Kehangatan Kopi Jahe Betawi Menyentuh Hingga ke Hati

Editor: Maha Deva

Kopi Jahe Betawi hadir untuk menghangatkan tubuh dan silahturahmi keluarga, yang disampaikan dalam Workshop Bumi Rempah Kuliner seri DKI Jakarta, Sabtu (30/10/2021) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Berbagai varian kopi jahe, pasti sudah dikenal oleh para penikmatnya. Tetapi ada yang berbeda dengan kopi jahe Betawi, yang hadirnya bukan hanya sebagai upaya menghangatkan tubuh, tetapi juga menjadi penghangat hubungan kekeluargaan.

Tokoh Kuliner Betawi, Hj. Annissa Dyah Setiyawati menyebut, Kopi Jahe Betawi dibuat menggunakan rempah serai, kayu manis, kapulaga, cengkeh. Dan sudah pasti jahe sebagai air rebusan untuk menyeduh kopi. “Dan jahenya-pun berbeda. Ada yang menggunakan jahe merah. Kalau yang ingin lebih pedas menggunakannya jahe emprit. Bahkan ada juga yang menambahkan cabai jawa untuk lebih meningkatkan rasa pedas,” kata Mpok Nissa, demikian wanita tersebut biasa disapa, dalam Workshop Bumi Rempah Kuliner seri DKI Jakarta, Sabtu (30/10/2021).

Semua bahan tersebut, sebelum diolah harus dibakar terlebih dahulu, untuk lebih mengeluarkan aromanya. Kalau sudah dibakar langsung direbus hingga mendidih. Lalu langsung dituangkan ke bubuk kopi. “Biasanya, kue yang menyertai kopi jahe ini adalah kue abu dan kue jongkok,” tambahnya.

Dalam penyajiannya, Mpok Nissa menyebut, biasanya akan disertai dengan susu kental manis dan gula yang terpisah. Penambahan itu biasanya untuk orang yang menyukai manis atau untuk anak-anak. “Umumnya diminum begitu saja. Tapi kalau anak-anak atau ada sebagian ibu yang menambahkannya dengan gula atau susu agar pahitnya berkurang,” jelasnya.

Tokoh Kuliner Betawi, Hj. Annissa Dyah Setiyawati menjelaskan pembuatan kopi jahe Betawi, dalam Workshop Bumi Rempah Kuliner seri DKI Jakarta, Sabtu (30/10/2021) – Foto Ranny Supusepa

Budayawan Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra menyampaikan, kopi jahe merupakan bagian dari ikatan keluarga Betawi. “Zaman dulu, kalau sudah dihidangkan kopi jahe dan kue-kuenya, biasanya nyak tua (nenek) kita, atau yang dituakan di keluarga akan mulai bercerita tentang kisah nabi atau kisah sahabat nabi. Terus bercerita hingga akhirnya para anak kecil merasa mengantuk dan tertidur,” kata Yahya dalam kesempatan yang sama.

Di saat anak-anak sudah tertidur, barulah para orang dewasa melanjutkan meminum kopi jahe mereka dan membahas hal-hal yang tidak dibahas selama masih ada anak-anak. “Jadi ini bukan hanya sekedar minuman. Tapi filosofinya adalah bagian dari menghangatkan keluarga. Menjadi suatu pengikat keluarga,” ucapnya.

Meminum kopi jahe, paling enak saat kondisinya masih panas sekali. “Kalau dilihat masih ada asapnya tuh kopi. Kalau diminum berasa di lak-lakan (kerongkongan) kita tuh pahit, panas dan pedasnya. Efeknya jadi seperti memberikan gedoran pada tubuh yang berbeda dengan kopi biasa,” pungkasnya.

Lihat juga...