Manfaatkan Pekarangan Kosong, Optimalkan Budi Daya Lidah Buaya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Komoditas pertanian yakni aloe vera atau lidah buaya, selama ini mungkin kerap dipandang sebelah mata karena hanya dikenal sebagai tanaman hias biasa. Padahal tanaman yang berasal dari daerah padang pasir ini sebenarnya memiliki manfaat luar biasa khususnya di bidang kesehatan dan kecantikan.

Tak heran bila sebenarnya lidah buaya, menjadi salah satu komoditas alternatif yang cocok untuk dibudidayakan. Seperti dilakukan salah seorang petani lidah buaya, Titik Kusnawati (55) warga Ngramang, Kedungsari, Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta.

Wanita yang tergabung dalam kelompok petani lidah buaya Kulonprogo ini membuktikan mampu mendapatkan penghasilan tetap dari bertani lidah buaya.

Selain rutin menjual lidah buaya ke pabrik sebagai bahan baku pembuatan produk kecantikan, ia juga mampu mengolah lidah buaya menjadi minuman sirup olahan untuk dijual secara mandiri.

“Sudah sekitar 4 tahun terakhir ini saya menjadi petani lidah buaya. Walaupun hanya sambilan, namun hasilnya ternyata lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya, Senin (11/10/2021).

Memanfaatkan pekarangan kosong di dekat rumahnya, Titik mengaku memelihara ratusan tanaman lidah buaya yang ia tanam dalam polybag. Yakni lidah buaya jenis Pontianak yang memiliki ukuran daging panjang dan besar.

“Awalnya saya ikut sekolah petani. Lalu mulai tertarik membudidayakan lidah buaya. Alasannya ya karena mudah ditanam, tidak butuh banyak perawatan, serta tidak ada hama,” ungkapnya.

Menurut Titik, tanaman lidah buaya bisa bertahan hidup hingga mencapai usia 8 tahun. Usia produktifnya terjadi setelah usia 1 tahun ke atas. Bagian yang dipanen pada tanaman lidah buaya adalah dagingnya.

“Awalnya saya dulu hanya punya 20 bibit. Saya beli dari anggota kelompok lain seharga Rp3 ribu per bibit. Sekarang jumlahnya sudah mencapai ratusan, karena lidah buaya sangat mudah dipencarkan,” katanya.

Titik mengaku rutin memanen lidah buaya setiap 5-7 hari sekali. Biasanya ia akan menyetor hasil panen tersebut ke kelompok untuk nantinya didistribusikan ke pabrik pengolahan lidah buaya. Sekali setor ia mengaku bisa mencapai 150 kilo.

“Kalau untuk pabrik, 1 kilo lidah buaya itu, dibeli dengan harga Rp3000 di tingkat petani. Tapi kadang bisa sampai Rp4000. Padahal satu iris daging lidah buaya jenis Pontianak beratnya antara 3 ons sampai 1 kilo. Jadi kalau kita punya banyak tanaman ya hasilnya lumayan,” katanya.

Sementara itu Midah (60) warga lainnya, mengaku membudidayakan lidah buaya karena manfaatnya yang bisa langsung diaplikasikan untuk keperluan sehari-hari. Selain bisa digunakan sebagai bahan pembuat makanan/minunan lidah buaya juga bisa digunakan untuk penyembuhan luka.

“Saya biasa menggunakan lidah buaya untuk mengobati luka gores atau luka bakar pada kulit. Dengan memakai cairan gelnya. Selain itu juga sebagai obat pencernaan seperti misalnya asam lambung dengan cara dimakan,” ungkapnya.

Lihat juga...