Keuskupan Maumere Tanam Hortikultura Gunakan Sistem Irigasi Tetes

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Memanfaatkan lahan seluas sekitar hampir setengah hektare pihak Keuskupan Maumere mengembangkan sistem irigasi tetes meskipun secara manual.

“Sistem irigasi tetes yang diterapkan di kebun yang ada di kediaman Bapa Uskup Maumere masih semi otomatis,” kata Paulus Mik, petani milenial dari Kelompok Moeda Tani Farm, saat ditemui di Lepo Bispu, Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (18/10/2021).

Petani milenial dari Kelompok Tani Moeda Tani Farm yang memasang instalasi irigasi tetes, Paulus Mik saat ditemui di Lepo Bispu, Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (18/10/2021). Foto: Ebed de Rosary

Mik menyebutkan, pemasangan jaringan irigasi tetes dilakukan dengan menggunakan selang khusus yang didatangkan dari luar negeri karena memiliki lubang emiter dengan pola jarak tanam 20 sentimeter dan 40 sentimeter.

Dia menambahkan ada 2 lokasi bedeng yang dikerjakan dimana sebelumnya sudah dipasang 42 bedeng irigasi tetes di bulan Juli 2021 yang sudah ditanami cabai.

“Kami sedang memasang instalasi irigasi tetes lagi untuk 60 bedeng yang akan ditanami bawang merah. Untuk bawang merah jarak tanamnya 20 sentimeter sementara cabai menggunakan selang dengan jarak tanam 40 sentimeter,” jelasnya.

Mik mengakui sudah banyak lembaga dan petani di Kabupaten Sikka maupun kabupaten lainnya di Provinsi NTT yang mengaplikasikan tekonologi irigasi tetes termasuk Smart Farming.

“Sistem irigasi tetes termasuk menggunakan teknologi Smart Farming, juga telah dipasang di beberapa lahan pertanian di Pulau Jawa maupun Sulawesi. Kalau di NTT rata-rata dipergunakan untuk lahan seluas di bawah satu hektare,” jelasnya.

Ekonom Keuskupan Maumere,RD Fancy Sere menjelaskan, pihak Keuskupan Maumere tertarik mengaplikasikan sistem irigasi tetes karena merupakan salah satu metode pertanian yang hemat air, tenaga serta sangat cocok untuk digunakan di lahan kering yang kekurangan air seperti di NTT.

Romo Fancy mengatakan, sistem ini dipilih untuk tanaman hortikultura di lahan Lepo Bispu, kediaman Uskup Maumere karena sangat efektif dan lebih efisien dari berbagai aspek.

“Kami telah mencari tahu mengenai sistem irigasi tetes ini dari berbagai pihak yang berkompeten. Ternyata sistem ini sangat menguntungkan karena efisien dalam pemakaian tenaga kerja serta air,” ungkapnya.

Romo Fancy menambahkan, lahan yang mereka pergunakan di Lepo Bispu seluas sekira satu hektare yang dibagi menjadi dua bagian untuk tanaman cabai dan bawang masing-masing seluas setengah hektare.

Dia mengakui lahan yang dipergunakan selama ini tidak dimanfaatkan karena direncanakan untuk pembangunan rumah Keuskupan Maumere. Namun selama ini belum terealisasi sehingga dimanfaatkan dahulu untuk menanam hortikultura.

“Hasil panennya selain untuk konsumsi sendiri, juga akan dijual karena untuk pengolahan lahan dan instalasi sistem irigasi tetes memerlukan biaya yang relatif mahal,” ungkapnya.

Dirinya berharap agar sistem irigasi tetes yang dikembangkan di lahan tersebut menjadi kebun contoh agar bisa diaplikasikan di lahan lainnya yang ada di gereja-gereja di wilayah Keuskupan Maumere.

Lihat juga...