Tedjo Edhy Sebut Pak Harto Jadi ‘Trademark’ Partai Berkarya

Editor: Makmun Hidayat

BOGOR — Dewan Kehormatan Partai Berkarya, Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno, menyebut sosok Presiden ke-2 RI H.M. Soeharto menjadi trademark dari Partai Berkarya yang digawangi oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Sehingga tugas tersebut sangat berat sebagaimana sosok Pak Harto sangat dicintai rakyat.

“Tugas berat Partai Berkarya karena harus menggendong nama Pak Harto. Kenapa? Karena sosok beliau sangat kharismatik, disiplin tapi dekat dengan rakyat,” ungkap Tedjo Edhy selaku Dewan Kehormatan Partai Berkarya dalam arahan pada Rakornas dan Bimtek di Bogor, Minggu (24/10/2021).

“Saya belum mendengar atau melihat beliau marah secara langsung. Kenapa saya mau ketika diminta untuk membentuk Partai Berkarya ini, saya langsung iyakan untuk membalas jasa kepada beliau (H.M. Soeharto – red.),” tambahnya.

Ia pun mengisahkan saat ketika lolos dari Akademi Militer Angkatan Laut hingga mendiang berpulang pada 2008. Saat itu ia menyaksikan kecintaan rakyat kepada sosok almarhum jalan menuju pemakaman mendiang dipenuhi rakyat yang mencintainya untuk bisa turut mengantar ke pemakaman.

“Ketika itu saya sudah Bintang Tiga, bayangkan saking padatnya sampai naik motor ketika ikut ke pemakaman almarhum,” papar Tedjo Edhy.

Untuk itu ia mengharapkan kader Berkarya untuk angkat beliau dan meneruskan cita-citanya untuk Indonesia. Adakan perubahan mindset,  mentalitas dan moralitas tentunya tidak mudah harus mulai dengan disiplin dengan semangat kerja dan etos kerja.

Apa sifatnya yang bisa ditiru dari sosok Pak Harto, adalah optimis, tak sombong. H.M. Soeharto bukan tidak bisa bahasa asing terutama Inggris, bahkan bahasa Belanda pun dikuasainya dengan lancar. Tapi setiap pidato di pertemuan antarnegara ia tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga.

“Kita dorong agar beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional, saya sudah berusaha sebagai Menko Polhukam bahkan sebagai ketua dewan gelar dan tanda kehormatan, untuk mengangkat beliau sebagai Pahlawan Nasional tapi belum berhasil sampai saat ini,” ujarnya seraya mengatakan yakinlah suatu saat akan berhasil.

Terakhir dia meminta setelah ada keputusan inkrah terkait Partai Berkarya agar bisa melakukan rekonsiliasi. Apapun mereka yang  memakai baju putih istilah untuk partai sebelah karena itu masih saudara.

“Tapi rekonsiliasi khusus bagi orang dalam yang dipengaruhi tentunya. Sementara bagi pentolan tentu tidak bisa diterima. Partai Berkarya meski tergolong baru  sudah bisa menyamai partai besar,” pungkasnya.

Lihat juga...