Nasi Ayam Khas Semarang, Perpaduan Sego Liwet, Krecek dan Kuah Opor nan Lezat

Editor: Maha Deva

Sajian komplit nasi ayam khas Semarang, dengan potongan telur, tahu putih, sayur labu manis dengan krecek, serta suwiran daging ayam, yang diguyur dengan kuah opor - Foto Arixc Ardana

SEMARANG – Ingin menikmati sarapan atau makan makan malam di Kota Semarang. Nasi ayam mungkin bisa menjadi pilihan.

Seporsi nasi, lengkap dengan potongan telur rebus, tahu putih, sayur labu manis dengan krecek, suwiran ayam, yang diguyur kuah opor, menjadikan menu ini cocok untuk mengisi perut yang kelaparan. Menu akan semakin nikmat dengan tambahan beragam lauk pendukung seperti, sate ayam, sate telur puyuh, sate usus, kepala dan sayap ayam, kerupuk, hingga aneka gorengan.

Ada banyak warung makan di Semarang, yang bisa dituju untuk menikmati sajian nasi ayam khas semarangan tersebut. Seperti di kawasan Simpanglima, ataupun di wilayah Karangtempel dan Halmahera, Sidodadi Semarang, banyak pedagang yang bisa ditemui. “Saya sudah berjualan nasi ayam ini, sejak harganya masih Rp50 per-porsi, itu sejak 1970-an, sampai sekarang. Ya jualannya nasi ayam ini,” papar Muryati, atau akrab dipanggil Bu Mur, pedagang nasi ayam di kawasan Karangtempel Semarang, Sabtu (9/10/2021).

Berpuluh tahun berjualan nasi ayam, Murtiyah mengaku menu tersebut sudah mendapat tempat di hati para pelanggannya. Dagangan tetap ramai, meski saat ini sedang pandemi COVID-19. “Saya setiap hari berkeliling di wilayah Karangtempel dan sekitarnya, mulai pukul 06.00 WIB, jadi biasanya yang membeli masyarakat yang butuh sarapan atau makan pagi. Baru kemudian sekitar pukul 09.00 WIB, saya mulai jualan disini, di depan kantor kelurahan Karangtempel, sampai dagangannya habis,” terangnya.

Muryati, atau akrab dipanggil Bu Mur, pedagang nasi ayam di kawasan Karangtempel Semarang, Sabtu (9/10/2021) – Foto Arixc Ardana

Bu Mur menyebut, untuk mengolah nasi ayam, tidak berbeda jauh dengan membuat lontong atau nasi opor. Hanya saja agar rasa nasinya lebih gurih, maka cara memasakanya ditanak menggunakan santan kelapa. “Nasinya dimasak dengan air santan, bukan air biasa, jadi rasanya lebih gurih. Sementara dalam sajiannya diberi sayur labu manis dengan krecek atau kulit sapi, telur rebus, suwiran ayam, tahu putih, kemudian diberi kuah opor,” terangnya.

Penggemar nasi ayam di Semarang disebutnya masih banyak. Hanya saja akibat COVID-19, dengan pembatasan yang dilakukan, jumlah pembeli menjadi berkurang. “Biasanya anak sekolah dan kuliah juga banyak yang beli, apalagi di sekitar sini, ada banyak sekolah termasuk ada kampus UPGRIS, namun karena pandemi, semuanya jadi sekolah online, jadi pembelinya berkurang,” tandasnya.

Meski demikian, Murtiyah tetap bersyukur, di tengah keterbatasan tersebut, rezekinya masih mengalir, karena nasi ayam dagangannya masih laku.  “Kalau ramai bisa dapat Rp 500 ribu, kalau sepi, ya separuhnya. Jadi tidak tentu. Namun syukur Alhamdulillah, masih diberi kesehatan dan tetap bisa berjualan,” tandasnya.

Salah seorang pembeli, Ahmad Ripai mengaku, meski tidak setiap hari, namun seminggu dua sampai tiga kali dirinya dipastikan menikmati menu nasi ayam tersebut. “Rasanya enak, gurih, isinya juga komplit, ada ayam, telur, krecek, tahu, sayur labu, jadi mengenyangkan. Harganya juga murah Rp10 ribu per porsi,” papar pengajar di UPGRIS tersebut.

Nasi ayam, menjadi salah satu makanan khas Semarang yang digemarinya. “Bahkan kalau ada teman dari luar kota datang ke Semarang, biasa saya ajak menikmati nasi ayam ini, tapi di kawasan Simpanglima. Disana buka hingga malam hari,” pungkasnya.

Lihat juga...