Mahasiswa UPGRIS Ajari Cara Buat Hand Sanitizer

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Penerapan protokol kesehatan (prokes), menjadi upaya dalam  pencegahan penyebaran Covid-19, termasuk di antaranya mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Hal tersebut mendorong para mahasiswa baru Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), mengajak masyarakat untuk menerapkan prokes dengan disiplin, sekaligus mengajak menggunakan hand sanitizer buatan sendiri.

“Selain menggunakan sabun, hand sanitizer ini diperlukan untuk membersihkan tangan dari kuman atau virus. Ini menjadi upaya untuk menjaga kebersihan tangan, sekaligus melindungi diri dari paparan Covid-19,” papar Rektor UPGRIS, Dr. Muhdi, SH., M.Hum., di sela kegiatan pembuatan hand sanitizer secara massal di kampus IV, Jalan Gajah Raya Semarang, Jumat (1/10/2021).

Dipaparkan, hand sanitizer tersebut juga nantinya akan tetap diperlukan, meski pandemi Covid-19 sudah tidak ada lagi, sebab sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.

Rektor UPGRIS, Dr. Muhdi, SH., M.Hum., bersama mahasiswa baru, membuat hand sanitizer non alkohol, dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring terbatas di kampus IV, Jalan Gajah Raya Semarang, Jumat (1/10/2021). -Foto: Arixc Ardana

“Untuk itu, kita ingin ikut serta dalam mengedukasi masyarakat terkait gaya hidup sehat dengan penerapan prokes. Termasuk menggunakan hand sanitizer yang bisa dibuat sendiri di rumah, dengan bahan-bahan yang ada. Uniknya lagi, hand sanitizer ini tidak menggunakan alkohol, namun dapat berfungsi secara optimal layaknya hand sanitizer dengan alkohol,” tambahnya.

Dipaparkan, hand sanitizer dengan kearifan lokal tersebut menggunakan jeruk nipis dan daun sirih sebagai bahan utamanya. Dengan bahan-bahan alami tersebut, mahasiswa dan masyarakat pun bisa menanam pohon jeruk nipis dan sirih di rumah, untuk nantinya bisa diolah sebagai cairan pembersih tangan.

“Jika sebelumnya para mahasiswa kakak angkatan sudah melakukannya, kini para mahasiswa baru juga kita ajak untuk ikut serta dalam mengedukasi masyarakat terkait prokes ini. Hand sanitizer yang mereka buat, tidak hanya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, para mahasiswa juga mengedukasi tentang pembuatan hand sanitizer tersebut,” lanjut Muhdi.

Dengan cara tersebut, diharapkan gaya hidup sehat, dengan rutin menggunakan hand sanitizer untuk menjaga kebersihan tangan makin bisa ditanamkan di masyarakat. Apalagi, mereka bisa membuatnya sendiri.

“Sebenarnya kita juga membuat hand sanitizer dari ekstrak kulit kacang, namun untuk mengekstrak kulit kacang ini kan tidak mudah dan butuh waktu, jadi kita ajak masyarakat untuk membuat hand sanitizer dari daun sirih dan jeruk nipis, yang lebih mudah,” tambahnya.

Sementara, salah seorang mahasiswa baru UPGRIS, Deviana Pinky, memaparkan untuk membuat hand sanitizer tersebut, caranya cukup mudah.

“Pertama rebus segenggam daun sirih dengan dua gelas air, kira-kira 400 mililiter. Setelah air berubah warna, atau kira-kira tinggal satu gelas, matikan kompor. Tunggu hingga dingin, kemudian air rebusan tadi disaring,” terangnya.

Setelah itu, ambil jeruk nipis, potong dan peras hingga keluar airnya. Campur sari jeruk nipis dengan air rebusan daun sirih yang sudah disaring dengan komposisi 30:70. Misalnya, untuk 30 ml perasan jeruk nipis dicampur 70 ml air sirih.

“Sudah hanya seperti itu, sangat mudah. Hand sanitizer herbal ini pun bisa langsung digunakan. Untuk memudahkan penggunaan, kita menggunakan botol spray atau semprot, sehingga saat memakainya juga bisa langsung disemprotkan ke tangan,” terang mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling (BK) tersebut.

Dijelaskan, selain membuat untuk dibagikan kepada tetangga dan keluarga, dirinya juga mengaku mengedukasi terkait penerapan prokes hingga pembuatan hand sanitizer tersebut, sebagai upaya dalam pencegahan penyebaran Covid-19 hingga membentuk karakter pola hidup sehat.

“Awalnya juga tidak percaya kalau daun sirih dan jeruk nipis ini bisa sebagai hand sanitizer, namun setelah saya jelaskan, bahwa dalam kedua bahan tersebut terdapat senyawa atau zat yang bersifat antikuman dan antivirus, mereka juga tertarik untuk membuatnya sendiri, karena mudah dan murah,” pungkasnya.

Sementara itu pembuatan hand sanitizer yang diikuti ribuan mahasiswa baru UPGRIS, menghasilkan 16 ribu lebih botol hand sanitizer tersebut, juga mendapat apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (Muri), sebagai pemecahan rekor pembuatan hand sanitizer non alkohol terbanyak.

Lihat juga...