Mencegah Orang-Orang Munafik Berkuasa

OLEH: HASANUDDIN

PENDERITAAN yang dialami suatu masyarakat, kerusakan moral dan berbagai akibatnya, seringkali ditimbulkan oleh orang-orang munafik yang berkuasa pada suatu negeri.

Allah swt mengingatkan perihal ini dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ

Wa minan-nāsi may yu‘jibuka qauluhū fil-ḥayātid-dun-yā wa yusyhidullāha ‘alā mā fī qalbihī wa huwa aladdul-khiṣām.

“Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (Q.S Al-Baqarah [2] : 204).

Ayat ini membicarakan perihal adanya sekelompok manusia yang sangat pandai dalam membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi. Dan bila perlu mereka akan tidak segan-segan bersumpah bahwa apa yang ia sampaikan sesuai kata hatinya, semata hanya untuk meyakinkan orang lain, agar “proposal urusan duniawinya” bisa diterima khalayak ramai.

Mufassir seperti Al-Razi, percaya bahwa frase ayat “diantara manusia” ini berlaku umum. Bukan hanya menyinggung karakter manusia pada masa nabi.

Sementara itu untuk frase kalimat “penentang yang paling keras” (pada terjemahan The Message “lawan yang paling sengit dalam perselisihan”), menurut Al-Zajjaj (dikutip juga oleh Al-Razi), ungkapan ini menunjukkan seseorang yang selalu mampu mengalahkan lawannya dalam perdebatan dengan menggunakan argumen lihai dan seringkali menyesatkan.

Muhammad Asad, mengatakan jelaslah bahwa ini mengacu kepada yang (semata) mengandalkan rasional dan bahkan mengagumkan berkenaan dengan ihwal perbaikan masyarakat dan nasib manusia di muka bumi, tetapi pada saat yang sama, menolak dibimbing oleh sesuatu yang dia anggap sebagai “pertimbangan esoterik” (batiniah), seperti kepercayaan kepada kehidupan setelah mati–dan menjustifikasi perhatiannya yang terbatas hanya pada urusan dunia, dengan menggunakan argumen yang sepertinya masuk akal dan penekanan terhadap sasaran etis mereka sendiri.

“Mereka menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya”, ini terkait dengan mentalitas kaum “munafik” yang dibahas pada ayat 8-12 pada surah Al-Baqarah. (Selengkapnya lihat pada tafsir The Message).

Selanjutnya Allah swt berfirman:

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

Wa iżā tawallā sa‘ā fil-arḍi liyufsida fīhā wa yuhlikal-ḥarṡa wan-nasl, wallāhu lā yuḥibbul-fasād.

“Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (Q.S Al-Baqarah [2] : 205).

Di sampaing keburukan hati, juga apabila ia berpaling, yakni meninggalkan kamu di tempat lain sehingga kamu tidak bersama mereka, ia berjalan giat dan bersungguh-sungguh di seluruh penjuru bumi untuk melakukan kerusakan padanya sehingga  merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak .

Maksudnya ia giat menyebarkan isu negatif dan kebohongan serta melakukan aktivitas yang berakibat kehancuran dan kebinasaan bagi masyarakat. Sungguh Allah akan menjatuhkan siksa kepada mereka, karena Allah tidak menyukai pengrusakan.

firman-Nya Al-Harts wan nasl yang di atas diterjemahkan dengan tanaman dan binatang ternak dapat juga dipahami dari arti wanita dan anak-anak, yakni mereka melakukan kegiatan yang melecehkan wanita serta generasi muda. Al-Qur’an menamai istri ladang/tanaman, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 223.

Bila kata tawalla dipahami dalam arti memerintah, maka tipe manusia ini adalah sangat pandai berbicara, menawarkan program-program yang menakjubkan, hingga akhirnya ia terpilih sebagai penguasa. Tetapi ketika berkuasa, ia melecehkan wanita dan generasi muda, serta melakukan aneka pengrusakan. Lihat selengkapnya pada Tafsir Al-Misbah.

وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Wa iżā qīla lahuttaqillāha akhażathul-‘izzatu bil-iṡmi fa ḥasbuhū jahannam, wa labi’sal-mihād.

“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk.” (Q.S Al-Baqarah [2] : 206).

Pada tafsir Al-Manar, Syeikh Muhammad Abduh, yang mengutip pandangan tafsir Al-Razi atas ayat ini frase “istri dan ladang-ladang kalian”, berarti pengrusakan ladang dan keturunan” di sini sama artinya dengan penjungkirbalikan kehidupan keluarga dan akibatnya kerusakan seluruh struktur sosial.

Penafsiran ini, memberi penekanan terhadap sikap mental yang terkandung dalam ayat di atas,. Yakni segera setelah sikap mental yang digambarkan secara umum itu diterima, dan menjadi basis perilaku sosial, tak pelak lagi hal itu akan menimbulkan kehancuran moral yang tersebar luas dan menyebarkan disintegrasi sosial. Demikian Muhammad Asad dalam tafsir The Message.

Orang seperti ini, jika diingatkan oleh siapa pun agar “bertakwa kepada Allah”, justru akan memicu sikap sombong dan angkuh dalam dirinya, sehingga ia akan lebih banyak melakukan dosa (pengrusakan).

Banyak orang yang lupa diri setelah memperoleh kekaguman, bertindak sewenang-wenang, dan merasa selalu benar sehingga tidak bersedia menerima saran apalagi teguran. Ini terjadi bukan hanya pada penguasa-penguasa besar, tetapi juga yang merasa kuat dan merasa berkuasa.

Allah mengancam mereka, bahwa jika demikian itu sikapnya, enggan menerima saran dan teguran, maka cukuplah balasannya baginya yakni di akhirat nanti neraka jahannam, sungguh neraka jahannam itu seburuk-buruk mihad (ayunan).

Ayat ini memberi isyarat bahwa Allah tidak turun tangan mencegah orang munafik berkuasa, tidak juga mencegah mereka melakukan pengrusakan. Allah hanya menjanjikan siksa di akhirat buat mereka. Adapun di dunia, mereka harus dihadapi oleh orang mukmin sampai aktivitasnya terhenti.

Salah satu upaya tersebut adalah menasihati, menegur, dan membuka kedoknya, sehingga ia tahu bahwa orang-orang mukmin tidak terperdaya oleh ucapan-ucapannya. Demikian penjelasan Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah.

Semoga catatan ini dapat menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, untuk lebih peduli memperhatikan situasi masyarakat, terutama dalam urusan memilih pemimpin di kalangan mereka.

Dan semoga kita terhindar dari berkuasanya suatu rezim pemerintahan yang dijalankan dengan sifat-sifat kemunafikan. ***

Jumat, 1 Oktober 2021

Lihat juga...