Mantan Mentan : Perlu Penerapan Smart Farming di Sektor Agribisnis

JAKARTA — Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan perlunya penerapan pertanian cerdas atau smart farming untuk menjawab tantangan yang dihadapi sektor agribisnis di Indonesia.

“Peran smart farming sangat bagus dalam membangun agribisnis. Tidak hanya hulu tapi juga hilir dan jasa penunjang untuk pertanian dan suplai chain,” ujarnya di Jakarta, Jumat.

Saat ini, tambahnya, dunia menghadapi tantangan kekurangan pangan, dunia membutuhkan produksi, sementara di sisi lain untuk mencukupi hal itu dihadapkan pada lahan semakin terbatas, serta iklim dan cuaca sulit diprediksi karena pemanasan global.

Untuk itu negara-negara berlomba cara menerapkan yang paling efektif dan efisien untuk menjawab tantangan dalam usaha agribisnis, lanjutnya, dan juga di Indonesia.

“Tidak hanya dunia, kita sebagai bangsa membutuhkan cara baru bertani yang cerdas atau smart farming, dengan dibantu sistem dan teknologi,” ujarnya dalam webinar bertema Solusi Digitalsasi Untuk Meningkatkan Profit dan Efisiensi.

Menurut Menteri Pertanian 2001-2004 itu, Indonesia tidak cukup hanya mengusahakan smart farming, karena sub sektor hulu atau on farm masih menjadi penghambat dari kemajuan hilir atau off farm.

“Maka smart farming harus luas kepada tahap agribisnis. Tidak bisa ada smart farming kalau lingkungan, layanan tidak smart juga. Layanannya sistem pupuk, irigasi,” kata Bungaran.

Meskipun demikian, menurut dia, teknologi canggih hanyalah alat bukan tujuan, karena teknologi buat pelaku utama yaitu para petani, tujuannya meningkatkan efisien, peningkatan pendapatan, dan mencegah kerusakan lingkungan.

“Teknologi canggih hanyalah alat bukan tujuan, kita perlu tingkatkan ini sesuai pada level. Pertanian bermacam-macam ada petani gurem, usaha manengah dan bermodal besar,” katanya.

Dikatakannya, perlu dibantu penjelasan sederhana tentang pertanian cerdas agar mudah dipahami, praktis untuk diajarkan kepada petani, selain itu alatnya harus disesuaikan dengan tingkatan petani.

Terkait digitalisasi pertanian, Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Retno Sri Hartati Mulyandari mengatakan, Strategi HORTI 2021-2024 yakni pengembangan kampung horti dari kampung buah, sayuran, tanaman obat dan penumbuhan UMKM.

Kampung hortikultura, tambahnya, dikemas satu kampung dengan semangat untuk meningkatkan ekonomi, serta terkonsep berskala ekonomi harus sesuai dengan kondisi agribisnis setempat.

Kemudian penumbuhan UMKM hortikultura bekerja sama dengan Kementerian Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), juga kerja sama dengan korporasi.

“Digitalisasi merupakan program antara ditjen dan stakeholders ini sangat penting untuk mewujudkan produktivitas dan nilai tambah produk horti. Smart farming sistem secara keseluruhan ada digitalisasi sistem dari hulu hingga hilir,” katanya.

Menurut dia, data produksi benih hortikultura, data perubahan iklim horti, serangan OPT bisa diakses online sistem. Digitalisasi standar mutu, apliaksi untuk registrasi kampung sayuran, buah, pembaharuan, tanaman obat, aplikasi blockchain hortikultura.

Sementara pemasaran horti, ada marketplace sebagai wadah promosi produksi, kepastian ketersediaan pasokan, informasi komoditas horti.

Digitalisasi hortikultura, sudah mulai bergerak dan teknologi dilaksanakan di agribisnis hortikultura, smart sistem juga sudah dilaksanakan di kampung-kampung. [Ant]

Lihat juga...