Targetkan Eliminasi Tb 2030, Pemerintah Tetapkan Langkah Percepatan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Penurunan penanganan Tuberkulosis (Tb) sebagai dampak pandemi, diharapkan dapat dipercepat melalui komitmen pemerintah yang menargetkan eliminasi Tb pada tahun 2030. Percepatan ini tentunya sangat diperlukan, mengingat Indonesia kini menduduki peringkat kedua pada delapan negara di dunia dalam kontribusi penyumbang kasus Tb.

Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, menjelaskan langkah yang dilakukan pemerintah dalam melakukan percepatan eliminasi Tb di Indonesia, dalam acara edukasi online Tb, Jumat (8/10/2021) – Foto Ranny Supusepa

Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, menyebutkan, Tb saat ini menjadi beban di dunia dengan penderita sekitar 10 juta pada tahun 2020.

Di Indonesia, data terakhir pada 14 Juni 2021, yang paling mengkhawatirkan adalah angka kasus Tb Anak yaitu 33.366 anak. Sementara untuk kasus Tb HIV mencapai 8.003 kasus dan Tb dengan resistensi obat 7.921. Provinsi yang memiliki angka penderita Tb tertinggi adalah Jawa Barat.

“Karena itu, pemerintah mencanangkan percepatan eliminasi Tb melalui tiga langkah,” kata Maxi dalam acara edukasi online Tb, Jumat (8/10/2021).

Yaitu pelacakan secara agresif untuk menemukan penderita Tb, ketersediaan stok obat harus terus ada dan memastikan pengobatan dilakukan secara tuntas, serta upaya pencegahan harus dilakukan secara lintas sektor.

“Aplikasi di lapangannya, akan menduplikasi metode pada COVID 19 untuk dilakukan pada Tb. Selain meningkatkan edukasi dan sosialisasi pada masyarakat. Yang didukung dengan penguatan fasilitas dan pelayanan terkait Tb ini,” ujarnya.

Sesuai dengan PP No 67 tahun 2021, maka penempatan Tb dalam berbagai pertimbangan kebijakan pemerintah daerah maupun pusat menjadi bagian upaya percepatan eliminasi Tb tahun 2030.

“Termasuk pelibatan masyarakat, seperti yang dilakukan pada penanganan COVID 19, akan menjadi bagian strategi nasional dalam upaya mengeliminasi atau menurunkan angka Tb di Indonesia,” ujarnya lagi.

Sebagai indikator, Maxi menyebutkan akan bersandar pada dua faktor. Yaitu angka kejadian (incidence rate) dan angka kematian.

“Targetnya penurunan pada dua indikator tersebut. Yaitu menjadi 65 kejadian dan enam kematian dari 100.000 penduduk pada tahun 2030,” tandasnya.

Maxi menyebutkan, upaya akselerasi cakupan penemuan dan pengobatan akan dilakukan pada 4 sektor.

“Pertama, melakukan penemuan kasus secara aktif terutama pada kelompok berisiko. Kedua, memaksimalkan kegiatan investigasi kontak bersama komunitas. Ketiga, perluasan pemberian TPT kepada anak, ODHA dan kontak serumah. Keempat, melaksanakan wajib lapor penemuan kasus Tb dan penguatan sistem surveilans Tb di semua fasilitas pelayanan kesehatan,” tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Sekolah Paska Sarja Universitas Yarsi Jakarta, Tjandra Yoga Aditama menyampaikan, ada 1,4 juta orang yang meninggal pada tahun 2019 karena Tb. Dan 10 juta orang tercatat merupakan orang yang mengidap Tb dengan proporsi laki-laki 5,6 juta, wanita 3,2 juta dan 1,2 juta pada usia anak.

“Dua pertiga dari jumlah kasus itu tersebar di 8 negara. Yang pertama adalah India, diikuti Indonesia sebagai nomor dua. Selanjutnya secara berurut adalah China, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan,” kata Tjandra Yoga.

Permasalahannya bukan hanya pada penyakit Tb itu sendiri, tapi juga pada resistensi obat. Yang akhirnya menyebabkan krisis kesehatan yang lebih buruk.

“Sebelum masa pandemi tercatat peningkatan penanganan Tb secara regional Asia. Yaitu peningkatan pada penemuan kasus Tb sebanyak 20 persen, keberhasilan perawatan juga meningkat dari 79 persen pada tahun 2014nmenjadi 83 persen pada tahun 2017 dan jumlah kematian menurun dari 758 ribu pada tahun 2015 menjadi 658 ribu pada tahun 2018,” urainya.

Selama masa pandemi, sebagai akibat gangguan pada proses identifikasi, akses perawatan hingga ketersediaan obat, tercatat di seluruh dunia, ada 1,5 juta orang yang meninggal akibat Tb.

“Angka ini jauh lebih tinggi dari prediksi awal, yang diperkirakan hanya akan ada penambahan sekitar 350 orang. Tapi setelah dihitung kembali, ternyata potensi peningkatannya hampir lima kali lipat dari jumlah yang diprediksi WHO,” urainya lebih lanjut.

Secara regional, peningkatan cakupan Tb ini disebabkan oleh lima faktor.

“Yaitu terhenti sementara proses identifikasi kasus aktif dan keterbatasan akses pada pelayanan kesehatan, berkurangnya jumlah sampel yang diperiksa di laboratorium karena laboratorium difokuskan untuk melakukan pengetesan COVID 19, terganggunya pengadaan dan ketersediaan obat Tb, proses perawatan yang tertunda serta SDM Kesehatan beralih fungsi dari pemantau pasien Tb menjadi pemantau pasien COVID 19,” kata Tjandra Yoga.

Di Indonesia sendiri, tercatat kasus Tb adalah 845 ribu dengan tingkat kematian 98 ribu atau setara dengan 11 kematian per jam.

“Karena angka temuan dan pengobatan baru 67 persen, maka ada potensi 238 ribu pengidap Tb yang tidak teridentifikasi yang berisiko menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya,” tuturnya.

Target eliminasi Tb yang ditargetkan pemerintah tahun 2030, disampaikan oleh Tjandra Yoga, selaras dengan SDGs.

“Pada poin ketiga SDGs disebutkan eliminasi berbagai penyakit yang selama ini menjadi perhatian global juga. Dengan adanya COVID 19, maka yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan langkah penanganan agar keduanya bisa berjalan seiring,” pungkasnya.

Lihat juga...