Mal yang Rusak Akibat Gempa di Ambon Mulai Diperbaiki

AMBON – Bangunan mal di Kota Ambon, Provinsi Maluku, yang rusak akibat gempa pada tahun 2019 mulai diperbaiki.

“Saat ini kita sedang dalam progres pekerjaan perbaikannya,” kata Manajer Umum Mal Ambon City Center (ACC) Thomas Lake di Ambon, Senin.

Perbaikan dilakukan untuk memastikan kondisi bangunan aman bagi pengguna, penyewa, pengunjung, dan warga sekitar mal.

Menurut Thomas, perbaikan bangunan maksimal memakan waktu sekitar empat bulan. “Di jadwal waktu pekerjaan, perbaikan secara keseluruhan kurang lebih tiga sampai empat bulan maksimal,” katanya.

Gempa dengan magnitudo 6,9 yang terjadi di wilayah Maluku pada 2019 menyebabkan bangunan rumah, fasilitas umum, dan pusat belanja di Ambon mengalami kerusakan.

​​​​​​Selain ACC, bangunan pusat perbelanjaan lain seperti Maluku City Mall (MCM) juga mengalami kerusakan, temboknya retak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Henri M. Far Far menyatakan, perbaikan bangunan milik swasta yang rusak akibat gempa menjadi tanggung jawab dari pemilik usaha.

“Pemerintah membantu perbaikan dan pembangunan rumah-rumah penduduk dan fasilitas umum, dan jumlahnya sangat banyak. Jadi untuk perbaikan mal adalah tanggung jawab pelaku bisnis,” katanya.

Sekretaris BPBD Ambon Eva Tuhumury menyatakan bahwa pemerintah sudah menyampaikan imbauan kepada pengelola pusat perbelanjaan untuk memperbaiki bangunan yang terdampak gempa pada 2019.

“Imbauan telah disampaikan ke pihak pengelola seperti Maluku City Mall, Ambon City Center, dan Ambon Plaza untuk melakukan perbaikan,” katanya.

Menurut data BPBD, gempa menyebabkan kerusakan empat unit bangunan pertokoan dan pusat perbelanjaan, tiga di Kecamatan Sirimau dan satu di Kecamatan Teluk Ambon Baguala.

Di Kecamatan Sirimau ada dua bangunan yang rusak ringan dan satu bangunan yang rusak sedang, sementara di Kecamatan Teluk Ambon Baguala ada satu unit bangunan yang rusak sedang.

“Kerusakan bangunan harus menjadi perhatian pengelola untuk memeriksa kerusakan yang terjadi pada struktur bangunan dan melakukan perbaikan, dengan memperhatikan bangunan tahan gempa,” kata Eva.

Ia menjelaskan, fasilitas umum lainnya yang terdampak gempa perbaikannya menjadi tanggung jawab kementerian terkait.

Bangunan yang rusak akibat gempa bumi pada kurun 26 September sampai 9 November 2019 total 1.706 unit, meliputi 1.631 unit rumah dan 75 unit bangunan lain.

Pada kurun 10 Oktober sampai 23 Oktober 2019, bangunan yang rusak akibat gempa total 1.648 unit, meliputi 1.630 unit rumah dan 18 unit bangunan lain.

Selama periode 12 November sampai 20 November 2019, bangunan yang rusak total 153 unit yang meliputi 145 unit rumah dan delapan unit bangunan lain.

Akademisi dari Fakultas Tenik Sipil Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon Desvi Maspaitella menjelaskan, tingkat kerusakan bangunan akibat sangat beragam.

“Dampak gempa di tempat-tempat umum dan mal ada yang masuk kategori ringan sampai berat. Kalau berat itu sampai strukturnya, kalau struktur bergetar sampai tulang sudah keluar atau bergeser itu (artinya) rusak berat dan butuh diperbaiki segera. Kalau kerusakan tidak mengganggu, maka tidak ada masalah,” kata Desvi.

Pemeriksaan perlu dilakukan pada fasilitas umum dan pusat perbelanjaan yang terdampak gempa untuk mengetahui tingkat kerusakan dan perbaikan yang dibutuhkan guna memastikan bangunan aman digunakan. (Ant)

Lihat juga...