Manfaat Ilmu Epigrafi, dari Referensi hingga Inspirasi Ekraf

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Epigrafi sebagai suatu keilmuan memang tidak terlalu populer di masyarakat. Tapi, epigrafi memiliki banyak manfaat dari segi keilmuan, yaitu sebagai referensi dan dalam hal inspirasi di bidang ekonomi kreatif.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Judi Wahjudin, menyatakan dari segi keilmuan maupun komunitas, epigrafi akan mampu mendorong kemajuan kebudayaan Indonesia.

“Epigrafi ini memang belum terlalu populer di tengah masyarakat. Mereka hanya tahunya ini adalah pelajaran tentang masa lalu. Padahal, kajian epigrafi ini bisa dipelajari dengan siapa pun, karena terkait dengan kehidupan. Dan, epigrafi juga bisa terkait dengan ekonomi kreatif,” kata Judi dalam acara prakongres 2 epigrafi, Minggu (31/10/2021).

Sebagai contoh adalah penggunaan aksara epigrafi sebagai bagian dari fesyen atau desain. Atau digunakan sebagai nama gedung atau nama jalan.

“Berkembangnya komunitas yang memiliki basis keilmuan atau museum atau bahkan hanya minat bersama, bisa saling melengkapi dan dapat makin mengangkat epigrafi di masyarakat,” ucapnya.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Judi Wahjudin, menjelaskan manfaat kajian dan keilmuan epigrafi dalam aspek kehidupan keseharian, dalam acara prakongres 2 epigrafi, Minggu (31/10/2021). -Foto: Ranny Supusepa

Selain itu, kolaborasi komunitas atau individu dalam bidang epigrafi diharapkan dapat mengurangi kendala yang muncul dalan kajian epigrafi.

“Kendala utama kajian epigrafi itu ada dua, yaitu ketidaklengkapan data tertulis yang diakibatkan oleh keausan dan kerusakan dari suatu prasasti atau naskah, dan kurangnya pengetahuan akan bahasa yang digunakan pada tinggalan suatu prasasti atau naskah tersebut yang menimbulkan kesulitan bagi epigraf, untuk melakukan alih aksara dan menerjemahkannya,” katanya.

Judi menjelaskan, epigrafi dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Baik secara tata ruang maupun tata kelola aspek sosial dan politik dari suatu wilayah.

“Data epigrafi otentik dapat memberikan rekomendasi pemberian nama suatu wilayah. Terutama, wilayah pemekaran. Selain itu, data epigrafi juga mampu memberikan informasi terkait sistem regulasi dan tata kelola pemerintahan di masa lalu, yang dapat dijadikan referensi pada penyusunan regulasi dan pengambilan kebijakan di masa sekarang,” kata ahli arkeologi, yang mengkhususkan diri pada filologi ini.

Manfaat lainnya dari data epigrafi, adalah untuk menambah perbendaharaan kata dalam tatanan Bahasa Indonesia, dan bisa digunakan secara umum.

“Atau dalam hal tata wilayah, dapat memberikan informasi terkait batas wilayah yang bisa menjadi referensi penataan administrasi kewilayahan,” tuturnya.

Dalam elemen kebudayaan, epigrafi bisa menjadi referensi atas kesenian, tradisi, kuliner hingga teknologi dan peralatan. Sehingga bisa membantu pembinaan tenaga kebudayaan.

“Termasuk juga politik, hukum hingga terkait kepercayaan dan adat. Jadi, bisa menjadi referensi dalam pembinaan lembaga kebudayaan dalam membangun ekosistem kebudayaan,” tuturnya lagi.

Untuk mengembangkan epigrafi dalam mendukung kemajuan kebudayaan, Judi menyatakan pemerintah tak hanya mendorong dalam hal riset atau kajian, revitalisasi dan publikasi semata.

“Tapi juga melakukan pembinaan, baik melalui pelatihan, workshop maupun beasiswa pendidikan formal,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa dalam struktur Dirjen Kebudayaan yang dipimpin oleh Hilmar Farid, epigrafi akan bisa disinergikan dengan 6 direktorat yang ada.

“Dengan berkolaborasi, maka kita akan bisa secara nasional dan daerah untuk mengembangkan sesuai kompetensi dan kewenangan masing-masing,” pungkasnya.

Lihat juga...