Tidak Lagi Populer, Pria ini Masih Setia Jual Cincin Batu Akik

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANDUNG — Sekitar tahun 2015, demam batu akik pernah menjangkit masyarakat Indonesia di berbagai belahan daerah. Pelapak yang berjejer di sepanjang trotoar dengan kerumunan orang menjadi pemandangan yang sering kita jumpai setiap hari.

Bahkan, di Kota Bandung, tepatnya di Jalan Pungkur, kecamatan Regol, di mana para pelapak batu akik berkumpul menjajakan dagangannya, kerap kali memicu kerumunan dan kemacetan panjang.

Kisah manis itu masih teringat jelas di benak Solihin (49), salah satu pedagang batu akik yang hingga saat ini masih setia berjualan. Ia mengaku, saat itu bisa meraup omzet jutaan rupiah dalam sehari.

“Pernah sehari saya dapat Rp10 juta waktu lagi booming. Waktu itu kan tidak ada patokan harga, jadi penjual bikin harga sendiri-sendiri saja, sesuka kita. Ada cincin yang satunya saya jual Rp5 juta bahkan lebih,” kata Solihin saat ditemui di trotoar Jalan Pungkur, Selasa (19/10/2021).

Menurut Solihin, memang sejak awal ia sudah meyakini, bahwa demam batu akik tidak akan bertahan lama. Momen tersebut dianggapnya hanya sebatas berkah sesaat bagi para pedagang batu akik.

“Kalau saya jualan batu akik sudah lama, sebelum booming begitu juga sudah jualan. Jadi bagaimana pun situasinya, ya jualan ini tetap saya jalani, beda dengan penjual dadakan,” jelas Solihin.

Meski tidak sepopuler dulu, namun lanjut Solihin, pecinta batu akik tidak pernah habis. Ia menyebut, setiap hari ada saja orang yang datang, entah itu untuk membeli, atau sekedar melihat-lihat koleksi batu cincin saja.

“Alhamdulillah Cuma sekarang harga jual tidak seperti dulu. Rata-rata batu cincin itu ya cuma ratusan ribu, tidak ada yang jutaan. Saya pribadi senang saja jualan begini, bahkan kalau orang cuma lihat-lihat saja saya senang,” tukasnya.

Hal senada juga diungkapkan, Dadang Muriadi, pedagang cincin batu akik lainnya di Jalan Pungkur. Saat hobi batu akik booming pada lima hingga enam tahun lalu, ia mengaku hampir kewalahan melayani orderan.

“Karena sekarang sudah tidak seramai dulu, maka ongkos poles dan pembuatan batu akik kita sesuaikan mulai dari Rp25 ribu sampai Rp35 ribu per order,” katanya.

Dadang menyebut pernah memegang dan memoles semua jenis batu, mulai dari akik sampai batu mulia. Menurutnya, uang paling susah diukir adalah batu mulia, seperti safir dan rubi.

“Semoga saja bisnis batu mulia dan akik bisa kembali menggeliat seperti dulu ya. Saya sih ingin sekali bikin lomba-lomba dan usaha bidang perbatuan seperti dulu, wah seru, ekonomi juga maju,” pungkas Dadang.

Lihat juga...