“SI DUNGU – SEPERJALANAN”

Oleh: Brigjen TNI (Purn) Drs. Aziz Ahmadi, M.Sc.

Brigjen TNI (Purn) Drs. Aziz Ahmadi, M.Sc.

Bulan September, baru saja berlalu. Nyaris tidak ada, “September Ceria”. Di bulan itu, media sosial termasuk WA, dibanjiri postingan tentang, G30S/PKI. Berbagai video, foto, meme atau poster, serta artikel atau komentar, berseliweran. Silih berganti dan berulang.

Bingung?

“Tidak masalah. Tidak pula terlalu salah. Bahkan, bagus dan amat perlu. Sebagai pengingat dan penyegar kewaspadaan (nasional). Wanti-wanti, jangan sampai sejarah hitam seperti itu kembali terulang” … kata yang di “kanan” sana. Pastinya, dengan penuh semangat. Juga heroisme dan romantisme perjuangan yang tetap menggebu.

“Memangnya, tidak ada yang lebih penting dari itu? Dari sekadar berita musiman yang didaur ulang? Begitu, dan itu-itu saja”? Kenapa, yang sudah mati dan tiada, diungkit-ungkit lagi?”, kata yang di “kiri” sini. Tentunya, dengan penuh sinisme dan arogansi. Seraya bersungut dan marah-marah, membela diri.

Ada satu meme atau poster yang viral. Lebih fresh dan menarik, juga lebih lugas dan cerdas. Teks posternya sebagai berikut:

“Ketika kita bahas sejarah penjajahan Belanda, orang Belanda gak panas, karena penjajah Belanda udah gak ada” …

“Ketika kita bahas sejarah penjajahan Jepang, orang Jepang gak panas, karena penjajah Jepang udah gak ada” …

“Tapi, ketika kita bahas sejarah PKI, ada sebagian orang yang panas, padahal mereka sendiri yang bilang, “PKI udah gak ada” …!

“Bingung, kan?”

Kawan Seperjalanan

Bro n Sis, tidak usah bingung. Tapi, bagaimana tidak bingung, sih … Sudah dilarang, sudah mati, sudah tidak ada, tapi kenapa masih juga bisa dengan percaya diri cuap-cuap  dengan gegap-gempita? Di sinilah, inti persoalannya.

Dalam kamus komunisme, ada diksi/narasi yang disebut, “Kawan Seperjalanan” (fellow traveller) ; dan “(Si) Dungu yang Bermanfaat” (useful idiot).

Kawan Seperjalanan merupakan istilah yang bersifat peyoratif. Menghina atau merendahkan. Namun, ironisnya mereka yang disasar tidak merasa dihina dan direndahkan. Sebaliknya, justru merasa bangga. Penuh semangat pasang badan.

Siapakah yang dimaksud fellow traveller atau Kawan Seperjalanan itu? “Rasanya, memang aneh sekali. Pikiran, sikap dan tindakan mereka, sudah sebegitu sungsangnyakah?”

Soetoyo NK dalam Bukunya, “Fellow Traveller” – Peranan Palu Arit Dalam Kehidupan Bangsa Indonesia, menulis, …”Fellow Traveller atau kawan yang ketemu di jalan sebagai pembela Palu-Arit, adalah useful idiot” …

Mereka adalah orang yang bersimpati terhadap kepercayaan atau ideologi tertentu. Atau mereka yang ikut serta pada kegiatan organisasi tertentu. Tapi, tidak terdaftar secara resmi sebagai anggota organisasi tertentu itu. Singkatnya, anggota tanpa KTA (Kartu Tanda Anggota).

Konon, istilah ini dipakai pada masa awal Uni Soviet. Ditujukan kepada para penulis dan seniman yang bersimpati terhadap tujuan Revolusi Rusia. Tapi, mereka tidak mau bergabung dengan Partai Komunis (Rusia).

Di Amerika Serikat, istilah Kawan Seperjalanan mulai dipakai pada 1940/1950-an. Sebagai peyoratif untuk para simpatisan komunisme, yang bukan pejabat atau “pemegang kartu anggota” Partai Komunis.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tak diketahui secara pasti. Mungkin sejak era reformasi. Berani secara terang-terangan menunjukkan jatidiri. Atau “bersembunyi di tempat yang terang”. Namun, boleh jadi sudah ada sejak sebelumnya. Tapi, masih takut dan sembunyi-sembunyi.

Pastinya, komunis/PKI melalui kawan seperjalanan/ketemu di jalan, – meminjam istilah Soetoyo NK – “akan terus berupaya meringankan dosa, menghapus dosa dan mendosakan pihak lainnya”.

Si Dungu Bermanfaat

Kawan Seperjalanan, seringkali dituduh menggadaikan harkat dan martabatnya, demi menaikkan popularitas organisasi komunis. Muncullah kemudian, istilah, Useful Idiot. “(Si) Dungu yang Bermanfaat”.

Dalam jargon politik komunis, istilah Idiot yang Bermanfaat, setali tiga uang. Merupakan istilah pelecehan atau menghinakan juga. Memiliki spirit sinisme untuk merendahkan. Kepada siapa? Seseorang atau siapapun, yang dianggap ikut serta mempropagandakan suatu tujuan, tanpa sepenuhnya memahami tujuan dan penyebabnya.

Selama Perang Dingin, fellow traveller dan useful idiot, dipakai – nyaris – selalu bersamaan. Menggambarkan “non komunis yang dianggap rentan terhadap pengaruh komunis, propaganda dan manipulasi”.

Seorang penulis dan wartawan senior, Mahpudi, mengatakan frasa Idiot yang Bermanfaat, seringkali dikaitkan dengan Vladimir Lenin.

Lenin berkata, “Saya lebih suka komunisme menyebar atau disebarkan oleh para  usefull idiot. Tidak perlu mereka menjadi anggota Partai Komunis. Tapi, mereka dengan gigih, membela, memperjuangkan, dan selalu mendukung ideologi kita. Kelak, setelah situasinya menjadi sangat mungkin, kitalah yang harus mengambil alih”.

Ancaman Riil

Pertanyaannya sekarang, siapa yang memenuhi kategori “Kawan Seperjalanan” dan “(Si) Dungu yang Bermanfaat”, itu?

Tentunya, ya siapa saja – sendiri atau kelompok – yang berguna bagi Partai Komunis untuk mencapai tujuannya. Siapapun mereka, akan jauh lebih baik daripada anggota yang banyak, tapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Jadi, tidak usah heran. Jika dikatakan sudah mati, sudah tidak ada, tapi masih bisa bersilat lidah dan marah-marah.

Ideologi komunis memang “cerdik bin lihai”. Di sini, di negeri +62 ini, mereka tengah memainkan kartu (baru). Memakai topeng, perisai, dan trik jitu. Eksis melalui cover, “kawan seperjalanan yang idiot/dungu, tapi bermanfaat”, itu.

Konkritnya, kalau mencari dan berbicara Partai Komunis Indonesia, tentu tidak akan pernah bisa lagi diketemukan. Namun, pegang teguh kuncinya, waspada. “Ideologi komunis, melalui “Kawan Seperjalanan” dan “(Si) Dungu yang Bermanfaat”, tetap menjadi ancaman nyata. Tetap bergentayangan dan berseliweran, di sekitar kita”.

Mereka terus bekerja dengan menghalalkan segala cara. “Menipiskan dosa; Menghapus dosa ; dan Mendosakan pihak lainnya”.

Salam Sehat,

Tetap Waspada tanpa Paranoid/Curiga

Jakarta, 5 Oktober 2021

Lihat juga...