Sejumlah Warga di Bandar Lampung tak Bisa Divaksin karena Alasan Medis

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Gencarnya pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dalam rangka mencapai imunitas kelompok (herd immunity) terus dilakukan. Tak kecuali, di Bandar Lampung. Namun, sebagian warga terpaksa tak bisa divaksin lantaran berbagai alasan medis.

Jaja Saepuloh, warga Kelurahan Gedong Air, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, mengaku pentingnya vaksinasi Covid-19. Namun dengan alasan medis dan hasil konsultasi dengan dokter, ia yang memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid stroke ringan memilih tidak divaksin. Sebagai buktinya, ia menyediakan surat keterangan dari dokter.

Warga asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang kini berdomisili di Bandar Lampung itu bilang, tetap bisa melalukan perjalanan antarwilayah meski belum divaksin. Saat pulang ke kampung halaman, ia membawa surat keterangan dari dokter tentang riwayat penyakit.

Ia juga tetap menjalani proses rapid test antigen saat akan menyeberang dengan kapal ferry dan ia pun masih rutin mengonsumsi obat untuk stroke ringan yang diderita.

Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Samsu Rizal, saat ditemui, Jumat (5/3/2021). -Dok: CDN

“Saya bukan tidak mau divaksin, pernah dapat undangan dari kelurahan karena usia, namun dengan pertimbangan medis dan konsultasi dokter, sementara tidak bisa menerima vaksin, namun demi menjaga kesehatan tetap saya memperhatikan protokol kesehatan, jika penyakit yang saya derita membaik, kemungkinan baru bisa vaksin,” terang Jaja Saepuloh, saat ditemui Cendana News, Jumat (1/10/2021).

Jaja Saepuloh bilang, masih rutin mengonsumsi obat berimbas buruk jika divaksin Covid-19.

Sementara itu, Sutirman, warga Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, mengaku dua kali gagal mengikuti vaksinasi karena tensi atau tekanan darah yang berada di atas normal. Ia pun mengakui jika tensi darahnya yang naik dipengaruhi oleh pola makan dan seringnya begadang.

“Setelah melalui proses bertahap dan saya mematuhi anjuran tenaga kesehatan, tensi mulai normal dan bisa divaksin,” ulasnya.

Proses vaksinasi Covid-19, sebut Sutirman dilakukan dengan pengecekan kesehatan. Sebelum dilakukan pengecekan riwayat kesehatan, tensi darah, petugas kesehatan melakukan swab antigen. Berusia lebih dari 60 tahun, membuat ia tetap ingin divaksin. Ia tidak menderita penyakit penyerta, sehingga bisa menjalani vaksinasi di Gedung Serba Guna (GSG) Raden Intan, Penengahan.

Pemberian vaksinasi bagi sejumlah kelompok prioritas juga telah menyasar individu berusia lebih dari 12 tahun.

Gaby, salah satu warga asal Desa Pasuruan yang duduk di bangku SMP, mengaku senang bisa ikut dalam program vaksinasi. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan tensi darah, swab antigen dan dinyatakan negatif, ia bisa menerima vaksin Covid-19.

“Sekolah akan memberlakukan pembelajaran tatap muka, salah satu syarat harus sudah divaksin, sehingga saat ada kesempatan daftar,” ulasnya.

Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Samsu Rizal, menyebut vaksinasi Covid-19 penting untuk menjaga kekebalan komunal. Penting diketahui bagi yang memiliki faktor risiko dan penyandang penyakit tidak menular (PTM) untuk mengetahui manfaat vaksinasi. Vaksinasi merangsang sistem kekebalan tubuh dan mengurangi risiko terjadinya penularan Covid-19.

Samsu Rizal menyebut, dengan divaksin akan tercipta kekebalan kelompok. Saat tertular Covid-19, maka dampaknya tidak berat. Meski demikian, bagi individu yang memiliki penyakit penyerta disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Fungsi dari pendataan atau screening sebelum vaksin, membutuhkan kejujuran. Sebab, sejumlah penyakit penyerta kerap hanya diketahui oleh individu yang akan divaksin.

“Harus jujur riwayat penyakit yang diderita, sebab jika tetap divaksinasi, maka tubuh bisa mengalami reaksi tertentu,” ulasnya.

Ia mengatakan, bagi yang enggan atau belum bisa divaksin dengan alasan medis, perlu ada surat keterangan. Saat tidak hendak divaksin bisa meminta surat keterangan dari Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP). Dalam kondisi medis yang tidak bisa divaksin, individu tetap berhak tidak menerima vaksin.

“Dan, meski sudah divaksin atau enggan divaksin untuk alasan medis, warga tetap harus menjaga kedisplinan protokol kesehatan,” tegasnya.

Lihat juga...