NTT Tiga Besar Kasus Rabies di Indonesia

Editor: Makmun hidayat

MAUMERE — Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati urutan 3 besar kasus positif rabies akibat gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) kepada manusia dan dapat menyebabkan kematian pada korban.

“Selama tahun 2021 hingga bulan Juni, Provinsi NTT menempati posisi ketiga terbanyak kasus positif rabies,” kata dr. Asep Purnama, SpPd, Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata saat ditemui di RS TC Hillers Maumere,  Sikka, Jumat (1/10/2021).

Asep menjelaskan, selama tahun 2021 hingga bulan Juni, 3 besar kasus positif rabies terbanyak pertama NTB dengan jumlah kasus positif rabies sebanyak 164 kasus. Lanjutnya, posisi kedua ditempati Provinsi Bali dengan jumlah kasus positif rabies sebanyak 97 dan disusul NTT dengan jumlah kasus sebanyak 30 kasus gigitan.

“Untuk tahun 2021 saja sesuai data, di Flores sudah 5 orang meninggal karena rabies. Kelima korban ini meninggal karena tidak dicegah dengan cara divaksin rabies,” ungkapnya.

Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr. Asep Purnama, SpPd saat ditemui di RS TC Hillers Maumere, Jumat (1/10/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Asep memaparkan, kasus rabies di Indonesia tahun 2018 dengan jumlah gigitan dari HPR sebanyak 80.617 gigitan dan korban meninggal berjumlah 111 orang. Sambungnya, tahun 2019 jumlah kasus gigitan meningkat menjadi 100.826 kasus gigitan HPR dan korban meninggal sebanyak 105 orang.

Ia menjelaskan, untuk tahun 2020 jumlah kasusnya turun menjadi 82.634 kasus gigitan dari HPR yang mengakibatkan korban meninggal sejumlah 47 orang.

“Anjing yang menggigit biasanya dilepasliarkan dan tidak dirawat. Kalau anjing yang dirawat biasanya divaksin secara teratur dan dijaga kesehatannya,” ucapnya seraya menegaskan, anjing yang tidak terawat hanya dipelihara dan dilepas saja berkeliaran oleh pemiliknya.

Ia menambahkan, untuk tahun 2021 hingga bulan Juni jumlah kasus positif rabies sebanyak 23.286 gigitan dari HPR yang mengakibatkan sebanyak 27 orang meninggal dunia. Dirinya menduga tahun 2021 orang sudah mulai keluar rumah karena Covid-19 sudah menurun sementara vaksinasi rabies pada anjing rendah sehingga kasus rabies mulai marak.

“Kalau semua anjing divaksin maka manusianya selamat. Diduga tahun 2020 vaksinasi menurun dan petugas vaksinasi juga jarang lakukan vaksinasi. Warga juga jarang keluar rumah sehingga kasusnya menurun dibandingkan tahun 2019,” terangnya.

Sementara itu, Elisabeth Agnes Hera, warga Kelurahan Wairotang mengakui, anaknya yang berumur 8 tahun pernah dirawat di RS TC Hillers Maumere karena digigit anjing, Kamis (18/6).

Elisabeth mengatakan, anaknya sempat divonis positif Covid-19 dan dirawat di ruang paviliun khusus pasien Covid-19 dan mendapatkan penanganan hingga disuntik antibiotik dan obat anti-rabies.

“Anak saya digigit anjing milik tetangga kami dan saat dibawa ke rumah sakit divonis Covid-19. Anak saya pun menjalani rawat inap di rumah sakit selama tiga hari dan diperbolehkan pulang setelah dinyatakan sembuh,” ungkapnya.

Lihat juga...