Lestarikan Hutan dengan Pendekatan Agama

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Penanggulangan terhadap masalah pelestarian hutan harus dengan pendekatan moral melalui ajaran agama, sehingga manusia dapat memandang alam sebagai subjek kehidupan semesta.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI), Hayu S Prabowo mengatakan, Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia karena memiliki hutan yang sangat luas. Tapi kebakaran hutan yang melanda Indonesia setiap tahun membuat area hutannya semakin menyempit.

“Hutan memiliki peran sentral sebagai penghasil oksigen bagi manusia. Tapi, sejatinya kebakaran hutan adalah krisis moral. Ini karena manusia memandang alam sebagai objek bukan subjek dalam kehidupan semesta,” ujar Hayu, kepada Cendana News saat dihubungi, Rabu (6/10/2021).

Menurutnya, asap kebakaran hutan dan lahan berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Seperti kerusakan ekologis, penurunan pariwisata, dampak ekonomi dan permasalahan kesehatan.

Bahkan berdasarkan pengamatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tercatat 99 persen kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dapat dipastikan terjadi karena adanya campur tangan manusia. Yakni dengan cara membakar hutan dan lahan untuk dimanfaatkan.

Sejak tahun 1980-an pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan secara besar-besaran.

Kebakaran hutan, terutama di kawasan-kawasan gambut, berkontribusi besar pada tingginya emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh Indonesia.

Maka dari itu, menurutnya, tantangan dan persoalan iklim Indonesia seharusnya tertuju pada bagaimana sesungguhnya menanggulangi kebakaran hutan dan berupaya menguranginya. Langkah ini dapat berkontribusi pada upaya mengatasi perubahan iklim.

“Penanggulangan terhadap masalah pelestarian hutan ini, harus dengan pendekatan moral. Agama harus tampil berperan dengan penyadaran manusia agar menahan diri melakukan pembakaran,” ujar Hayu.

Karena meskipun dari tahun ke tahun, pemerintah telah mencanangkan pencegahan kebakaran hutan. Namun menurutnya, setiap tahun kebakaran hutan tetap terjadi sehingga perlu dilakukan revolusi mental melalui jalur agama dengan memberikan tuntunan agama.

Terpenting juga adalah menyertakan penetapan hukum syariah berupa fatwa agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah.

MUI kata dia, telah menerbitkan fatwa tentang pembakaran hutan itu haram hukumnya. “Nah, fatwa itu bertujuan meningkatkan kepedulian dan perubahan perilaku bagi masyarakat Indonesia yang
mayoritas muslim,” imbuhnya.

Dikatakan dia, bahwa kebakaran hutan yang melanda sebagian wilayah Indonesia tersebut merupakan ulah beberapa oknum yang memang disengaja untuk mencari keuntungan.

Tercatat di mana daerah kebakaran di Sumatera yang terbesar adalah kawasan hutan produksi 51 persen dan perkebunan 30 persen.

“Jadi sekitar 80 persen kebakaran terjadi di konsesi,” ujarnya.

Jika kondisi ini bisa segera ditangani menurutnya, maka masalah kebakaran bisa diatasi. Tepatnya kata dia, dicegah melalui perubahan perilaku dan peningkatan kepedulian.

Mengingat pesan sosial tentang lingkungan saat ini hanya mengandalkan Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga diperlukan suatu bentuk pesan sosial lainnya, berupa hukum normatif keagamaan.

“Pendekatan dengan bahasa agama dapat melengkapi pesan rasionalis sehingga pesan lebih persuasif dan memotivasi masyarakat untuk menjalani kehidupan lebih baik di dunia dan akhirat,” jelasnya.

Apalagi Indonesia merupakan negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Karena itu, pendekatan melalui ajaran Islam merupakan inisiatif perubahan perilaku terhadap lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam berakar pada keyakinan.

“Pendekatan nilai-nilai moral lingkungan yang bertumpu pada keyakinan atau agama perlu dilakukan untuk menimbulkan perubahan perilaku yang ada di masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...