Stabilkan Harga di Sulteng, Bulog Serap Telur Ayam Milik Peternak

Pekerja menaikkan telur ayam yang baru dipanen ke atas kendaraan di salah satu peternakan di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14//6/2020) - Foto Ant

PALU – Perum Bulog Sulteng, terus berupaya menyerap telur ayam milik peternak, dalam rangka untuk menstabilkan harga komoditas tersebut di daerah tersebut.

“Kami berusaha semaksimal mungkin dan pastinya kami optimistis, bisa menstabilkan harga pascaanjlok, karena semua tim kami kerahkan, apa lagi umat muslim dalam waktu dekat menghadapi Maulid,” kata Kepala Bidang Komersial Bulog Sulteng, Aan Ari Wijaya, Rabu (6/10/2021).

Sepinya permintaan telur, merupakan salah satu faktor melimpahnya stok di wilayah Sulawesi Tengah. Sehingga terjadi penumpukan dalam waktu yang lama. Kepada para peternak, Bulog hingga kini membeli komoditas telur dengan harga Rp32 ribu hingga Rp33 ribu per rak. Jumlahg tersebut lebih baik, dibanding dengan harga dari pihak lain, yang hanya membeli Rp20 ribu hingga Rp23 ribu per rak.

Sedangkan, harga normal telur, rata-rata mencapai Rp40 ribu sampai Rp45 ribu. Rata-rata harga telur itu adalah bentuk komitmen Bulog, untuk merangsang kestabilan harga kepada para peternak. “Kalau harga anjlok di pasaran kami langsung melakukan intervensi, artinya harga dinaikkan sedikit, untungnya memang tipis, tetapi inilah bentuk dari Bulog hadir membantu masyarakat mulai dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

Saat ini, sejumlah pasar tradisional di Kota Palu, seperti Pasar Inpres Manonda, Masomba dan Tavanjuka, harga telur dengan jenis broiler dijual seharga Rp21 ribu per kilogram. Sedang telur ayam kampung berkisar Rp48 ribu per kilogram.

Kemudian, pada tingkat produsen, harga yang murah tersebut dinilai tidak seimbang dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan. “Harga pakan makin naik, tapi harga telur ayam turun sekarang. Jadinya, biaya produksi lebih tinggi hampir mencapai 70 persen, dibandingkan hasil yang kami dapatkan,” ungkap Rahmat, salah satu peternak ayam petelur di Kabupaten Sigi.

Rahmat berharap, pemangku kepentingan bisa segera mengambil langkah-langkah solutif, untuk mengembalikan harga telur seperti sebelumnya. (Ant)

Lihat juga...