Kasuami Kukus, Kue Tradisional Suku Buton

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Warga etnis Buton yang mendiami wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama di kepulauan, sering membuat kue Kasuami yang terbuat dari singkong atau ubi kayu yang dikukus.

Warga Pulau Koja Doi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT, Nuryani saat ditemui di tempat tinggalnya, Sabtu (2/11/2019). Foto : Ebed de Rosarye

“Ubi dipotong lalu dibersihkan baru dijemur hingga benar-benar kering dan disimpan beberapa hari. Bila mau dijadikan Kasuami baru direndam di air,” sebut Sumaryati, warga Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di TPI Alok, Sabtu (2/10/2021).

Sumaryati menjelaskan, bisa juga mempergunakan ubi kayu yang tidak dijemur terlebih dahulu dan biasanya lebih banyak yang membuatnya dibandingkan memakai bahan ubi kering.

Dia katakan, setelah direndam beberapa saat, ubi kayu tersebut diangkat dan diparut hingga halus. Sesudahnya, diperas dan dikukus hingga matang lalu diangkat dan dinginkan.

“Setelah dingin, gunakan tangan untuk membentuk adonan singkong tersebut hingga berbentuk kerucut. Ukuran kerucut atau layaknya tumpeng tersebut kecil dan tidak terlalu besar,” ucapnya.

Sumaryati menambahkan, untuk memakannya biasanya dicampur dengan parutan kelapa agar rasanya lebih lezat.

Bisa juga kata dia dimakan menggunakan ikan kuah asam atau ikan yang dimasak menggunakan santan kelapa.

Sementara itu, Nuryani warga Pulau Koja Doi yang ditanyai mengakui Kasuami sering dijual masyarakat seperti di Kampung Beru, Wuring dan TPI Alok di Kota Maumere.

Nuryani katakan, Kasuami dijual dengan harga Rp5 ribu per buahnya dan biasanya pembeli berasal dari warga asal Sulawesi Selatan yang menetap di Kabupaten Sikka.

“Ada juga warga lainnya di Kota Maumere yang suka membelinya untuk dimakan bersama keluarga setiap hari libur atau hari Sabtu dan Minggu,” ungkapnya.

Nuryani mengakui, meski sudah turun temurun menetap di Kabupaten Sikka namun warga etnis Buton tetap melestarikan masakan leluhurnya termasuk aneka kue.

“Kami juga mengajarkan kepada anak-anak perempuan kami sehingga mereka pun bisa membuatnya untuk dihidangkan kepada keluarganya apabila kelak sudah menikah,” ungkapnya.

Lihat juga...