Sebuah Pohon di Ujung Desa

CERPEN MOCHAMAD BAYU ARI SASMITA

Kakekku pernah bercerita kepadaku bahwa pohon beringin di ujung desa yang sudah begitu tua dan tinggi itu pernah menyelamatkanku ketika ibuku berusaha melahirkanku.

Pada awalnya, aku tidak percaya kepada kakekku. Untuk membuktikannya, aku sengaja memotong salah satu akarnya dengan sebuah pisau.

Saat itu juga, ada sebuah bekas sayatan di kakiku. Mengetahui bahwa aku menyakiti pohon itu—yang berarti menyakiti diriku sendiri—kakek marah besar kepadaku.

Dia mencaciku sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih. Seminggu kemudian, setelah memarahiku dengan hebat, dia tutup usia. Aku sangat bersalah kepadanya.

Sebagai penebusan dosa, aku tidak akan pernah menyakiti pohon-pohon lagi, terutama pohon yang ada di ujung desa itu.

Ketika ibuku berusaha untuk melahirkanku di sebuah klinik di desa, kakekku bercerita bahwa aku tidak bisa keluar. Sesuatu sepertinya sedang menghalangiku untuk melihat dunia yang indah sekaligus kejam ini.

Saat itulah, kakekku melihat sesosok laki-laki yang bercahaya di sekitar pohon itu. Karena tidak bisa berpikir jernih, kakek pun segera pergi ke sana.

“Jadi, kau bisa melihatku?” kata sosok bercahaya itu.

“Siapa sebenarnya kisanak ini?”

“Aku adalah pohon beringin ini. Aku adalah ruh pohon beringin ini yang kebetulan ingin berjalan-jalan sebentar tapi sepertinya telah kau pergoki.”

“Apa kisanak akan menghabisiku?”

“Tidak. Tapi, ngomong-ngomong, kau terlihat kesusahan, Kakek. Ada apa?”

“Aku bermaksud membakar dupa untuk para leluhur. Aku minta doa restu dari mereka agar berkenan memohonkan kepada Tuhan untuk keselamatan putriku yang sekarang sedang berusaha melahirkan anak pertamanya.”

“Kalau begitu, bawalah separuh cahaya ini kepada putrimu. Usapkan saja cahaya ini ke kepalanya. Cucumu akan lekas lahir. Tapi,” kata sosok bercahaya itu dengan wajah murung.

“Tapi apa?”

“Tapi, kalian harus menjaga beringin ini. Beringin ini sudah menjadi bagian dari dirinya. Kau tahu maksudku, Kakek.”

Kakekku bercerita bahwa dia melihat sosok bercahaya itu membelah dirinya. Separuhnya kemudian terbang secara perlahan menuju telapak tangan kakekku.

Dengan tangan yang bersinar itu, dia berterima kasih kepada sosok bercahaya yang tinggal separuh itu dan berlari kembali ke klinik. Di sana, ibuku masih berusaha untuk melahirkanku.

Sesuai petunjuk dari sosok bercahaya tadi, kakek segera mengusapkan kedua telapak tangannya di kepala ibu. Tidak lama kemudian, kepalaku mulai terlihat.

Aku yang bersimbah darah itu keluar dari gua garba ibu dan menapaki sebuah kehidupan baru di luar rahim. Sebuah dunia yang kutinggali sekarang ini.

Selain kepadaku, kakek juga menceritakan kisah ini kepada ayahku, menantunya. Kami sekeluarga kemudian menjaga pohon itu dengan baik dan tidak membiarkan ada yang usil dengan pohon itu.

Sampai-sampai, kakekku dimusuhi oleh para tetangga karena terlalu berlebihan. Dia melarang ada yang mematahkan ranting, akar yang menggantung, atau bahkan iseng memetik daunnya.

Tanah yang di tempat pohon beringin itu bukan milik kakek, melainkan milik desa. Karena hal itulah kakek dimusuhi para tetangga.

“Si Tua itu semakin hari semakin sinting saja.” Begitulah caci mereka yang secara tidak sengaja kudengar saat pulang dari sekolah. Agar tidak menambah masalah, aku tidak menceritakan hal itu kepada kakek.

Tapi, sepertinya dia juga akan bersikap santai karena sudah melindungi pohon itu selama lima belas tahun.
Saat berusia lima belas tahun itulah, ketika banyak hal mulai masuk ke dalam pikiranku, aku mulai meragukan cerita kakekku.

Bahkan, aku menuduhnya telah melakukan tindakan musyrik. Aku mulai mendatangi pohon itu secara diam-diam sambil membawa sebilah pisau, sekadar untuk membuktikan cerita kakekku.

Hal pertama yang kulakukan adalah memandangi pohon beringin yang begitu besar itu. Melihatnya saja, bulu kudukku mulai berdiri.

Seolah ada aura mistis yang dipancarkan dari pohon itu. Kemudian, aku perlahan mendekatinya. Pertama, kuraba-raba beberapa daun yang dapat kujangkau. Aku belum berani untuk memetiknya. Lalu, kusentuh batang pohonnya. Terasa kasar.

“Apakah benar sebagian dariku adalah pohon ini?” gumamku.

Kemudian, kupegang salah satu akar yang bergelantungan. Dengan pisau di tanganku, aku potong akar tersebut hingga putus seputus-putusnya.

Setelah memotong akar itu, aku merasakan sebuah sayatan di bagian belakang kakiku. Saat itu, karena mengenakan celana pendek, aku bisa melihat sayatan itu dengan jelas.

Sebuah sayatan yang begitu halus tapi mengucurkan darah. Aku segera berlari dengan kaki kesakitan menuju rumah.

Di rumah, kakekku, hanya dengan melihat luka di kakiku, sudah tahu apa penyebabnya. Saat itulah kemarahannya meledak.

Di depan kakekku yang marah, aku hanya bisa menunduk sambil ibuku membersihkan luka di kakiku. Ayahku yang baru saja pulang dari bekerja tidak berani ikut campur.

Dia, sepertinya, sudah tahu betul watak kakekku atau mertua laki-lakinya. Dia menyerahkan semuanya kepada ibu.

Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, kakekku pun wafat seminggu setelah memarahiku atau mungkin seminggu setelah aku memotong salah satu akar pohon beringin di ujung desa.

Aku tidak tahu mana yang tepat. Tapi, keduanya melibatkan diriku. Aku pun merasa bersalah, merasa bertanggung jawab atas kematian kakekku.

Bisa dibilang, aku menganggap diriku adalah penyebab kematiannya. Sebagai gantinya, aku pun turut menjaga pohon itu.

Bertahun-tahun kemudian, desa tempatku dilahirkan dan tumbuh besar telah berkembang cukup pesat.

Jalanan di desa yang berlubang-lubang dan sesekali membuat orang yang melintasinya kecelakaan, meskipun tidak sampai meninggal, telah dibangun, diperbaiki, dan ditinggikan dengan cor.

Jalanan lebih mulus dan lebar. Desa yang dulu sepi itu kini menjadi ramai. Keramaian itu juga membawa berkah bagi beberapa orang.

Tapi, bukan itu masalahnya. Sebuah rencana membangun sebuah kompleks perumahan murah mulai terdengar desas-desusnya.

Mereka akan membangunnya di ujung desa, tempat pohon itu berdiri kokoh selama berpuluh-puluh tahun.

“Pohon beringin itu mengganggu. You tolong bantu potong pohon itu. Kayunya boleh you jual atau gunakan untuk keperluan lain. Yang penting, pohon itu bisa hilang,” kata salah seorang dari kota kepada Pak Kades dengan suara keras sehingga kami semua yang ada di balai desa bisa mendengarnya.

Orang-orang memberitahuku untuk tidak mengacau. Mereka sepertinya masih menyimpan dendam kepada kakekku.

Barangkali, yang mereka pikirkan adalah bahwa tabiat kakekku telah menurun kepadaku dan aku akan mencegah penebangan pohon beringin itu.

Memang demikian. Aku pun mengangkat tangan dan mengajukan usul.

“Mengapa harus menebang pohon beringin? Pohon itu sudah ada selama berpuluh-puluh tahun. Awas kualat.”

“Eh, kualat apa? Masa bodoh dengan kualat. Pohon itu tidak membuat cantik pemandangan. Apakah itu pohonmu? Kalau bukan, sebaiknya kau diam.”

Orang-orang yang lain juga geram denganku. Pada pertemuan warga berikutnya, mereka bahkan tidak mengundangku.

Jadi, aku pergi ke tempat pohon itu berada dan duduk di bawahnya. Aku bahkan sempat tertidur di sana. Saat tertidur, aku bermimpi bertemu dengan kakekku.

“Senang aku bisa bertemu denganmu lagi, Cu,” kata kakekku. Hanya itu yang dikatakannya. Segera setelah itu, aku terbangun.

Beberapa orang terlihat mendekat. Mereka membawa sebuah gergaji mesin yang bunyinya berdengung-dengung.

“Mas, bisa minggir sebentar? Permisi ya. Kami disuruh untuk menebang pohon.”

“Apa?”

“Menebang pohon.Tempat ini akan didirikan perumahan.”

Aku ingin mencegah mereka. Tetapi, beberapa tetanggaku yang geram dengan sikap kakekku dulu, mencengkeramku dan melemparkanku menjauh dari tempat itu.

Gergaji mesin mulai menyala. Suaranya berdengung-dengung. Secara perlahan, si penggergaji itu mendekatkan mata gergajinya ke batang pohon.

Serpihan-serpihan kayu mulai berjatuhan. Saat itulah, aku merasa ada tangan yang mencekik leherku. ***

Catatan:

Kisanak: Sapaan bisa diartikan anda atau saudara.

Mochamad Bayu Ari Sasmita, lahir di Mojokerto pada HUT RI ke-53. Menyelesaikan studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (2021). Untuk saat ini, beberapa cerpennya pernah dimuat di detik.com dan maarifnujateng.or.id. Sekarang tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...