Museum Bikon Blewut Simpan Jejak Kebudayaan Flores Purbakala

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Museum Bikon Blewut di kompleks Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyimpan banyak artefak dan koleksi sejarah dan budaya masa lampau.

“Museum Bikon Blewut merupakan salah satu situs budaya, sejarah dan pengetahuan yang penting untuk Flores,” kata Ketua Komunitas Kahe, Eka Putra Nggalu, saat ditemui di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Minggu (10/10/2021).

Eka menyebutkan, museum ini menyimpan jejak kebudayaan Flores purbakala karena mengoleksi fosil manusia purba Flores dan alat-alat perunggu serta keramik di masa lampau.

Ia menyebutkan, di satu sisi museum memberi pintu masuk bagaiman kita melihat sejarah gereja, serta bagaimana pengetahuan modern berkembang di Flores.

“Melihat Museum Bikon Blewut, di satu sisi kita melihat bagaimana pendidikan yang dimotori misi Katolik berlangsung di Flores,” ungkapnya.

Eka mengatakan, Museum Bikon Blewut sebagai tempat merawat dan mengerangkakan sejarah Flores, budaya, pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Lanjutnya, kerja kuratorial Piet Petu, SVD secara tegas ingin membangun museum Bikon Blewut sebagai contact zone.

Dirinya ingin meretas pola-pola representasi yang kerap ditemui di museum-museum luar negeri, yang dalam banyak kasus jatuh pada saintisme di satu kutub dan eksotisme di kutub yang lain.

“Bagi Piet Petu SVD, museum haruslah sinkronis sekaligus diakronis, universal sekaligus spesifik,” sebutnya.

Eka menambahkan, menurut Piet museum wajib merepresentasikan konteks-konteks khas dari artefak-artefak yang tidak datang dari vakum budaya tertentu. Sekaligus membangun wacana global dan pemaknaan yang tertuju pada nilai-nilai universal.

Menurut Piet, museum harus merawat nilai-nilai tradisional, lokal, dan kontekstual dari suatu entitas budaya.

“Museum sekaligus terus-menerus menjadikan unsur-unsur budaya tersebut relevan bagi masyarakat, dan terutama lingkungan didekatnya,” tuturnya.

Sementara itu menurut penjaga Museum Bikon Blewut, Endi Padji, museum ini mulai aktif melakukan koleksi sejak 1983 oleh Pater Piet Petu, SVD, meskipun sudah mulai dibuka pada 1965.

Endi menyebutkan, lebih banyak kunjungan berasal dari wisatawan dan peneliti dari luar negeri, sementara masyarakat lokal sangat jarang  sekali, kecuali anak-anak sekolah yang belajar sejarah.

“Museum tidak memiliki dana, karena dilarang mengutip uang dari pengunjung, kecuali sumbangan sukarela dari pengunjung saja. Kalau dulu ada dana dari Pater Piet Petu, SVD, baik dari dana pribadi maupun dari Roma,” ungkapnya.

Lihat juga...