Potret Kemiskinan di Sikka, Setelah Diberitakan Rumah Warga Miskin Diperbaiki Secara Gotong Royong

Editor : Maha Deva

MAUMERE – Seorang petani muda pelopor irigasi tetes di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yance Maring, bergerak membantu pengatapan rumah seorang perempuan paruh baya, yang hidup sendirian dengan anak perempuannya seorang ODGJ di Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, NTT.

Mama tua, yang bernama Agnes Nurak, sudah membangun rumah sederhana berlantai tanah dan berdinding bamboo. Namun belum ada dana untuk membeli seng sebagai atap rumah. Karena belum ada orang yang membantu, Yance, bergerak bersama awak media dan warga membawa bantuan dan langsung melakukan pengatapan.

“Saya melihat pemberitaan dari media sehingga saya tergerak hati untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Saya mengajak rekan-rekan media, bersama dengan ketua RT dan Kepala Dusun Krado, Desa Ipir bersama satu dua anak muda di dusun sehingga bisa langsung melakukan pengatapan rumahnya,” ujar Yance saat ditemui di Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka,NTT, Sabtu (16/10/2021).

Yance menyebut, bantuan seng dan segala kebutuhan untuk pengatapan rumah diberikan, mengingat saat ini sudah sering turun hujan. “Seharunya ini menjadi tugas pemerintah untuk menbantu masyarakat tidak mampu. Apalagi mama tua tinggal sendirian dengan anaknya yang ODGJ dan tinggal di kebun yang jauh dari pemukiman warga,” tuturnya.

Mama Agnes Nurak, mengaku senang dengan adanya warga yang membantu mengatapi rumahnya. Selama ini, di tinggal di rumah berdinding bambu belah. Mama Agnes mengatakan, setelah ada pemberitaan media, anak perempuannya yang seorang ODGJ akhirnya dibawa oleh Dinas Sosial Provinsi NTT, untuk dirawat di Panti Dhympha.  “Saya senang rumah saya akhirnya bisa diatap. Suami saya sedang merantau ke Kalimantan dan sudah tidak ada kabar lagi. Pernah pulang dan pergi merantau lagi,” ungkapnya.

Untuk sampai ke Dusun Krado, Desa Ipir, membutuhkan waktu sekira satu jam dari Maumere , melewati jalanan aspal yang kadang rusak di beberapa bagiannya. Sampai ke lokasi desa, perjalanan melewati jalan semen dan dilanjutkan menggunakan sepeda motor.

Material  seng dan bahan bangunan lain, harus dipanggul oleh beberapa warga dusun, melewati jalan semak-semak sejauh sekira 500 meter, karena jalan di dekat rumah Mama Agnes Nurak tidak bisa dilewati sepeda motor.

Lihat juga...