Pedagang Seragam di Semarang Ketiban Berkah Digelarnya PTM

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Semarang, Jawa Tengah yang terus meluas, turut membawa berkah bagi para pedagang seragam sekolah. Hal ini seiring dengan permintaan seragam baru bagi siswa, yang akan mengikuti PTM.

“Ya, semenjak anak- anak masuk sekolah lagi, sekarang ini sudah ada peningkatan penjualan seragam. Khususnya untuk SD-SMP. Jika sebelumnya sama sekali tidak ada pemasukan dari seragam, kini sudah mulai ada,” papar Wati, karyawan toko seragam dan konveksi di kawasan Ngesrep Timur, Semarang, saat ditemui, Selasa (5/10/2021).

Dipaparkan, sebelum diberlakukan PTM, banyak seragam sekolah yang sudah mereka pesan atau produksi, tidak laku terjual. Seragam tersebut, hanya tersimpan dalam etalase toko.

“Banyak yang beli karena akan digunakan saat masuk sekolah lagi, sementara seragam yang lama, ada yang sudah tidak muat atau sudah sempit, ada juga yang karena sudah rusak. Apalagi kan sekolah online sejak ada pandemi Covid-19 sudah lama, jadi banyak yang tidak muat lagi,” terangnya.

Wati mengaku tidak tahu persis jumlah seragam yang terjual, semenjak PTM di Kota Semarang mulai diberlakukan, namun setidaknya setiap minggu rata-rata bisa menjual 20 stel pakaian seragam.

“Khususnya untuk seragam SD- SMP. Untuk harga tergantung ukuran, misalnya untuk ukuran S-M baju SD seharga Rp 62 ribu, sementara untuk ukuran L-XL, seharga Rp 70 ribu. Ini untuk baju atasan, sementara untuk celana atau rok, harganya beda lagi, dengan rentang harga Rp 70 – Rp 80 ribu,” tambahnya.

Pihaknya pun berharap, jumlah sekolah di Kota Semarang yang melaksanakan PTM juga bertambah, sehingga penjualan seragam dapat meningkat. “Sebelum ada PTM, sama sekali tidak ada pemasukan dari penjualan seragam, karena siswa sekolah online,” tandasnya.

Selain toko seragam, pelaksanaan PTM juga berimbas pada penjualan seragam di koperasi sekolah, khususnya untuk seragam khusus, seperti pakaian olahraga atau batik.

“Sekolah tidak mengharuskan siswa untuk membeli seragam di koperasi, namun kalau ada yang membutuhkan, kita menyediakan sehingga memudahkan orang tua. Harganya per stel Rp 150 ribu, untuk atasan dan bawahan, seperti baju olahraga dan baju batik, karena ini tidak ada yang menjual di luar,” terang Nanik, guru sekaligus pengelola koperasi di SD Sumurboto Semarang.

Hal senada juga disampaikan Widiyanti, orangtua siswa, dijelaskan seiring dengan tumbuh kembang anak, baju sekolah yang lama kini sudah mulai kesempitan, sehingga perlu seragam baru.

“Pandemi ini kan sudah hampir dua tahun, seperti anak saya, mulai sekolah daring sejak awal kelas 2 SD, sekarang ini mulai PTM sudah kelas 4 SD jadi seragam yang dulu sudah tidak muat lagi, jadi harus beli baru,” terangnya.

Di satu sisi, untuk mengantisipasi kejadian serupa, untuk pembelian seragam ini, ibu tiga anak tersebut, mengaku membeli seragam ukuran besar.

“Biasanya anak saya ukurannya M, namun buat berjaga-jaga, saya beli ukuran L. Harapannya, nanti bisa tetap bisa dipakai hingga kelas 6. Jadi biar tidak perlu beli lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...