Metode Tanam Jarwo, Cara Atasi Keterbatasan Lahan Persawahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Keterbatasan lahan di Kota Semarang, menuntut adanya teknik pengelolaan pertanian, sehingga mampu menghasilkan produktivitas secara optimal. Termasuk dalam budidaya padi khususnya di lahan persawahan.

“Selain menggunakan metode ubinan, dalam memperkirakan hasil panen pertanian pada tanaman palawija, seperti padi, jagung dan lainnya kita juga memperkenalkan metode tanam padi sistem jajar legowo atau jarwo 2 :1 ,” papar Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi di Semarang, Senin (11/10/2021).

Dijelaskan, jarwo 2: 1 merupakan sistem tanam padi, dimana setiap dua baris tanaman diselingi dengan satu barisan kosong, dengan jarak dua kali jarak tanam antar baris. Aturannya, 20 centimeter jarak antara baris, 10 cm barisan pinggir dan 40 cm barisan kosong.

“Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan hasil panen dari lahan yang terbatas tersebut, sehingga kuantitasnya dapat meningkat,” terangnya.

Dijelaskan, dengan metode tersebut, populasi tanaman padi per hektare bisa bertambah hingga 2,5 persen. Hal tersebut tentu berbanding lurus dengan produktivitas panen yang diperoleh, juga ikut bertambah hingga 7-15 persen.

“Keuntungan lainnya, dengan sistem ini, mempermudah dalam pemeliharaan terutama pemupukan dan penyiangan. Selain itu, penyinaran matahari juga optimal sebab seluruh barisan padi berada di pinggir, sirkulasi udara berjalan optimal, sehingga padi pun tumbuh dengan sehat,” lanjut Hernowo.

Hernowo menandaskan metode penanaman padi jarwo 2: 1 tersebut terus disosialisasikan kepada para petani, melalui petugas pertanian lapangan (PPL), yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Semarang.

“Apalagi, saat ini lahan persawahan di Kota Semarang, hanya sekitar 2.300 hektar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang mencapai 1,6 juta jiwa, perlu upaya dan inovasi dalam meningkatkan hasil pertanian,” terangnya.

Di satu sisi, pihaknya juga terus mendorong kedaulatan pangan keluarga, termasuk beras, dengan menanam padi di rumah masing-masing dengan sistem pot.

“Metode padi dalam pot tersebut, sifatnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam keluarga. Menggunakan padi jenis Barona yang dapat tumbuh subur di lahan basah. Setelah berusia 113 hari, padi tersebut dapat dipanen,” tandasnya.

Sementara, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertan Kota Semarang, Shoti’ah memaparkan, penerapan metode jajar legowo selain meningkatkan populasi pertanaman, juga mampu dapat berfotosintesis lebih baik, sehingga hasil produksi dapat meningkat.

“Penerapan sistem jarwo 2: 1, disarankan menggunakan jarak tanam 25×12,5×50 cm atau 20x10x40 cm. Dengan demikian, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan, jumlah bibit padi yang ditanam jadi bertambah banyak, yang harapannya, juga sebanding dengan peningkatan hasil panen,” pungkasnya.

Lihat juga...