Panti Dymphna Maumere Buka Warung Makan Cukupi Kebutuhan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Untuk memenuhi kebutuhan keuangan, Panti Dymphna yang khusus merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) membuka beberapa warung makan dan usaha lain, sehingga tidak hanya mengharapkan bantuan donatur.

Koordinator Umum Panti Dymphna, Dionisius Ngeta, kepada Cendana News mengaku pihaknya tidak memiliki donatur tetap, hanya ada donatur tidak tetap yang terdiri dari individu dan kelompok.

“Kita membuka tiga warung makan di Pasar Alok di samping Kampus Universitas Nusa Nipa (Unipa) Indonesia dan di sebelah barat Panti Dymphna untuk membiayai operasional panti,” sebut Dionisius, saat ditemui di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (26/10/2021).

Dionisius menyebutkan, pihaknya juga membuat aneka kue serta warung kopi, mendapatkan dana melalui Youtube serta bantuan keuangan dari pemerintah untuk operasional.

Koordinator Umum Panti Dymphna Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Dionisius Ngeta, saat ditemui di tempat kerjanya di Kelurahan Kota Baru, Maumere, Selasa (26/10/2021). -Foto  Ebed de Rosary

Dia mengaku, selama masa pandemi Covid-19 dua warung makan yang dikelola, yakni di Pasar Alok dan samping Unipa Indonesia terpaksa harus tutup untuk sementara waktu, sehingga pemasukan berkurang.

“Untuk membiayai operasional dan kebutuhan lainnya di panti ini kita melakukan berbagai langkah, termasuk mendirikan warung makan. Selama masa pandemi Covid-19, memang panti mengalami kesulitan keuangan, namun semuanya masih bisa diatasi,” ucapnya.

Dionisius menjelaskan, Panti Dymphna merawat 132 ODGJ yang berasal dari berbagai wilayah di Pulau Flores, Lembata, Timor serta dari Jakarta dan Palembang.

Dia menambahkan, sejak 2003 ada 305 pasien yang sembuh dan sudah kembali ke keluarga mereka berkat berbagai terapi yang ditangani secara intens selama berada di panti.

“Untuk menangani ODGJ di tempat ini, kita ada pendekatan medis, psikologis, pendekatan spiritual dan gizi. Untuk pendekatan psikospiritual ada kegiatan kerohanian, sementara terapi psikologi ada terapi psikologi halus, kasar dan ada juga terapi musik,” jelasnya.

Pemimpin Panti Santa Dymphna, Suster Lucia, CIJ., menyebutkan untuk membiayai berbagai kebutuhan panti khusus bagi ODGJ perempuan ini, pihaknya membutuhkan biaya yang sangat besar, sekitar Rp400 juta per bulan.

Suster Lucia mengaku pihaknya melakukan berbagai usaha seperti rumah makan, kios, memelihara ternak serta menggalang dana dengan menjual aneka kerajinan tangan para disabilitas.

“Usaha kami juga mengalami kendala selama masa pandemi Covid-19, sehingga kami sangat membutuhkan bantuan dana untuk kelangsungan hidup panti ini, selain dari usaha yang kami lakukan,” ucapnya.

Lihat juga...