Penjualan Baju Adat Senuji Alami Peningkatan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Penjualan baju adat Senuji yang biasa dikenakan warga komunitas adat di beberapa kecamatan di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan sejak tahun 2018.

Pembuat baju adat Senuji, Yuliana Hingi Koten saat ditemui di rumahnya di Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, NTT, Minggu (26/9/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Setelah ada festival Nubun Tawa di Kecamatan Lewolema, banyak yang memesan baju adat Senuji,” kata Yuliana Hingi Koten, pembuat baju adat Senuji asal Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, NTT saat dihubungi, Minggu (3/10/2021).

Yuliana mengakui, satu lembar baju adat Senuji dijual seharga Rp500 ribu dimana semua bahan kain ditanggungnya termasuk ongkos jahit dan menyulam.

Dirinya juga menerima pesanan untuk pasangan maupun perorangan sementara untuk anak-anak harganya lebih murah sekitar Rp300 ribu per lembarnya.

Biasanya kata dia, baju adat Senuji dikenakan juga dengan kain tenun dengan motif tenunan Flores Timur yang bisa dibeli di para penenun yang juga ada di Desa Riangkotek.

“Dalam sebulan saya bisa memproduksi 2 lembar baju adat Senuji sebab hanya memanfaatkan waktu di sore hari selepas mengajar di SDN Lamatou. Bila kerja dari pagi sampai sore bisa menghasilkan minimal empat lembar baju,” ucapnya.

Yuliana mengakui, bila pesanan sedang banyak maka dirinya memberikan order kepada para ibu-ibu yang ada di desanya.

Dia tambahkan, untuk menyulam dan memasang manik-manik dirinya sendiri yang mengerjakan sehingga butuh waktu lama untuk menghasilkan sebuah baju adat Senuji.

Ia sebutkan, proses menyulam yang membutuhkan waktu paling lama dimana dirinya harus membuat gambar terlebih dahulu baru setelah itu disulam.

“Sekarang sudah banyak pesanan sehingga saya harus memberikan kepada ibu-ibu lainnya untuk mengerjakannya. Tapi tetap saya pantau hasilnya dan saya yang harus memasang manik-maniknya,” ucapnya.

Sementara itu Arnold Ritan, warga Desa Riangkotek mengakui bangga dengan apa yang dilakukan mama Yuliana karena dirinya pun mengerjakan baju adat Senuji pesanan gubernur NTT dan keluarga.

Arnlod mengakui, mama Yuliana tergolong pembuat baju adat Senuji yang paling banyak pesanannya dan sudah terkenal karena sering membuat baju adat Senuji untuk para pejabat.

“Mama Yuliana memang sudah lama membuat baju adat Senuji dan dikenakan para pejabat. Namun dirinya belum dikenal karena belum ada yang menulis kisahnya,” ucapnya.

Lihat juga...