Perajin Batik di Karanganyar Ikuti Pelatihan Diversifikasi Produk

SOLO – Bank Indonesia (BI) Surakarta berupaya meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat Girilayu khususnya kepada kelompok perajin batik Giriarum di Kabupaten Karanganyar.

Kepala Kantor Perwakilan BI Surakarta, Nugroho Joko Prastowo di Karanganyar, Selasa, mengatakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi para perajin batik tersebut salah satunya adalah melalui pelatihan “Diversifikasi Produk”.

“Pelatihan ini merupakan pelatihan seri ketiga setelah sebelumnya dilaksanakan pelatihan Manajemen Keuangan Usaha dan Pribadi, serta pelatihan Peningkatan Jiwa Kewirausahaan,” katanya.

Ia mengatakan penyelenggaraan serangkaian pelatihan untuk Paguyuban Batik Giriarum tersebut merupakan Program Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Berbasis Kelompok Subsistence yang diinisiasi BI bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Rumah Zakat sebagai mitra kerja.

“Program ‘UMKM Subsistence’ ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kewirausahaan dan peningkatan literasi keuangan,” katanya.

Dengan demikian, Joko mengharapkan, masyarakat Girilayu dapat lebih mandiri karena saat ini sebagian besar masih menjadi penerima program bantuan sosial dari pemerintah.

“Program ‘UMKM Subsistence’ juga merupakan pilot project BI dan baru diterapkan di delapan wilayah se-Indonesia termasuk di Karanganyar,” katanya.

Menurut dia, tema Diversifikasi Produk diangkat karena sangat kontekstual dengan kondisi pasar saat ini, yakni batik tidak hanya memiliki nilai historikal tetapi juga memiliki nilai ekspor tinggi bahkan bertumbuh di masa pandemi.

“Pertumbuhan nilai ekspor batik ini terutama pada produk batik yang didiversifikasi. Berdasarkan potensi tersebut industri kerajinan dan batik menjadi sebagai salah satu sektor yang dapat menjadi penopang pemulihan ekonomi nasional sehingga perlu mendapat dukungan dari pemerintah, otoritas, dan stakeholder terkait,” katanya.

Sementara itu, ia menambahkan, saat ini batik sudah berkembang pesat dengan adanya berbagai diversifikasi produk turunannya yang cocok dipakai dalam berbagai acara dan memiliki berbagai fungsi.

“Karya-karya batik para perancang busana Indonesia tidak lagi hanya berupa kain sarung, baju perhelatan ritual tetapi juga bisa dibuat menjadi koleksi busana yang cantik dan pernak-pernik atau asesoris yang dikenakan masyarakat luas di antaranya sepatu, tas, dasi, hingga masker,” katanya.

Ia mengatakan hal tersebut menjadikan pangsa pasar batik makin luas dan dinamis.

“Yang dulunya hanya dipakai oleh kalangan kalangan raja, pejabat pemerintah, dan para pembesar, sekarang batik telah menjadi trending fashion kaum milenial dan dipakai masyarakat umum,” katanya. (Ant)

Lihat juga...