Tertatih, Normalisasi Saluran Irigasi Kali CSH Terus Digesa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Meski dengan tertatih, normalisasi saluran irigasi Kali Cikarang Srengseng Hilir (CSH) guna mengatasi kekeringan di wilayah utara Kabupaten Bekasi terus digesa. Hal itu untuk memenuhi pasokan air areal pertanian warga yang padinya sudah mulai umur setengah sampai sebulan.

Ustaz Jejen Jaenudin koordinator petani gotong royong wilayah Utara Kabupaten Bekasi, Senin (18/10/2021). Foto: Muhammad Amin

“Normalisasi sekarang masih terus berjalan meski dengan dana talangan untuk kesehariannya dari petani sendiri, atau dari grup gotong royong, terkadang sesekali dari Dinas Lingkungan Hidup,” ungkap Ustaz Jejen Jaenuddin, koordinator gotong royong normalisasi irigasi Kali CSH kepada Cendana News, Senin (18/10/2021).

Dikatakan, normalisasi saat ini menggunakan empat unit excavator dari wilayah Kerja Ciliwung Cisadane, dua satu bantuan dari Kali Citarum dan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi. Dua unit excavator tersebut mestinya jadi tanggungan Pemkab Bekasi seperti operator dan biaya Bahan Bakar Minyak (BBM).

Namun, dua unit yang jadi tanggungan pemerintah Kabupaten Bekasi pendanaan tidak lancar. Hingga membuat petani mengupayakan dengan cara gotong royong untuk biaya BBM dan lainnya agar normalisasi Kali CSH tetap berjalan.

“Jika tidak dibiayai oleh petani, sayang dua unit itu tidak berjalan. Kapan selesainya normalisasi. Sementara saat ini saja di Kampung Gerbang Tinggi Desa Jayabhakti, Cabangbungin sawah kekeringan karena tidak mendapatkan pasokan air,” ungkap Jejen.

Diakui Ustaz Jejen, sebelumnya Pemerintah menjanjikan bantuan dana untuk operasional normalisasi Kali CSH melalui CSR, tapi sekarang belum ada kabarnya. Jika menunggu CSR itu maka excavator tidak berjalan, sementara waktu mendesak.

“Setiap hari pelaksanaan normalisasi memerlukan biaya yang tidak sedikit, mulai dari operasional excavator, biaya makan dan lainnya. Dua excavator tanggungan PJT lancar biayanya, meski selama pelaksanaan normalisasi dibayar seminggu sekali, tapi pasti,” ucapnya.

Petani lanjutnya yang membantu mengawal dan menjaga excabator sekarang dengan biaya sendiri. Alasannya Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi belum menganggarkan untuk normalisasi.

Dia pun menyampaikan, kekeringan yang masih terjadi di wilayah hilir dengan jarak ke hulu mencapai 11 Kilo Meter. Saat ini normalisasi di batas Sukatani air yang banyak dimana dengan pendangkalan mencapai 4 Kilometer belum tergarap.

“Maka airnya di wilayah hilir kurang, karena normalisasi masih fokus di hulu meskipun walaupun debit air bertambah maka airnya tetap kesamping, karena saluran irigasi Kali CSH tidak mampu menampung air jika debet ditingkatkan,” jelasnya.

Saat ini oleh Pengawas PJT Sukatani dibuat penjadwalan aliran air dengan tiga hari di wilayah hulu dan empat hari di hilir. Meski demikian debet air belum sampai ke hilir karena kouta air.

“Harusnya debet air itu agar sampai ke hilir mencapai 10 kubik. Tapi kondisi badan irigasi Kali CSH pun tidak mampu menampung kuota tersebut. Jika dipaksakan air akan luber ke samping dan banyak wilayah banjir karena kondisi sungai tidak mampu menampung,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah Amir, kepala Seksi PJT II mengakui, pelaksanaan normalisasi sebenarnya tidak mengalami kendala. Yang terjadi adalah banyak terdapat bangunan liar (Bangli) yang ada di DAS Aliar Kali CSH.

“Untuk hal tersebut kami sudah koordinasikan dengan pemerintah daerah. Karena tanah pengairan banyak terdapat bangunan liar diatas tanah negara. Suka tidak suka itu harus ditertibkan,” tegasnya.

Lihat juga...