Pemkab Sleman Canangkan Gerakan Hentikan Pemborosan Pangan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Pemerintah Kabupaten Sleman mencanangkan gerakan masyarakat untuk menghentikan pemborosan pangan.

Gerakan ini lahir melihat semakin tingginya tantangan di sektor pangan dan pertanian. Seperti terus meningkatnya kebutuhan pangan akibat penambahan jumlah penduduk, semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian yang menurunkan tingkat produksi, hingga tren perilaku konsumsi pangan masyarakat yang cenderung kurang menghargai makanan.

“Ketersediaan pangan selama masa pandemi di Kabupaten Sleman masih aman. Namun demikian, upaya pemenuhan pangan menghadapi tantangan cukup tinggi, sehingga perlu ada strategi alternatif yaitu menekan kebutuhan pangan melalui penurunan pemborosan pangan,” ujar PLT Kepala Dinas Pertanian Sleman, Suparmono, Rabu (6/10/2021).

Menurut Suparmono, sampai saat ini Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman sendiri terus berupaya meningkatkan produksi pangan lewat berbagai upaya.

Mulai dari intensifikasi pertanian hingga mekanisasi pertanian dan sebagainya. Namun menurutnya, upaya tersebut belum cukup, sehingga perlu alternatif gerakan masyarakat untuk tidak boros pangan. Apalagi berdasarkan data yang ada sisa pangan di Indonesia cukup tinggi.

“Paling boros nomor satu itu Arab Saudi dan Indonesia menempati nomor 2. Kalau kondisi alih lahan dan cara konsumsi pangan masih seperti sekarang, maka diperkirakan pada tahun 2022-2023 mendatang Sleman bisa defisit beras. Meskipun saat ini Sleman masih surplus beras sebanyak 70 ribu ton. Namun jumlah ini terus berkurang dari tahun ke tahun. Karena beberapa waktu lalu saja kita masih surplus hingga 100 ribu ton,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakan, upaya untuk memulai gerakan stop pemborosan pangan bisa dilakukan mulai di lingkungan terkecil setiap individu maupun keluarga. Yakni dengan membiasakan diri untuk tidak mengonsumsi dan membuang pangan secara berlebihan.

“Jika dalam perhitungan 1 kg beras terdapat 50.000 butir dan jika penduduk Sleman masing-masing menyisakan 1 butir nasi, maka jumlah nasi yang terbuang mencapai 24,7 ton per tahun. Artinya banyak sekali pangan kita terbuang yang seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pangan kita,” ungkapnya.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menyampaikan salah satu penyebab pemborosan pangan adalah perilaku konsumsi pangan masyarakat yang masih kurang menghargai pangan, seperti makan tidak habis, belanja berlebihan, gengsi menghabiskan makanan, hasil pertanian dibiarkan busuk akibat harga rendah, dan lainnya.

“Oleh karena itu, kami mengajak kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Sleman, untuk makan secukupnya dan jangan menyisakan nasi yang masih di piring. Mari untuk mulai menghargai pangan, Stop Boros Pangan Mulai dari Piring Kita,” ungkap Bupati.

Lihat juga...