Tauge Rebus Khas Betawi di Cibitung

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Tak ingin menjadi beban dan merepotkan anak dan cucunya, menjadi alasan Gofar atau akrab disapa Uwa Obong, meski diusianya yang telah 96 tahun tetap berjualan tauge rebus khas Betawi dengan mendorong gerobak dari pangkalan satu ke pangkalan lainnya.

Keuletan Uwa Obong, di usia sepuh setidaknya menjadi perhatian banyak orang. Tak sedikit dari mereka mampir saat melihat sang Kakek tengah mangkal, di Jembatan Utama Kali Bojong Koneng, Telagamurni, Cibitung, untuk membeli kudapan dari bahan baku tauge dicampur kuah tauco yang dijajakan dengan gerobak dorong itu.

Seminggu lalu Uwa Obong tak terlihat, di pangkalan yang biasa tempatnya berjualan seperti biasa, yakni di depan SDN 01 Telaga Murni, ketika pagi atau pun saat menjelang sore ditempat mangkalnya di Jembatan Utama Kali Bojong Koneng, Kecamatan Cibitung, Kabupaten, Bekasi, Jawa Barat.

“Seminggu lalu, badan kurang enak mungkin karena berganti musim. Kaki ga kuat untuk berjalan, mulai jualan lagi ini baru dua hari ini, biar bisa lebih sehat lagi jika di rumah saja bisa tambah sakitnya,” papar Uwa Obong saat ditemui Cendana News tempat mangkalnya di Jembatan Utama Kali Bojong Koneng, Sabtu (23/10/2021).

Ia pun bercerita tentang tauge rebus kudapan yang dijualnya sejak puluhan tahun silam tersebut dengan cara menggunakan gerobak dorong untuk berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya.

Tapi sekarang diakuinya tak bisa lagi ngider jauh sehingga memilih mangkal di dua tempat di wilayah Cibitung saja, yakni di depan SD Negeri dan jembatan utama Telagamurni. Hal itu dilakukan karena tak lagi kuat untuk berkeliling.

Uwa Obong penjual tauge rebus legendaris yang masih berkeliling di wilayah Telagamurni, Cibitung, Kabupaten Bekasi. Usianya kini sudah 96 tahun, Sabtu (23/10/2021). -Foto M. Amin

Menurut Uwa Obong saat ini porsi jualannya pun berkurang, dulu jualan bisa 10 kilogram tauge lebih sekali berkeliling, sekarang di bawah 5 kilogram, karena tidak kuat lagi mendorong gerobak dengan beban yang berat. Berjualan baginya saat ini hanya untuk mengisi kekosongan ketimbang dirinya hanya berdiam diri di rumah.

“Saya berjualan ini, untuk mencari kesibukan agar tidak merepotkan anak cucu. Hasilnya pun untuk membantu cucu di rumah. Yang penting saya bergerak, dan masih bisa memberi manfaat,” ujarnya mengaku tauge rebus kudapan khas Betawi ini, masih cukup diminati.

Uwa Obong pun, sampai lupa kapan mulai berjualan tauge rebus khas Betawi. Karena berdagang profesi yang telah dilakoninya sejak muda, dari berjualan katak di Pasar Senen, Jakarta, es lilin pun telah dilakoninya sejak dulu sebelum akhirnya berlabuh dengan kudapan khas Betawi tauge rebus.

“Tauge rebus sebenarnya mirip dengan tauge goreng khas Bogor. Bumbunya pun tauco, hingga membuat kudapan ini terasa nikmat dan khas. Campurannya tahu atau dimakan dengan ketan,” paparnya.

Untuk itu selain tauge rebus, Uwa Obong juga menyediakan lepet, kudapan yang terbuat dari bahan ketan, yang dimasak dengan santan kemudian dibungkus dengan daun pandan duri sebagai camilan untuk dimakan dengan tauge rebus.

Adapun harga tauge rebus per porsi Rp7.000, sedangkan kue lepet, Rp2.000 per biji. Sehari Uwa Obong bisa menjual hampir 5 kilogram tauge rebus.

“Terus bergerak, jangan di rumah saja, meski usia telah mendekati senja. Dengan bergerak, badan terus sehat, soal rezeki itu (telah diatur – Red.) Yang Maha Kuasa, manusia hanya berusaha,” pungkasnya mengakui saat ini fisiknya tidak ada keluhan tapi kena di mata penglihatan mulai buram.

Ahmad Ajat, warga Telagamurni, pelanggan sejak kecil mengakui tauge rebus Uwa Odong di tempatnya sudah melegenda. Semua pasti telah merasakan dan kenal dengan sang penjual keliling Uwa Gofar nama lainnya yang dikenal warga.

“Uwa Gofar atau Uwa Odong ini, berjualan tauge rebus khas Betawi sudah lintas generasi. Saya saja sudah hampir 50 tahun umur sekarang, sejak kecil saya tahu Uwa ini jualan tauge rebus di kampung ini menggunakan gerobak berkeliling,” paparnya.

Lihat juga...