Pelaku Usaha Kuliner di Flotim Beternak Ayam Kampung, Penuhi Kebutuhan

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Tingginya kebutuhan daging ayam kampung dan harganya yang tergolong tinggi di pasaran, membuat seorang pelaku usaha kuliner ayam kampung di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memelihara ayam kampung sendiri. Dengan beternak sendiri, suplai ayam kampung lebih terjamin dan keuntungan pun makin besar.

“Guna memenuhi kebutuhan kedai atau rumah makan, saya juga beternak ayam kampung,” sebut Ferdy Lewoema, pemilik rumah makan Kedai Kita Waihali di Kota Larantuka, saat dihubungi, Selasa (5/10/2021).

Ferdy mengatakan, dirinya beternak ayam kampung sekitar 30 ekor untuk menyuplai kebutuhan rumah makan miliknya. Sebab, harga ayam kampung di pasar tradisional tergolong mahal.

Ia menyebutkan, selain lebih hemat dan tidak terganggu dalam menyuplai kebutuhan rumah makan, dirinya pun bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan membeli ayam di pasar.

Pemilik rumah makan Kedai Kita Waihali di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT, Ferdy Lewoema, saat ditemui di tempat usahanya, Kamis (23/9/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Harga ayam kampung berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu tergantung berat dan besarnya ayam. Penjual pun tidak terlalu banyak di pasar, sehingga terkadang harus mencari hingga ke pelosok desa,” ucapnya.

Ferdy menyebutkan, masih belum banyak peternak ayam kampung dengan skala besar di Kabupaten Flores Timur, yang bisa menyuplai kebutuhan rumah makan yang tersebar di Kota Larantuka.

Selain beternak ayam kampung, dirinya pun sedang berupaya beternak bebek dengan skala kecil, agar bisa menyuplai kebutuhan rumah makannya.

“Saya menyajikan menu spesial ayam kampung dan ikan bakar di kedai saya, sehingga harus menjaga agar suplai ayam kampung tetap terjaga. Lumayan juga bisa mendapatkan untung lebih besar kalau ternak sendiri,” ucapnya.

Sementara itu, Rikardus Umbu, wirausaha di Kota Larantuka mengakui bisnis ternak ayam kampung dalam jumlah besar belum banyak digeluti warga di Flores Timur.

Padahal, menurut Icad, sapaannya, peluang usaha ini sangat menjanjikan karena kebutuhan akan ayam kampung sangat besar. Selain untuk rumah makan, juga dibutuhkan saat pesta.

“Kebutuhan ayam kampung besar sekali, apalagi saat pesta. Banyak orang yang memilih beternak babi karena kebutuhannya besar, namun ketika terserang penyakit, maka akan mengakibatkan kematian dan risiko ruginya besar,” ucapnya.

Icad mencontohkan, serangan virus Demam Babi Afrika (African Swine Fever) yang melanda NTT selama dua tahun terakhir mengakibatkan kematian hampir semua babi di semua wilayah NTT.

 

Lihat juga...