Marsekal TNI Fajar Prasetyo, “KENAPA TIDAK”?

OLEH: BRIGJEN TNI (PURN) DRS. AZIZ AHMADI, M.SC.

BULAN Oktober, boleh disebut sebagai bulan TNI. Di bulan kesepuluh inilah, TNI diukir dalam sejarah. Tepatnya, sejak 5 Oktober 1945, secara resmi dan profesional, TNI mulai “menyejarah”.

Melengkapi

Sama Oktobernya, tapi berbeda fokusnya. Kali ini, publik tidak bertanya hal-hal substantif. Bagaimana perkembangan TNI, setahun terakhir ini? Tapi, lebih fokus ke hal-hal praktis yang seksi. Kapan Panglima TNI (akan) diganti? Siapa, yang paling berpeluang menggantikannya?

Adalah, Selamat Ginting Suka. Wartawan senior dan pemerhati militer. Sekaligus, dosen/akademisi Universitas Nasional (Unas). Ia tanggap akan selera “pasar”. Ia jawab dengan analisa tajam dan komprehensif, seputar pergantian Panglima TNI, itu.

Melalui kanal Youtube, “Forum News Network (FNN)”, – yang digawangi oleh wartawan senior juga. Hersubeno Arif, namanya.

Ginting, antara lain mengemukakan : “Proses dan dinamika pergantian Panglima TNI saat ini, amat menarik dan dinamis. Melahirkan berbagai skenario dan dipengaruhi beberapa hal. (1) Relasi kekuasaan; (2) Tarik-menarik kepentingan (politik); dan (3) Beberapa faktor risiko”, – berupa domino/rangkaian peristiwa ikutan – yang mesti dipertimbangkan.

Tulisan ini, tidak untuk mengkritisi analisa yang sudah komplet itu. Apalagi, “vis a vis” hendak menanggapinya. Tulisan ini, hanya “melengkapi” untuk membulatkannya. Atau, sekadar tambahan elaborasi, untuk memperkaya informasi atas masalah terkait.

Suasana Galau

Patut diduga, proses pergantian Panglima TNI kali ini, dibarengi galaunya suasana kebatinan, di pihak Presiden. Galau, karena harus melepas “kepastian kenyamanan”, menuju  “ketidakpastian”.

Hal itu wajar saja, sebagai “sesuatu” yang mengiringi – walau untuk sesaat – terjadinya proses  pergantian suatu jabatan. Apalagi, terkait jabatan sestrategis Panglima TNI.

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, menjabat Panglima TNI sejak, 8 Desember 2017. Nyaris genap empat tahun (hanya kurang 8 hari). Durasi yang amat lama, tentunya.

Ini sekaligus menjadi bukti, jika Presiden merasa amat cocok, nyaman dan aman, bersama Marsekal Hadi. Di sini, tentu faktor subyektivitas (Presiden), amat menentukan.

Sependek yang penulis dapat catat, Panglima TNI ke-20 ini, menjabat paling lama dan (memang terlanjur) kelamaan. Memecahkan rekor terlama sebelumnya,  yang dipegang Panglima TNI ke-14, Jenderal TNI Endriartono Sutarto,  7 Juni 2002 – 13 Februari 2006.

Sayangnya, sudah kelamaan, tapi masih juga diulur (terus) sampai memasuki injury time. Wajar dan sah-sah saja, jika kemudian timbul berbagai analisa, komentar, dan  praduga-praduga.

Kedzaliman Baru

Pertanyaan kritisnya, apa dampak negatif (durasi jabatan yang terlalu panjang) bagi organisasi TNI? Ada dua yang amat menonjol dan signifikan : Pertama, organisasi TNI mengalami kejenuhan. Kedua, terjadi kemacetan proses regenerasi kepemimpinan.

“Kejenuhan”, lazimnya mengikis kesegaran dinamika organisasi. Menghambat kreativitas berpikir. Mendorong berbagai apatisme, dan menghalangi lahirnya prestasi dan inovasi.

Begitu pula dengan “kemacetan proses regenerasi”. Sangat mengganggu proses dan dinamika sirkulasi kepemimpinan. Bahkan amat menghambat hadirnya pemimpin baru, yang lebih fresh dan memberi harapan baru, bagi institusi TNI.

Pada kondisi seperti itu, cenderung terjadi ironi. Terjadi hal-hal yang sungsang, sifatnya. Disengaja atau tidak, di sini terjadi sebuah “kedzaliman baru”. Ada yang mestinya lebih berhak, tapi justru tidak mendapatkan haknya, karena lokomotif mbegegek di tempat. Tidak bergeser atau bergerak.

Sebaliknya, juga ada yang beroleh keberuntungan. Tetiba mendapat “rejeki nomplok”, alias “durèn gogrok”. Berlakulah ungkapan, “si dungu dapat dikalahkan si cerdas. Tapi si cerdas bisa dikalahkan oleh si bejo atau yang ketiban nasib baik”.

Multi Tafsir

Dasar hukum pergantian Panglima TNI, ada 3 (tiga) : Pertama, Tap MPR RI, No. VII/2000, tentang Peran TNI dan Polri, Pasal 3. Kedua, UU, No. 3/2002, tentang Pertahanan Negara, Pasal 17. Ketiga, UU No. 34/2004, tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pasal 13.

Dari ketiga dasar hukum itu, hanya UU No. 34/2004, yang cukup detail menjelaskan, “bagaimana prosedur dan mekanisme pergantian Panglima TNI”. Ini termuat dalam 10 Ayat, Pasal 13 tersebut.

Namun demikian, masih juga terjadi tarik-menarik dan relasi kepentingan yang tidak singkron, dalam setiap proses pergantian (calon) Panglima TNI. Satu sebabnya, terjadi “multi tafsir” terhadap Ayat (4), Pasal 13.

Ayat (4) ini, pada prinsipnya berbunyi : “Jabatan Panglima TNI, dapat dijabat secara bergantian, oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap Angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan”.

Kata “dapat”, bermakna mubah, atau bisa & boleh. Tidak harus/tidak wajib. Maksudnya, “bisa/boleh tidak bergantian”, atau, “tidak harus/tidak wajib bergantian”.

Sedangkan kata, “bergantian” itu sendiri – belum diikuti oleh aturan yang jelas. “Bagaimana pola/bentuk bergantian, itu”? Apakah : (1) Menggunakan pola, “gilir kacang/linear”? (AD, AL, AU; AD, AL, AU; AD, AL, AU). (2) Apakah berpola, “deret ukur/hitung”? (AD, AD, AL; AL, AU, AD; AD, AU, AU) ; dan (3) Atau dengan pola “perbandingan”? (2 : 1 : 1; 1 : 2  : 1; 1 : 1 : 2).

Tidak Relevan

Walau Ayat (4) tersebut multi tafsir, tapi di sana pulalah nilai bijaksananya. Menjadi luwes atau tidak kaku, dan tidak pula membelenggu atau menyulitkan, Presiden dan DPR.

Sesempurna apapun sebuah UU/aturan, pelaksanaannya sangat ditentukan oleh semangat penyelenggaranya. Kata kuncinya, tidak dijadikan dalih, untuk mengumbar subyektivitas diri (Presiden/DPR), secara liar dan berlebihan.

Oleh karenanya, menjadi tidak relevan, diskusi tentang usia calon, jumlah personel, dan lain-lain.

KSAD, misalnya. Dinilai berkurang elektabilitasnnya menjadi Panglima TNI, hanya karena satu tahun lagi pensiun. Tidak efisien dan efektif lagi, katanya.  Padahal, efisiensi dan efektivitas kepemimpinan, tidak ditentukan semata oleh durasi bertugas. Tapi lebih bertumpu pada integritas, komitmen, visi, dan strong leardership, yang dimilikinya.

Satu tahun, bahkan satu hari sekalipun tidak masalah. Asalkan,  “mampu mengubah jerami menjadi emas”. Niscaya itu lebih bagus, dari pada menjabat bertahun-tahun. Namun hasilnya, hanya “membikin harimau menjadi kucing”, misalnya.

Sama tidak relevannya, menjadikan faktor jumlah prajurit, sebagai alasan untuk mendapat jatah (bergantian), yang lebih sering, dari lainnya.

Setiap matra, memiliki sifat dan ciri khas sendiri. Dari (+/-) 400.000-an personil prajurit TNI, hampir ⅔-nya prajurit Angkatan Darat. Matra darat (TNI AD) sifatnya, “awak yang dipersenjatai”, alias, padat penduduk. Sedangkan matra laut dan udara (TNI AL & AU) sifatnya, “senjata yang diawaki”, alias, padat teknologi. Jadi, klaim “padat penduduk” mesti bisa diredam dengan “padat teknologi”.

Kenapa Tidak?

Diskusi dan diskursus tentang calon pengganti Panglima TNI, juga terasa makin tidak adil dan bijaksana. Manakala, hanya berkutat pada sosok KASAD dan KASAL. Manakala, sejak pagi-pagi sudah tidak melibatkan Kepala Staf TNI AU (KSAU).

Alasannya terlalu lucu dan dicari-cari. Hanya karena pejabat yang akan diganti (incumbent), berasal dari matra yang sama (TNI AU). Memangnya, kenapa jika dari matra yang sama?

Marsekal TNI Fajar Prasetyo – KSAU – justru paling eligibel menjadi Panglima TNI.

Dari sisi profesioalisme, disiplin dan loyalitas, semua Kepala Staf Angkatan, tentu tak perlu diragukan lagi.

Dari sisi kepatutan dan kelayakan (fit & proper), pastilah yang the good dan the best, di Angkatan/matra, masing-masing.

Dari sisi usia? Dihadapkan dengan usia pensiun, Marsekal TNI Fajar Prasetyo, SE, M.P.P, paling ideal. Ia lahir, 9 April 1966 (usia baru 55 tahun). KSAU ke-23 ini, memiliki waktu yang cukup untuk menjadi Panglima TNI. Masih ada tiga tahun, sebelum pensiun.

Sementara KASAL ke-22, Laksamana TNI Yudo Margono, SE, MM, adalah lulusan AAL XXXIII/1988. Lahir, 26 Nopember 1965 (usia 56 tahun). Tersisa (+/-) dua tahun lagi, menuju pensiun.

Adapun KASAD, Jenderal TNI Andika Perkasa, SE, MA, M. Sc, M. Phil, Ph. D, merupakan lulusan Akmil 1987. Lahir, 21 Desember 1964 (usia 57 tahun). Kasad ke-22 ini, hanya tinggal (+/-) satu tahun lagi, menuju pensiun.

Lebih dari itu, dari aspek moral dan tradisi/budaya kepemimpinan dalam militer. Marsekal TNI Fajar Prasetyo, relatif paling mulus, dibandingkan lainnya. Publik, tidak punya catatan atau imajinasi negatif, terhadap KSAU.

Tidak ada, resistensi permasalahan yang membebaninya. Juga, tidak ada kesenjangan ekspektasi, saat menjabat sebagai KSAU, selama ini. Jadi, KSAU punya posisi tawar paling tinggi dari aspek moral dan tradisi kepemimpinan dalam militer/TNI.

Hal ini sesuai dengan penjelasan Pasal 13 Ayat (2), UU No. 34/2004, sebagai berikut :

“Yang dimaksud dengan persetujuan DPR (terhadap calon Panglima TNI yang diajukan oleh Presiden) adalah, pendapat berdasarkan alasan dan pertimbangan yang kuat tentang aspek moral dan kepribadian, berdasarkan rekam jejak”.

Point-nya, Marsekal TNI Fajar Prasetyo, SE, M.P.P, paling tepat, patut dan layak, dipilih Presiden dan DPR, menjadi (calon) Panglima TNI. Kenapa Tidak? ***

Lihat juga...