekebalan tubuh,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...