Kunci Keberhasilan Budidaya Tabulampot Anggur

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Keterbatasan lahan, rupanya tidak menjadi persoalan dalam budidaya tanaman anggur. Metode tanam buah dalam pot (tabulampot), bisa menjadi salah satu solusinya. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar budidaya tersebut dapat berhasil.

Petani sekaligus praktisi budidaya anggur, Donny Nur Arbayanto (tengah) saat dihubungi di Semarang, Senin (11/10/2021). Foto dok pribadi Donny Nur

“Keberhasilan budidaya tabulampot anggur, salah satunya dipengaruhi oleh faktor bibit yang digunakan. Pemilihan bibit ini bisa dibilang, paling mendasar yang harus dilakukan, apalagi jika akan menanam jenis anggur impor,” papar petani sekaligus praktisi budidaya anggur, Donny Nur Arbayanto, saat dihubungi di Semarang, Senin (11/10/2021).

Dijelaskan, pada umumnya, semua varietas anggur dapat dibudidayakan melalui metode tabulampot tersebut, baik anggur lokal seperti jenis Kediri Kuning, Prabu Bestari, Probolinggo Biru atau jenis lainnya. Termasuk juga untuk anggur impor, seperti jenis Ninel, Moondrop, hingga Jupiter.

“Bibit harus sudah cukup umur, kondisi sehat, serta memiliki batang awal yang kuat. Khusus untuk jenis impor, juga harus sudah disambung dengan anggur lokal, jadi batang bawah anggur lokal sementara batang atas dengan anggur impor,” lanjutnya.

Penyambungan tersebut diperlukan karena umumnya anggur impor, jika ditanam langsung pertumbuhannya tidak maksimal, karena dari negara asalnya mengenal empat musim. Sementara di negara tropis, seperti Indonesia, hanya dua musim.

“Jadi penyambungan tersebut, untuk memperkuat akar atau pun daya tahan tanaman anggur, terhadap perubahan cuaca di negara tropis,” tambahnya.

Donny menjelaskan, anggur merupakan jenis tanaman yang membutuhkan paparan sinar matahari langsung, sehingga tidak diperlukan peneduh, seperti paranet.

“Namun sebaiknya diberi pelindung atap dari plastik anti ultraviolet (UV), untuk melindungi dari paparan UV matahari yang berlebihan. Selain itu, melindungi dari hujan, sebab pohon anggur yang kerap kena hujan atau lembab, mudah terserang penyakit jamur,” lanjutnya lagi.

Sementara, agar pertumbuhan tanaman anggur dapat optimal, gunakan ukuran pot atau planterbak minimal 50 liter. Hal tersebut agar nutrisi yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia.

“Gunakan media tanam berupa kotoran kambing fermentasi 1 bagian, sekam bakar 1 bagian dan pasir kali 1 bagian. Dengan komposisi tersebut, maka media tanam akan bersifat porous, sehingga saat disiram, air akan langsung mengalir keluar dari pot. Media tanam menjadi basah, namun tidak becek, sehingga tidak berpotensi membuat akar busuk atau berjamur,” tandasnya.

Kunci keberhasilan lainnya, terletak pada pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman, berupa pemupukan yang teratur dan sesuai dengan peruntukannya.

“Pada awal penanaman gunakan pupuk pertumbuhan NPK, dengan komposisi 16: 16: 16, artinya pupuk seimbang. Sedangkan saat cukup umur dan tanaman mulai berbunga, gunakan pupuk pembuahan berupa KNO3, Boron dan MKP. Tujuannya agar buah tidak mudah rontok dan cepat besar,” lanjutnya lagi.

Umumnya, tanaman anggur dari hasil penyambungan dengan metode tabulampot akan mulai berbuah setelah 7 bulan usai ditanam. “Jadi relatif cepat, dibandingkan jika menanam menggunakan tunas dari biji,” tandasnya.

Sementara, petani anggur lainnya, Sigit Purnama, saat dihubungi menjelaskan, anggur merupakan tanaman merambat, sehingga harus diberi rambatan.

“Pada saat baru tumbuh, bisa diberi turus atau kayu rambatan, namun setelah mulai tinggi, bisa menggunakan tali yang ditempatkan di sekitar tanaman anggur. Jika tidak ada rambatan, maka buah tidak bisa tumbuh optimal,” ucapnya.

Layaknya tanaman budidaya lainnya, serangan hama juga patut diwaspadai, seperti ulat, belalang, kupu-kupu hingga kutu putih.

“Budidaya anggur itu mudah, asalkan kita mau merawat. Kalau dibiarkan apa adanya, anggur tetap akan berbuah, namun hasilnya tidak sebaik dan sebanyak jika dirawat,” pungkasnya.

Lihat juga...