Pencarian Sang Malam

CERPEN ASTRI ANGGRAENI

Entah berapa lama aku telah terkurung di tempat ini. Aku tak bisa mengingatnya sama sekali. Entah berapa lama lagi aku harus berada di sini.

Tapi aku sudah muak dengan semua kekacauan yang ada di sini. Setiap hari ketika malam merangkak keluar dari sarangnya, aku selalu menemukan mereka berbalik menatapku dari balik jendela.

Lebih dari ratusan kali rasanya aku ingin menghujani mereka dengan sumpah serapah. Namun apa daya, walaupun pikiranku bisa menyampaikan angkara murka ini, raga ini tak mampu menjangkau mereka.

Malam yang menatapku dari jendela hanya tertawa melihatku tergeletak menggelepar di atas kasur. Setiap kali aku menarik napas dalam-dalam dengan membuka mulut dan seluruh pori-pori di kulitku.

Dia akan menertawaiku sampai jatuh terpingkal-pingkal ke tanah hingga membuat pagi datang lebih awal dari biasanya. Aku memang tak bisa mendengar suara ocehan yang keluar dari mulutnya, tapi aku mengerti apa yang dia pikirkan.

Seekor ikan yang menggelepar di atas penggorengan. Aku bertanya-tanya, ide gila macam apa yang bisa membuatnya memikirkan hal sekeji itu. Namun, ketika aku berpikir kembali semua masa lalu yang kualami. Aku mulai mengerti, dia pasti mendapatkan ide itu dari melihat orang-orang di jalanan.

Aku melihat ke arah kakiku yang tak lagi mampu berjalan. Luka yang telah lama kering masih terasa nyeri, seakan mereka berusaha menggerogoti tulangku. Rentenir yang tertawa saat dia menginjak kakiku hingga patah berkeping-keping masih sering muncul ketika aku tertidur.

Suara tawa meringis mereka, suara meja dan piring yang mereka lemparkan ke tanah. Kilatan cahaya yang terus muncul berulang kali dari gawai warga sekitar.

Anak-anak yang terus tertawa sambil sesekali berteriak, “Dasar miskin!”. Semua ingatan itu masih membekas, baik di tubuh maupun jiwaku.

Ingin rasanya aku meluapkan semua kemarahan ini, namun dunia memang kejam. Manusia ternyata lebih buruk daripada dunia.

Saat itu aku bertanya-tanya, dosa macam apa yang kutorehkan di wajah mereka? Seberapa dalam kebencian yang mereka punya terhadapku. Apakah salah memohon bantuan orang lain saat kau bahkan tak memiliki sebutir beras di atas piring?

Apakah salah seorang bocah kecil meminta makan karena kakaknya tak sanggup membeli sepotong gorengan untuk lauk makan malam? Aku tak mengerti, apakah semua itu tindak kejahatan yang layak untuk dijadikan bahan hinaan?

Apakah mereka tidak sadar kalau mereka menyakitiku? Aku hanya bisa tersenyum kecut, terutama setelah melihat luka sayatan besar yang ada di perutku.

Aku melihat ke arah malam yang baru saja merangkak keluar dari sarangnya, dia masih suka menunjuk ke arahku sambil berbicara sesuatu yang tak dapat kumengerti. Bagiku hinaan macam apapun yang akan kudengar mungkin tidak akan mempan lagi.

Tapi meskipun asumsi itu benar, hinaan itu tetap menyakitkan walaupun kau sudah terbiasa merasakannya. Perlahan setelah setiap kali melihat dia di depan jendela yang terkunci. Aku mulai merasa bersyukur, walaupun aku tak bisa mendengar cacian apa yang keluar dari mulutnya. Setidaknya aku tidak merasa sendirian lagi.

Aku tak perlu khawatir dengan kakakku yang sekarang entah sedang berada di mana. Jika dia datang nanti, aku akan mengatakan padanya dengan bangga bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkanku tinggal sendirian di tempat ini. Walaupun malam bukanlah sahabat ataupun saudara, dia bukanlah orang yang buruk.
***
Hari-hari berlalu dengan tenang, aku pun mulai terbiasa dengan kegilaan yang dilakukan malam setiap harinya. Berbeda dengan kakakku, yang setiap kali berkunjung selalu membawa muka kusam dan bekas tangisan bersamanya.

Malam datang terus menerus dengan wajah sehat dan bugar sambil terus menunjuk ke arahku dan melemparkan cacian dan makian yang hingga kini masih belum dapat kumengerti.

Setiap hari kehidupan monoton itu terus berulang, hingga aku pun mulai kesulitan untuk menghitungnya. Tetapi suatu hari, rutinitas gila itu terhenti.

Tiada hujan ataupun badai, tanpa sebab yang jelas, malam berhenti muncul di jendela ruangan itu. Untuk beberapa saat aku berpikir mungkin dia sedang sibuk membuat dunia ini ditelan kegelapan atau mungkin dia terlalu lelah untuk melemparkan keluhan yang dia punya padaku.

Aku berpikir mungkin esok hari dia akan muncul lagi di jendelaku dan melempar cacian biasa yang masih tidak akan pernah sampai ke telingaku. Namun sepertinya pemikiranku ini salah.

Dia, malam, tidak lagi datang dan melihatku dari jendela tua yang terkunci rapat itu. Dua hari, tiga hari, bahkan seminggu lamanya, malam tak pernah kembali. Dia tak pernah sekali pun menampakkan batang hidungnya di depanku.

Untuk sekejap aku berpikir mungkin dia sedang tidak sehat, namun pemikiran itu sirna setelah aku melihat kunang-kunang yang berkerumun di sekitar jendela.

Kunang-kunang yang hanya muncul ketika malam mulai memperlihatkan wajah dunia yang sesungguhnya. Artinya malam tetap ada walaupun dia berada di tempat lain di mana aku tidak ada.

Sebulan telah berlalu dan aku mulai sadar bahwa malam tidak akan pernah lagi muncul di hadapanku. Dia kini berada di tempat yang jauh. Tempat yang tak dapat aku raih dengan tanganku meskipun aku memiliki segalanya.

Walaupun aku mengulurkan tanganku sejauh yang aku bisa, aku tak akan pernah bisa menjangkaunya. Apa yang bisa kuraih, walaupun berada di depan mata pun aku tak sanggup menggenggamnya, apalagi sesuatu yang tak bisa digenggam.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil berkeluh kesah pada kunang-kunang yang sesekali beterbangan ke segala arah tanpa tujuan.

Aku, yang mulai kehilangan akal karena kesepian, mengarahkan pandanganku pada kunang-kunang yang melayang tak beraturan di langit malam.

“Apakah dia akan meninggalkanku seperti yang lainnya?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Tanpa sadar, sepertinya aku menjadi semakin tidak waras. Aku bertanya pada kunang-kunang, namun mereka tidak menghiraukan pertanyaanku. Mereka terus terbang bebas tak beraturan di udara tanpa perlu khawatir besok mereka harus memakan apa.

Tanpa perlu khawatir utang yang terus menumpuk. Bahkan mereka tidak peduli dengan perkataan orang lain. Kebebasan mereka membuatku sangat iri. Namun rasa iri yang timbul dalam hatiku perlahan pecah bagaikan gelembung yang terkena cipratan air.

Semua perasaan itu tergantikan dengan kesedihan dan penyesalan yang tak mampu tergambarkan dengan kalimat apa pun.

Apakah malam juga akan meninggalkanku seperti apa yang dilakukan ibu kepada kakak dan aku? Apakah malam juga akan mengabaikanku seperti apa yang dilakukan tetangga yang sadar bahwa kami kelaparan? Apakah malam juga akan melupakanku seperti air yang melupakan hujan?

Aku terus bergumam sendiri, berharap kunang-kunang yang ada di luar sana akan mendengarkanku. Namun sepertinya mereka tak menggubris sama sekali. Seolah aku hanyalah pantulan cermin yang tak bisa berbicara.

Aku tersenyum lesu sambil melihat kedua kakiku yang semakin hari semakin kaku bagaikan potongan kayu. Aku mengalihkan pandanganku ke jendela dan kemudian membuat sebuah keputusan.

Aku menjatuhkan diriku ke lantai, dan perlahan merangkak menuju jendela. Jika aku berada di dekat jendela yang terkunci rapat itu, mungkin saja.

Mungkin saja aku bisa lebih dekat dengan para kunang-kunang itu. Mungkin saja mereka akan berhenti dan mendengarkan suaraku. Perlahan tapi pasti, aku terus merangkak dan mendekati jendela itu.

Semakin lama aku mendekatinya semakin sulit rasanya untuk meraihnya. Namun ketika aku telah sampai di depan jendela itu, aku pun menyadari kemungkinan lain yang bisa kupilih.

Bisakah aku keluar jendela? Apakah jika aku melihat keluar jendela aku bisa menemukan malam? Apakah malam akan berbicara padaku lagi jika aku berada di luar sana?

Aku mengulurkan tanganku, mengulurnya keluar jendela sebagai kait. Kemudian dengan sekuat tenaga aku melemparkan diriku keluar jendela.

Seketika semua ilusi dan sandiwara yang dimainkan di dalam kepalaku hilang. Semuanya sunyi dan senyap. Aku tersenyum sambil berpikir bahwa dengan cara ini satu mulut sudah berkurang. ***

Astri Anggraeni, lahir di Sleman, Yogya, 24 Juli 2002. Mahasiswi semester 3 Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Karya cerpennya ada dalam antologi Hancurnya Topeng-topeng Berjalan yang diterbitkan Balai Bahasa Yogyakarta pada 2018.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...