Mancing di Waduk Setu Cipayung, Rekreasi Murah di Akhir Pekan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Memancing ikan, menjadi rekreasi murah yang dilakukan sebagian warga DKI Jakarta di akhir pekan. Seperti yang terlihat di Waduk Setu, Cipayung, Jakarta Timur, ramai pemancing duduk berjejer dengan tangan memegang kail. Dengan sabar terus melempar kail dan menariknya lagi, hingga ikan didapatnya.

Maman (60) warga Jatimurni, Bekasi, Jawa Barat, salah satu pemancing yang sengaja datang ke Waduk Setu,Cipayung untuk memancing ikan.

“Kalau hari minggu keliling aja saya yang penting bisa mancing. Dapat ikan atau nggak, itu urusan belakang. Yang penting refreshing karena kalau di rumah mulu nggak bagus untuk kesehatan, tubuh harus kena sinar matahari juga,” ujar Maman, kepada Cendana News ditemui di area Waduk Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (24/10/2021).

Menurutnya, memancing di Waduk Setu  menjadi alternatif wisata murah meriah karena tanpa harus mengeluarkan biaya. Ikan yang didapat pun beragam, di antaranya nila, mujair, emas dan bawal.

“Kalau ikannya mati, ya kita masak sampai di rumah itu. Kalau ikannya hidup, saya pelihara di rawat. Mancing ini hobi sekalian rekreasi bikin hati nyaman,” ujar Maman.

Maman, warga Jatimurni, Bekasi sedang mancing ikan di Waduk Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (24/10/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Menggunakan alat pancing sederhana, berupa kail dengan umpan cacing kecil yang dicari dari dalam tanah di kebun. Selain umpan cacing juga dengan pelet.

“Mancing kan kita juga nggak boleh merusak lingkungan dan habitat ekosistemnya. Ya pakai pancingan sederhana saja,” imbuhnya.

Dia memancing bersama teman-temannya, setiap akhir pekan dilakukan. Dengan tujuan untuk menghilangkan penat setelah sepekan bekerja. Apalagi, Maman adalah seorang sopir di perusahaan di daerah Jakarta, tentu wisata mancing menjadi pilihannya.

“Kerja mulu capai apalagi sopir. Pas libur ada kesempatan mancing untuk hiburan,” ujarnya lagi.

Demikian juga dengan Ahyar (28) pedagang Pasar Jatikramat menyempatkan diri setiap akhir pekan untuk memancing.

“Saya mah dagang di pasar libur, refreshing mancing di sini. Kadang mancing di balong  di daerah Jatiasih, Bekasi. Tapi di balong harus bayar, di Waduk Setu gratis,” ujar Ahyar.

Biasanya dia memancing seharian, hasil tangkapan ikan dipeliharaannya di akuarium di rumahnya. “Ini, saya dapat ikan nila dan mujair masih kecil-kecil. Saya pelihara nanti,” imbuhnya.

Menurutnya, Waduk Setu ini masih sangat banyak ragam ikannya sehingga tentu ekosistemnya harus terus dijaga agar tidak punah.

“Anjuran jangan mancing pakai jala itu bagus, untuk jaga ekosistem habitat ikan di waduk ini. Ya alat pancingnya sederhana saja apalagi kita kan sambil rekreasi mancing di sini,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah juga memperhatikan habibat ikan di waduk ini. Apalagi kata dia, pemerintah mencanangkan Waduk Setu ini menjadi area wisata mancing. Sehingga tentu kata dia, sarana prasana juga harus dibenahi, begitu juga dengan penambahan ikannya.

“Pemerintah mau jadikan waduk ini destinasi wisata sebagai pemuas hobi pemancing. Diharapkan banyak benih ikan yang ditabur di waduk ini,” tandasnya.

Andrianto (32) warga Cilangkap, Jakarta Timur, yang memancing mengajak istri dan anaknya mengatakan, dengan memancing di Waduk Setu sekaligus mengedukasi anaknya tentang alam anugerah Sang Pencipta. Juga mengajarkan anak tentang perjuangan mendapatkan sesuatu dengan penuh kesabaran.

“Memancing menjadi filosofi hidup, agar saat ingin mendapatkan sesuatu harus menyiapkan alat dan perjuangan. Proses menyiapkan umpan, menunggu dengan sabar, menjadi edukasi bagi  anak saya yang masih SD,” ujar Andrianto.

Selain itu, kata dia, memancing ini menjadi kegiatan olahraga. “Nah, mancing di ruang terbuka ini kan sekaligus mendapat sinar matahari dan aktivitas fisik untuk mendapat  kesehatan tubuh kita. Rekreasi pikiran jadi fress, tubuh sehat dan ikan dapat,” ujarnya sambil tertawa.

Lihat juga...