Tingkatkan Pengawasan Penggunaan Bahan Peledak, Patroli Laut Harus Gencar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT maupun Kabupaten Sikka diminta untuk gencar melakukan sosialisasi dan pengawasan laut pantai utara maupun pantai selatan Flores.

“Harus dilakukan sosialisasi secara gencar kepada nelayan agar tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan yang melanggar hukum,” pinta Kepala Program Studi Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Yohanes Don Bosco R. Minggo, saat ditemui di kampusnya, Rabu (6/10/2021).

Kepala Program Studi Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Yohanes Don Bosco R. Minggo saat ditemui di kampusnya, Rabu (6/10/2021). Foto: Ebed de Rosary

Bosco sapannya, mengatakan, penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau bom dan racun ikan termasuk menggunakan bahan kimia kian gencar dilakukan nelayan.

Terutama sebut dia, di kawasan pantai utara Flores aktivitas penangkapan ikan secara ilegal tersebut sangat meresahkan nelayan kecil karena harus melaut hingga ke laut lepas.

“Kewenangan telah beralih ke provinsi sehingga DKP Provinsi NTT harus menganggarkan dana yang lebih besar untuk melakukan sosialisasi dan pengawasan laut,” tegasnya.

Bosco menyebutkan, patroli laut pun harus gencar dilakukan baik oleh personel DKP NTT maupun oleh Polairud Polda NTT dan Lanal Maumere guna mencegah aktivitas penangkapan ikan secara ilegal.

Bosco tambahkan, gencarnya sosialisasi dapat pula dilakukan dengan melibatkan tokoh-tokoh adat, tokoh masyarakat maupun tokoh agama yang disegani oleh nelayan.

“Bisa juga dengan mengaktifkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di desa-desa atau kelurahan di pesisir pantai agar ikut serta melakukan pengawasan laut,” ucapnya.

Sementara itu, Dir Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Nyoman Budiarja, SIK, M.Si melalui Penyidik Pembantu Subdit Gakkum Polda NTT, Brigpol Chris Surya A. Saba, SH mengakui seringnya dilakukan penangkapan pelaku secara ilegal.

Chris memaparkan, pelaku penangkapan ikan menggunakan bahan kimia berupa pestisida di NTT sudah ditemukan dua kasus di mana tahun 2020 Polairud Polda NTT mengamankan seorang pelaku di perairan Kota Kupang.

“Pelaku penangkapan ikan menggunakan pestisida sudah dua kali dilakukan Polairud Polda NTT. Pestisida merupakan pembasmi hama yang menurut pelaku dijual bebas di toko,” ungkapnya.

Chris menambahkan, dalam melakukan operasi pengawasan laut pihaknya pun melakukan sosialisasi kepada nelayan mengenai bahaya menangkap ikan menggunakan bahan kimia maupun racun.

Lihat juga...