Penghasilan Rendah, Problem Ekonomi Petani Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Stigma petani sebagai profesi kelas bawah dengan penghasilan rendah masih cukup banyak hinggap di benak masyarakat Indonesia. Tak heran, jika jumlah petani terus menyusut, karena pekerjaan di sektor ini dianggap tidak prospektif. Tak mendatangkan keuntungan ekonomi yang signifikan.

Mengutip data Bank Dunia (World Bank), Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), Guntur Subagja Mahardika mengungkapkan, bahwa penduduk yang bekerja sebagai petani pada 2019, tinggal 28,5 persen saja dari total jumlah angkatan kerja nasional.

“Jadi jumlahnya terus menyusut, padahal tiga dekade sebelumnya jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani mencapai 55,5 persen dari total angkatan kerja,” kata Guntur dalam webinar bertajuk Agriculture for Sustainable Growth, yang diikuti Cendana News, Selasa (5/10/2021).

Menurut Guntur, apabila tidak ada intervensi dan langkah serius untuk menarik minat masyarakat terjun ke sektor pertanian, maka 42 tahun mendatang sektor ini akan kehabisan sumber daya manusianya.

“Apabila situasi ini berlanjut begitu saja, pada 2063 nanti kita sudah tidak lagi menemukan ada orang yang berprofesi sebagai petani,” tandas Guntur.

Di samping angkanya yang semakin menyusut, pertanian di Indonesia juga tengah dihantui ancaman krisis regenerasi, di mana SDM pertanian masih didominasi oleh pekerja usia 45-54 tahun sebanyak 28,22 persen.

“Petani muda yang kita harapkan menjadi penerus sektor ini masih sangat rendah. Petani usia kurang dari 25 tahun jumlahnya bahkan tidak sampai 1 persen, sementara yang usia 25-34 tahun sebanyak 10,65 persen,” ucapnya.

Guntur menegaskan, upaya melakukan digitalisasi di sektor pertanian harus terus didorong dan diakselerasi. Pasalnya, dengan penerapan teknologi, maka kerja pertanian akan semakin mudah, dan hal tersebut bisa menstimulus generasi muda untuk berkecimpung di sektor ini.

“Kita mulai dengan digitalisasi pada kegiatan produksi, kemudian mengadopsi penelitian dan teknologi pertanian, lalu mengembangkan sistem pelacakan pasokan pangan, mempermudah akses daring pengadaan pasokan alat pertanian, dan menghubungkan petani dengan konsumen melalui aplikasi digital,” papar Guntur.

Di forum yang sama, Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Haris Syahbudin mengungkapkan, bahwa masalah regenerasi petani tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga hampir di berbagai belahan dunia. Menurutnya, masih banyak generasi muda yang menganggap profesi petani sebagai profesi rendahan.

“Jadi stigma bahwa petani itu pekerjaan kelas bawah, dan penghasilannya kecil itu masih ada. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi, kini semangat generasi milenial terjun ke sektor hulu pertanian semakin terlihat,” ujar Haris.

Setidaknya, kata Haris, saat ini ada 2,7 juta petani milenial usia di bawah 39 tahun, dari total 33 juta petani yang ada di Indonesia. Kementan akan terus berupaya menghadirkan inovasi dan teknologi guna memantik minat generasi muda.

“Petani milenial ini karakteristiknya sangat adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita akan dorong terus inovasi tersebut untuk menarik mereka, tidak saja bermain di hilir, tapi juga di hulu pertanian,” pungkas Haris.

Lihat juga...