Sembilan Puluh Sembilan Tikungan

CERPEN IIN FARLIANI

LAKI-laki itu bersandar pada pohon kelapa yang batangnya merunduk hampir menyentuh pasir. Ia menatap lurus ke depan, sesekali memperbaiki posisi kaca matanya kemudian melipat kembali kedua tangannya, bersedekap dengan tenang.

Wirya memperhatikan laki-laki itu. Meski kali ini laki-laki itu tidak membuat Wirya sejenak menepi ke pinggir, meninggalkan patok-patok yang sedang disusunnya sebagai bakal sarang telur penyu, dia masih merasa terganggu dengan kehadirannya.

Dia tahu laki-laki itu mengawasi dari belakang. Dia tahu juga kalau laki-laki itu akan terus menunggu hingga pekerjaannya selesai, dan itu cukup membuat Wirya merasa tidak nyaman.

Wirya lalu berpura-pura melanjutkan pekerjaannya, menancapkan beberapa bilah bambu dengan pola melingkar sampai terlihat begitu rapat dengan patok-patok yang telah ditancapkan sebelumnya. Setelah itu, dengan enggan, dia mengikat patok-patok itu menggunakan tali rafia tanpa mengencangkan simpulnya.

Laki-laki itu pernah datang menggunakan jipnya. Barangkali lebih dari sebelas kali. Ia akan mengangguk pada Wirya, seolah memberi isyarat permisi, lalu berjalan terseok-seok menuju patok-patok yang dibuat sepanjang pantai itu.

Wirya akan mengikutinya dari belakang, memandang dengan wajah cemas, memperhatikan tindak-tanduk laki-laki itu seakan bersiap memasang tameng, menjaga telur-telur penyu agar tetap utuh.
Dan hari ini, laki-laki itu kembali lagi.

“Tenang. Aku tidak datang untuk mencuri. Bukankah sudah kukatakan, aku bisa mendapatkan telur penyu itu jika saudara yang mengizinkan?”

“Jawabannya tetap sama. Telur penyu itu tidak dijual. Apalagi diberikan secara cuma-cuma.”

“Aku tidak pernah memintanya secara cuma-cuma. Dan soal harga, aku serahkan pada saudara. Jelasnya, aku ingin saudara memberi telur penyu itu atas kemauan sendiri.”

Wirya menatap laki-laki itu tanpa berkedip. Barangkali karena terkesan dengan keteguhannya. Sudah berapa kali laki-laki itu mengatakan hal yang sama dan sudah berulang pula Wirya menyatakan penolakannya.

Tetapi laki-laki itu tetap datang menemuinya. Memberitahu kalau istrinya yang tengah hamil tiga bulan sangat menginginkan telur penyu itu.

Laki-laki itu memang tak punya pilihan selain ke tempat Wirya. Sekarang sangat sulit menemukan telur penyu di pasar. Aturan yang memberi sanksi pada pedagang telur penyu ilegal sangat ketat diberlakukan.

Wirya tahu itu. Tetapi yang mengejutkannya, ketika laki-laki itu pertama kali datang, adalah kenyataan bahwa laki-laki itu ialah mahasiswa yang belasan tahun silam pernah melakukan karya wisata di tempat penangkaran penyu milik ayahnya ini.

Wirya, yang kala itu masih bocah, bersama ayahnya ikut menjelaskan kepada para mahasiswa bagaimana siklus hidup penyu, makanannya, kapan mereka bertelur, dan bagaimana cara membuat sarang telur penyu.

Wirya ingat betul wajah mahasiswa itu, yang kemudian ditunjuk mewakili kampusnya untuk secara berkala mengampanyekan perlindungan bagi jenis penyu yang hampir punah.

Sesudah menjadi alumnus pun, laki-laki itu masih sering muncul mengampanyekan perlindungan bagi biota laut yang langka. Bahkan sering pula ia diundang sebagai pembicara dalam acara televisi.

Sekarang laki-laki itu datang dengan maksud membeli telur-telur penyu itu. Penyu paling langka! Ada satu hal yang membuat Wirya bertanya-tanya, apakah laki-laki itu sama sekali tak mengingatnya?

Wirya masih mengingat jelas pengalaman ketika menjelang subuh, ayahnya membangunkannya yang masih lelap dalam tidur. Mereka kemudian berjalan menyusuri pantai sambil membawa lampu senter.

Tubuh mereka diselimuti jaket tebal dengan sarung yang dililitkan di leher. Wirya mengikuti langkah ayahnya yang begitu cepat. Ayahnya begitu cermat dan waspada menyorotkan lampu senter pada setiap titik patokan sarang telur penyu yang telah ia hapal letaknya.

Mereka akan berlari lebih kencang saat melihat dari kejauhan seekor anjing yang sedang sibuk mencakar-cakar sarang telur penyu mereka. Wirya akan memungut apa saja yang ditemukannya di pantai lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah anjing itu.

“Anjing sialan!” pekiknya.

Terkadang mereka menemukan beberapa butir telur yang telah hancur. Sisa telur yang amis dan kental bercampur dengan pasir pantai.

Mereka menyingkirkannya, lantas menyelamatkan telur-telur yang masih tersisa lalu memperbaiki patok sarang penyu dan memastikan ikatan patok itu sudah kencang hingga tak mudah digoyahkan oleh predator penyu lainnya.

Wirya bocah banyak melalui pengalaman manis bersama mahasiswa maupun aktivis lingkungan yang secara rutin melakukan kunjungan ke penangkaran.

Mereka beramai-ramai melepas anakan penyu yang begitu mungil, melihat tungkai-tungkai kecil anakan penyu itu berusaha mengimbangi gerakan ombak yang membuat gaya berenang mereka sejenak terhuyung-huyung, hingga akhirnya perlahan-lahan anakan-anakan penyu itu dapat berenang jauh dan tak terlihat lagi.

Wirya bocah yang juga menyukai kegiatan membuat gambar penyu di papan kayu yang di bawahnya diselipi slogan berupa ajakan agar senantiasa menjaga penyu dan habitatnya.

Wirya ingat laki-laki itulah yang bisa menggambar penyu paling indah, sangat mirip dengan aslinya. Wirya masih memajang gambar itu di rumahnya: penyu hijau dengan latar laut biru yang begitu terang.

Wirya sudah mengurus penangkaran penyu itu cukup lama sejak ayahnya meninggal. Saudara-saudaranya yang sudah menikah pindah ke kota. Mereka mempercayakan penangkaran penyu itu padanya.

Lagi pula, siapa yang dahulu paling rajin membantu Ayah mengurusi penyu-penyu itu, kalau bukan kau, Wirya?

Begitulah selalu ucapan yang didengar Wirya bila sesekali dia mengingatkan saudara-saudaranya betapa perlu untuk menjenguk penangkaran penyu yang dibangun sendiri oleh ayah mereka.

Tetapi saudara-saudara Wirya tidak pernah datang, justru laki-laki itulah yang kerap datang yang tampaknya juga telah lupa pada gambar penyu yang pernah diberikannya ke Wirya.

Ia bahkan tak ingat pada Wirya, bocah yang ikut menambahkan cat pada gambarnya dan bersamanya mengagumi gambar itu. Itulah yang dipikirkan Wirya bila kini melihat sikap laki-laki itu terhadapnya.

Pada kedatangan berikutnya, laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Ia belum menyerah dan sepertinya tidak akan menyerah begitu saja. Wirya tak habis pikir, mengapa hanya untuk memenuhi keinginan istrinya, laki-laki itu sampai berani bertindak sejauh ini.

“Cuma ngidam? Saudara berkata cuma ngidam?” Laki-laki itu melepas kacamatanya, menatap Wirya sambil menahan silaunya sinar matahari, matanya menyipit.

“Saudara adalah suami yang baik. Saudara rela datang jauh-jauh demi mengabulkan permintaan istri yang tengah hamil muda. Itu perbuatan yang luar biasa. Perempuan manapun pasti amat tersanjung bila memiliki suami yang rela berkorban sejauh ini. Aku kagum.”

Wirya menanti jawaban laki-laki itu. Tetapi, si laki-laki hanya tersenyum kecut. Ia sibuk meraba kantung celananya dan mengeluarkan rokok.

“Tapi kini sepertinya kebaikan yang saudara perbuat benar-benar salah tempat. Tidakkah saudara mengerti? Tentu seharusnya mengerti. Aku masih sering melihat saudara berbicara di televisi.”

“Jangan membawa-bawa pekerjaanku. Semua orang perlu uang. Saudara juga, bukan? Aku tidak yakin saudara benar-benar ingin merawat penyu-penyu ini tanpa imbalan.”

Lihat juga...