‘Sun on the Lake’ Sarat Petuah dan Pengetahuan Alam

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Tanah adalah ibu, air adalah ayah. Tanah air melahirkan kehidupan. Demikian pesan yang disampaikan nenek pada Dara. Tak hanya mengajarkan, bahwa keluarga adalah hal yang utama dalam kehidupan, tapi interaksi santun dengan alam adalah refleksi keberhasilan manusia dalam mengarungi kehidupan. 

Rangkaian petuah yang mengalir secara indah dalam film Sun on the Lake, inilah yang meyakinkan Penulis buku Sun on the Lake Kirana Kejora, bahwa buku ini akan dapat diterima oleh para generasi milenial, khususnya generasi Z.

Kirana mengaku tak mudah untuk menyampaikan pesan pemerintah terkait kelestarian lingkungan pada masyarakat. Tapi, dengan kerja solid para periset lapangan dan kedisiplinan waktu kerja, film Sun on the Lake yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup ternyata berhasil meraup decak kagum para penontonnya.

Kirana mengisahkan, selama perjalanan riset pembuatan buku dan teaser Sun on the Lake, semua tempat yang dikunjunginya memiliki cerita, dan hal itu membuatnya mati kata. Dan tak hanya itu, pembuatan novel ini bersamaan dengan pembuatan filmnya.

Penulis buku Sun on the Lake Kirana Kejora, memaparkan pengalamannya saat melakukan riset dan penulisan buku Sun on the Lake, saat dihubungi, Minggu (10/10/2021). –Foto: Ranny Supusepa

“Novel saya yang lain pun juga berbasis pada suatu kejadian atau true story. Tapi dalam penulisan Buku Sun on the Lake ini, bisa dikatakan penuh dengan data premier yang kuat dan memenuhi 75 persen dari isi novel. Dan, untuk menghidupkan narasi data itu agar tidak membosankan, maka dibangunlah rangkaian perjalanan Dara, si tokoh utama dalam mencari kunci kotak peninggalan neneknya,” kata Kirana saat dihubungi, Minggu (10/10/2021).

Kirana pun bertutur bagaimana perhitungan akurat dan disiplin waktu selalu menjadi bagian dalam perjalanan risetnya membelah keindahan alam Danau Sentarum. Meleset sedikit, maka dirinya dan tim harus menghadapi fenomena alam yang akan menahan mereka hingga keesokan harinya.

“Dalam riset itu, saya mencoba membangun suatu cerita untuk memperkenalkan keindahan, budaya hingga cerita dari Danau Sentarum kepada generasi Z atau milenial pada umumnya, yang saya sendiri juga baru melihatnya. Sementara, perjalanan itu benar-benar harus diperhitungkan agar tak terkena badai atau tak tertahan di satu titik,” tuturnya.

Tak hanya memberikan hal berbeda dalam penyusunan novelnya, Kirana juga menyebutkan tak sedikit ilmu yang didapatkan olehnya selama proses pengumpulan data dan penulisan buku Sun on the Lake ini.

Misalnya, melalui perjalanan ini dirinya bisa melihat Anggrek Hitam. Yang kalau mendengar namanya, yang terbayang adalah anggrek berwarna hitam.

“Faktanya, anggreknya berwarna hijau dan hanya ada satu titik hitam di titik pusat bunga. Atau, saya bisa melihat Kantong Semar secara langsung,” tuturnya lagi.

Ia menyatakan, ada puisi, prosa dan 18 foto, yang hadir dalam novel ini untuk memastikan alur cerita bisa menampilkan data yang akurat, tapi tampil tidak membosankan.

“Di sini pentingnya kehadiran Dara yang kembali pulang ke kampung neneknya. Mencari kunci untuk membuka kotak peninggalan neneknya. Yang tersaji dalam rangkaian kenangannya dan diceritakan Dara pada anak perempuannya yang bernama Nira,” kata Kirana.

Senada dengan Kirana, pemeran Dara dalam film Sun on the Lake, Noviana Safitri, mengaku tak hanya takjub dengan keindahan Danau Sentarum, ia juga mendapatkan banyak ilmu pengetahuan baru selama keterlibatannya dalam pembuatan film ini.

“Sejak awal dikasih script-nya, sudah ada sensasi yang berbeda. Saya sudah merinding. Story line-nya sangat unik. Mengangkat budaya Dayak Iban yang seakan terpisah dan memiliki nilai sakral tersendiri di lingkungannya,” kata Noviana, saat dihubungi terpisah.

Sebagai seorang yang menyukai petualangan, ia mengaku tak bisa menolak daya tarik film ini. Apalagi, ini akan menjadi kali pertama baginya untuk berkunjung ke Kalimantan.

“Saya yakin bakal menyenangkan dan terbukti memang menyenangkan. Tak hanya menyenangkan, tapi juga memberi banyak ilmu pengetahuan baru. Jadi, tahu tentang asal mula Red Arwana, jadi tahu juga tentang madu. Dan, yang paling menakjubkan adalah tampilan Danau Sentarum ini sangat berbeda saat kemarau dan penghujan,” urainya.

Ia mengungkapkan, sangat kaget melihat perbedaan area yang pertama kali dilihatnya tertutup oleh air, tapi tiba-tiba menjadi kering saat musim kemarau.

“Saking keringnya, area itu dijadikan lokasi motor cross. Beneran kerasa, lho. Pas riset di Oktober 2020, itu airnya lagi penuh banget. Tapi pas shooting di bulan Maret tahun ini, airnya surut hingga 2 kilometer,” urainya lagi.

Novi menyebutkan, pertama kali reading script adalah September 2021. Dan, dilanjutkan dengan latihan akting dengan Nira, anaknya dalam film Sun on the Lake.

“Sempat ada beberapa kali penyesuaian script. Riset itu bulan Oktober yang diikuti perombakan beberapa script, karena tidak cocok dengan aslinya. Akhirnya, kita berangkat pada bulan Maret tahun ini,” lanjut Novi.

Ia menyebutkan, dalam melakoni sosok Dara, tak ada kesulitan yang berarti. Karena dialognya adalah dialog kehidupan sehari-hari.

“Dialognya benar-benar alami. Seperti kita bertanya pada seseorang tentang sesuatu saja. Tidak terlalu banyak menyusun ekspresi. Hanya memang kendala bahasa saja. Latihan akting dengan pihak Dayak Iban pun on the spot saja,” kata Novi.

Masa shootingnya, lanjut Novi, hanya lima hari saja. Sisa waktu lebih banyak dipergunakan untuk menyesuaikan on cam dan melakukan perjalanan.

“Terkadang seharian hanya perjalanan saja. Atau untuk penyetingan lokasi. Kalau untuk film dokumenter memang seperti itu. Lebih banyak penyesuaian dengan kondisi di sana,” pungkasnya.

Lihat juga...