Masyarakat Kampung Cibunut Optimalkan Kebiasaan Pilah Sampah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Sejak tahun 2015 masyarakat Kampung Cibunut yang berlokasi di Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur, Kota Bandung, Jawa Barat telah membangun kebiasaan memilah sampah rumah tangga.

Tak heran, jika kampung ini telah meraih berbagai penghargaan baik di tingkat regional maupun nasional sebagai kampung yang mampu mengelola sampahnya dengan baik, serta menyabet predikat eco village.

Herman Sukmana, Ketua RW setempat mengatakan, bahwa sejak tahun 2015 Kampung Cibunut memang telah bertekad menjadi kampung bebas sampah. Hal itu dimulai dari mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah.

“Kami dirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Oh Darling, yang kepanjangannya itu Orang Hebat Sadar Lingkungan. KSM ini bergerak mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah dan lingkungan,” ujar Herman, Rabu (6/10/2021) di kampung Cibunut.

Seiring berjalannya waktu, Oh Darling juga berkembang menjadi bank sampah. Menurut Herman, keberadaan bank sampah itu semakin menyemangati masyarakat setempat untuk membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah.

“Sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus dijual ke bank sampah. Sementara sampah organik kita kumpulkan dalam satu wadah dan kita lakukan komposing untuk jadi pupuk,” tandas Herman.

Lebih lanjut, sampah yang dikumpulkan oleh bank sampah Oh Darling kemudian disuplai langsung kepada industri pengolahan.

“Kita berikan bahan-bahan terbaik kepada industri. Jadi bank sampah ini tidak saja memberikan dampak langsung kepada lingkungan tapi juga membangkitkan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Herman.

Sementara itu, Tyas Indira, salah seorang warga setempat mengaku, sudah tidak sulit memilah sampah, karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang terbangun di rumahnya.

“Dulu waktu awal memang sulit sekali, tapi karena sudah terbiasa, jadi saat ada sampah pikiran itu bergerak otomatis, sampah organik tempatnya di mana, sampah anorganik tempatnya di mana,” kata Tyas.

Selain itu, Tyas merasa sangat senang dengan adanya bank sampah, karena sampah-sampah yang dihasilkannya tersebut menjadi memiliki nilai manfaat.

“Walaupun memang tidak besar tapi saat pencairan tabungan sampah, rasanya itu senang banget. Kadang 6 bulan bisa dapat Rp1 juta. Ada nilai ekonomi dan ada nilai kelestarian lingkungannya juga, senanglah kita sebagai warga,” pungkas Tyas.

Lihat juga...