Kemenag: Indeks Kesalehan Sosial Masyarakat Indonesia Sangat Baik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenang) melalui Badan Litbang dan Diklat baru saja melaporkan hasil survei indeks kesalehan sosial (IKS) masyarakat Indonesia, di mana tahun ini skornya mencapai 83,92 dengan kategori sangat baik.

“Survei ini memotret secara kuantitatif implementasi ibadah yang ada dalam agama-agama, baik yang bersifat individual dan sosial,” kata Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag, Achmad Gunaryo, dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Selasa (12/10/2021).

Menurut Gunaryo, dari sisi individu, kesalehan sosial masyarakat sangat tinggi, sayangnya capaian itu belum berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

“Hasil survei ini menjadi informasi penting bagi pemerintah dan organisasi keagamaan tentang potret kesalehan sosial masyarakat, serta bagaimana upaya meningkatkannya, terutama dalam dimensi sosial,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK), Adlin Sila. Menurutnya, masyarakat secara umum memberi perhatian tinggi atas kesalehan ritual. Padahal, fungsi agama itu menyempurnakan akhlak atau rahmatan lil alamin.

“Itu berarti kesalehan sosial penting. Selama ini, pengaruh agama belum signifikan dalam kemanusiaan, lingkungan, dan pemerintahan yang bersih. Penelitian ini, diharapkan mampu memprediksi apa yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Di keterangan yang sama juga diutarakan Ketua Tim Survei IKS, Abdul Jamil Wahab. Ia mengatakan bahwa ibadah dalam agama-agama ada yang bersifat ritual atau individual dan sosial.

Relasi keduanya bisa dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu: ibadah ritual dan sosial sama-sama tinggi, sama-sama rendah, ritualnya rendah dan sosialnya tinggi, atau ritualnya tinggi dan sosialnya rendah.

“Ini coba dibuktikan melalui riset atau survei sehingga diketahui bagaimana realitasnya. Jika ritual tinggi tapi sosial rendah, berarti keberagamaan belum kontributif bagi pembangunan nasional,” ujarnya.

Hasil survei juga menyatakan bahwa masing-masing independent variable (habitus, pengamalan ritual agama, pengetahuan agama, dan program Kementerian Agama), berkolerasi positif dan signifikan terhadap kesalehan sosial.

“Temuan ini sekaligus mengonfirmasi pentingnya meningkatankan variable-variabel tersebut bagi peningkatan kesalehan sosial masyarakat,” terang peneliti madya yang baru sepekan meraih gelar doktor ke-146 Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta ini.

Namun demikian, lanjut pria kelahiran Cirebon ini, IKS 2021 baru mengukur umat beragama dari enam agama besar: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Di berharap ke depan bisa mengukur IKS dari masyarakat beragama lainnya yang ada di Indoensia, termasuk kelompok Penghayat Kepercayaan.

“Selama ini, ada asumsi bahwa mereka memiliki kesalehan sosial tinggi, utamanya pada dimensi kepedulian yang tinggi dalam isu lingkungan dan budi pekerti. Hal ini perlu dibuktikan dalam survei sehingga bisa jadi best practices bagi yang lain,” pungkasnya.

Lihat juga...