Peluang Bisnis Kopi di Indonesia Terbuka Lebar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Indonesia sebagai daerah nomor empat penghasil kopi terbesar di dunia.  Tentu komoditi tersebut memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan karena melibatkan banyak pelaku usaha mikro.

“Banyak negara mencari kopi ke Indonesia, tapi di satu sisi petani kopi kesulitan mencari pasar. Ini tentunya ada yang salah dalam tata kelola dari hulu sampai ke hilir,” ungkap Eni Wartuti, pengusaha kopi di Kota Bekasi, kepada Cendana News, Selasa (12/10/2021).

Eni, pemilik brand  Kopi Rempah Gandasari ini mengaku, biasa turun langsung ke petani di berbagai wilayah Indonesia.

Ia mengobrol langsung dengan para petani kopi di pedalaman dari Aceh sampai Papua, hingga diketahui bahwa masih banyak petani kesulitan mencari pasar. Tak sedikit dari mereka meminta bantuan untuk memasarkan kopi hasil panen.

Menurut Eni, pemerintah sudah turun mendorong agar petani maju, namun dinilai masih setengah-setengah. Karena tidak mungkin petani disuruh mencari pasar sendiri seperti ekspor dan lainnya.

Hal itu tentu tugas pemerintah bagaimana bisa menggandeng pengusaha atau tim pemasaran seperti dirinya untuk membantu memasarkan hasil pertanian petani kopi.

“Saya tidak memiliki kebun kopi satu jengkal pun. Tapi saya bisa berjualan seluruh jenis kopi Indonesia hingga ekspor ke luar negeri. Janganlah petani disuruh mengurus izin ekspor. Buat mengurus kebun kopi saja mereka sudah kehabisan waktu,” jelasnya.

Diakuinya, rasa kopi Indonesia terbilang terbaik di dunia, tapi tinggal bagaimana pengolahannya. Indonesia memiliki banyak kemenangan dibanding negara lain dengan luas wilayah bertani jauh lebih besar dibanding Vietnam. Tapi hasil kopi Vietnam dua kali lipat dari Indonesia. Ini menunjukkan keseriusan dari pemangku kepentingan.

Artinya, petani kopi Indonesia harus di-support teknologi tidak dibiarkan jalan sendiri dengan cara tradisional.

Petani kopi Vietnam lebih maju dalam bertani. Indonesia jika didukung oleh pemerintah secara penuh diyakini mampu menjadikan kopi terbaik nomor satu di dunia. Modal luas wilayah ditambah geografis yang berbeda-beda bisa membuat aneka cita rasa kopi yang khas.

Kopi sebutnya, berpengaruh pada daerah tertentu terutama dengan ketinggian, menjadikan kualitas jauh lebih baik.

Eni sendiri tidak memiliki perkebunan kopi, bukan berarti tidak bisa berbisnis kopi. Seperti saat ini jelasnya Gayo sedang panen raya untuk tiga bulan ke depan.

“Sekarang di Indonesia ini, banyak yang punya kopi, tapi sedikit yang bisa jualan kopi. Kebanyakan seniman kopi bercerita tentang kopi, berbicara soal keunggulan kopi tapi tidak bersatu, jalan sendiri-sendiri,” ujarnya berharap ada persatuan untuk memajukan petani kopi Indonesia.

Dia berpesan kepada petani kopi, teruslah merawat kopi dengan baik agar kualitas dan cita rasa kopi bisa disukai oleh banyak orang di dunia.

Lihat juga...