Potensi Wisata Halal Indonesia Sangat Besar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ketua Umum Perhimpunan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan mengatakan, potensi pasar industri halal di Indonesia sangat besar, termasuk di dalamnya wisata halal.

“Jumlah turis muslim dunia lebih besar dari turis Cina. Itu turis Cina, jumlahnya antara 130–140 juta, sedangkan turis muslim itu mencapai 160 juta. Jadi potensi sangat besar, dan ini peluang pasar wisata halal bagi Indonesia untuk menggaet wisatawan muslim mancanegara,” ujar Riyanto, kepada Cendana News saat dihubungi, Minggu (31/10/2021).

Dari segi pengeluaran uangnya saja jelas dia, yakni sekitar 1100 dolar Amerika Serikat (AS) per turis untuk sekali kunjungan. Sedangkan wisatawan muslim paling rendah itu 1350 dolar AS per turis per kunjungan.

“Bahkan ada yang sampai 2.000 dolar AS sampai 2.500 dolar AS. Ya ini kan karena mereka wisatawan muslim itu traveling bersama keluarga dengan jangka kunjungan waktu yang lama,” ungkapnya.

Contohnya kata dia, wisatawan dari Eropa, India dan Cina, tentu mereka punya kebutuhan masing-masing. Wisatawan dari India, misalnya, butuh makanan yang vegetarian, karena mereka tidak makan daging. Begitu pula dengan wisawatan Eropa, yang misalnya butuh minuman keras.

Maka dari itu, sebut Riyanto, wisatawan muslim juga sama, seperti itu. Yakni utamanya terkait kebutuhan fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan hati saat berwisata.

“Yakni wisata yang ramah muslim, tersedia makanan halal, musala sarana ibadah, dan lainnya yang berkaitan dengan gaya hidup halal,” imbuhnya.

Menurutnya, negara-negara yang mayoritas non muslim saja mengembangkan pasar wisata halal. Lalu mengapa sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia tidak.

“Saat ini, Indonesia menjadi konsumen terbesar, bukan produsen terbesar wisata halal. Itu perlu dikapitalisasi pada sektor pariwisata halal sebagai sektor andalan dalam menyumbang devisa,” tukasnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, pada 2020 pertumbuhan ekonomi umat muslim dari kelas menengah meningkat. Industri halal kemudian berkembang ke sektor gaya hidup, termasuk pariwisata, kosmetik, fesyen muslim dan rekreasi.

Ini menandakan kebutuhan umat muslim semakin berkembang ekonominya sehingga bukan hanya makanan yang halal, tapi juga gaya hidupnya dalam berwisata.

Dalam pengembangannya, sarana prasarana harus benar-benar menunjang tuntutan pasar wisata halal.

“Memang kalau kita lihat saat ini, di mal besar sudah ada musala yang mewah dan nyaman bagi umat muslim beribadah,” ujarnya.

Begitu pula dengan restoran di Indonesia sudah banyak yang memiliki sertifikat halal. Semua fasilitas tersebut untuk menjawab pertanyaan kebutuhan wisatawan muslim. Termasuk sertifikat halal di dalamnya dunia fesyen muslim.

“Jadi potensi pasar wisata halal itu sangat besar. Tapi pasar ini bukan cuma untuk wisatawan muslim saja, karena gaya hidup halal sudah menjadi tren global menjadi kebutuhan non-muslim juga,” ujarnya.

Contohnya kata Riyanto, makanan, kosmetik, pakaian dan restoran atau makanan sehat. Itu bukan hanya yang dibutuhkan umat muslim saja.

“Namun, kalau mereka berkunjung ke area wisata halal itu, tentu perlu adanya tempat salat, serta makanan halal dan thoyib,” ujar Riyanto Sofyan yang juga merupakan Ketua Bidang Industri Halal dan Industri Kreatif Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

Riyanto menegaskan, PPHI berkomitmen mendukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk mengembangkan pasar wisata halal di Indonesia.

Saat ini kata dia, perkembangannya sudah cukup baik, dengan tercatat Indonesia berada pada posisi nomor satu, sedangkan Malaysia yang terbaik saat ini.

“Tapi, tentu harus lebih ditingkatkan lagi pelayanan dan fasilitas dengan komitmen dan kapitalisasi di sektor pariwisata halal agar lebih bagus lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...