Upacara Adat di Desa Saya

CERPEN ARIS KURNIAWAN

Teman-teman saya syok, muntah-muntah, lalu pingsan. Beberapa menit kemudian mereka sadar, dan muntah-muntah lagi, setelah itu pingsan lagi.

Mereka mengalami trauma yang mendalam. Tampang mereka tampak menyedihkan. Wajah keduanya sepucat kapas. Keringat dingin mengucur deras membuat basah baju yang mereka kenakan.

Kesombongannya tumpas sama sekali ditindas kengerian yang sangat menekan seperti kerupuk disiram air.

Ketika sadar untuk kesekalian kali, dengan lemah dan tubuh mulai diserang demam mereka meminta saya membawanya keluar dari desa saya.

“Tetua desa saya tak akan mengizinkan kalian keluar dari desa kami,” kata saya.

Mata mereka menatap saya dengan pandangan memohon. Dengan bimbang saya meninggalkan keduanya di kamar. Tapi pada saat yang saya juga merasa puas. Saya kembali ke lapangan membersihkan sisa bekas upacara adat.

Mereka baru pertama kali berkunjung ke desa saya untuk menghabiskan waktu libur kuliahnya sekalian menyaksikan upacara adat di desa saya. Mereka pikir nyali mereka kuat melihat tubuh orangtua itu melayang jatuh dari puncak bukit, lalu remuk di atas altar batu.

Desa saya berada di antara perbukitan, perbatasan antara dua kabupaten. Ada jalan beraspal yang mulus dan lebar yang membelah perbukitan. Jalan aspal itu disangga jembatan beton yang tebal melintasi sungai besar dan curam yang mengalir di celah bukit.

Di salah satu puncak bukit terdapat patung pahlawan. Guru-guru sekolah dasar kerap membawa murid-murid mereka ke sana untuk berwisata. Di seputar patung terdapat tanah lapang yang cukup landai.

Dari sana mereka dapat melihat pemandangan lereng perbukitan yang hijau lebat penuh pohon-pohon. Di dataran yang cukup landai itu biasanya anak-anak muda biasa menggelar perkemahan. Ke sanalah warga desa saya menawarkan berbagai jasa, mulai dari pijat, tikar, hingga makanan dan minuman.

Penduduk yang menghuni desa saya jumlahnya sedikit dibanding desa-desa lain di sekitarnya. Sebanyak persis 100 kepala keluarga, dengan jumlah anggota keluarga masing-masing empat orang.

Rumah mereka menyebar di lereng perbukitan dekat sungai. Jumlahnya sejak ratusan tahun yang lalu tak pernah bertambah maupun berkurang. Kalau ada bayi lahir, maka akan ada warga desa saya yang mati.

Begitu juga sebaliknya, bila ada penduduk yang mati, esoknya ada perempuan desa saya yang melahirkan. Paling lama satu purnama jumlah penduduk desa saya tidak genap 400 jiwa.

Bila lebih dari satu purnama jumlah penduduk desa saya kurang dari 400 jiwa, maka penduduk desa saya akan melaksanakan adat lama itu.

Tetua adat desa saya akan mengambil hewan seperti monyet atau anjing atau kucing menjadi warga desa melalui sebuah upacara tertentu yang sangat unik dan menarik bagi teman saya. Tetapi bila jumlahnya lebih, maka penduduk desa saya dipimpin tetua adat akan melaksanakan upacara adat yang membuat teman saya menjerit syok, lalu pingsan.

Saya tak pernah menceritakan tentang adat lama desa saya kepada siapa pun di kampus. Bukan karena tak akan ada yang percaya, melainkan memang tak perlu diceritakan.

Dulu pernah ada orang luar yang menyaksikan upacara adat desa saya. Sepulang dari desa saya, dia diserang demam tinggi, mengigau, sebelum mati beberapa hari kemudian. Seorang yang lain tidak sampai mati, tapi bicaranya jadi gagap akut, kemudian linglung sampai akhir hayatnya.

Namun suatu hari seorang teman di kampus menanyakan kebenaran tentang adat di desa saya itu. Entah dari mana dia tahu.

Dia sangat penasaran dan berminat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, apa pun risikonya. Nada bicara teman saya bernada sinis dan menganggap risiko yang bakal dialami adalah mitos belaka.

“Banyak adat lama yang tidak efisien bahkan dianggap keji bila dilihat dari peradaban modern sekarang,” kata teman saya, terdengar bijaksana.

Di India, kata teman saya, dulu ada Sati, adat yang meminta seorang istri terjun ke dalam tungku api pembakaran jasad suaminya yang meninggal.

Pemerintah Kolonial Inggris kemudian melarangnya karena dianggap kejam terhadap perempuan. Saya tidak tahu apakah Sati sudah benar-benar hilang di India.

Saya juga tidak tahu mengapa dulu Kolonial Belanda tak melarang adat di desa saya. Menurut orang-orang tua hal itu karena adat itu hanya ada di desa saya yang berada jauh dari jangkauan pemerintah kolonial.

Saya pernah bertanya kepada tetua adat, kenapa dan sejak kapan adat itu berjalan. Tetapi dia tidak menjawab, hanya berucap bahwa itu cara hidup berdampingan dengan alam.

“Jumlah kita yang terlalu banyak akan menyiksa alam,” katanya.

Adat lama di desa saya sudah lama tidak dilaksanakan, bukan karena masyarakat desa saya menganggapnya keji atau tidak efisien. Melainkan karena tak ada prasyarat yang mengharuskan dilaksanakannya adat lama tersebut.

Penduduk desa saya selalu genap 400 orang. Adat lama itu terakhir dilaksanakan sekitar setahun yang lalu, ketika empat orang penduduk desa saya mati mendadak gara-gara makan jamur beracun.

Hanya ada dua orang bayi yang lahir di desa saya. Dua bayi yang lain yang mestinya menggenapi jumlah warga desa saya, mati begitu dilahirkan. Seluruh warga desa berkabung.

Akhirnya pada bulan kedua, tetua adat mengambil seekor monyet dan anjing sebagai penduduk desa untuk menggenapi jumlah penduduk desa saya mejadi 400 orang.

Monyet dan anjing itu kami mandikan, ditaburi dan dikalungi karangan bunga, serta asap dupa yang mistis melayang sepanjang pelaksanaan prosesi. Setelah ditahbiskan sebagai warga desa, monyet dan anjing itu diperlakukan layaknya manusia.

Mereka diberi kandang yang layak, dan warga desa saya secara bergiliran mengirimi hewan-hewan ini makanan supaya mereka hidup sehat. Perangai mereka pun secara perlahan berubah jinak dan bagai mengerti bahasa manusia.

Saya bersyukur penduduk desa saya tak pernah lebih 400 orang sehingga adat lama itu tak perlu dilaksanakan.

Meski selalu ada orangtua yang berusia di atas 100 tahun yang dengan sukarela bahkan bangga menyediakan diri untuk dilenyapkan dalam pelaksanaan adat lama itu, bagi saya tetap saja itu menyedihkan.

Di luar itu kehidupan di desa saya sangatlah tenteram dan menyenangkan. 400 jiwa penghuni desa saya seperti satu keluarga. Kata orang-orang tua, kami memang diikat oleh garis darah.

Mereka berasal dari nenek moyang yang sama. Mereka hidup dari hutan dan sungai. Uang tak berlaku di komunitas kami. Kami hanya akan membawanya saat harus keluar dari desa untuk keperluan mendesak.

Ada beberapa orang dari desa saya merantau keluar dari desa untuk bekerja atau sekolah seperti saya. Namun kami akan selalu kembali saat hendak menikah, meninggal atau melahirkan, dan menyaksikan upacara adat.

Mestinya saya tak bersedih ketika desa saya akan melaksanakan adat lama itu dua pekan mendatang setelah selama sebulan kami menunggu jumlah kami belum juga kembali genap 400 orang.

Tak ada seorang pun warga desa saya pergi meninggalkan desa demi tak dilaksanakannya adat itu. Tak ada was-was, cemas, atau bersedih. Tidak pula gembira akan dilaksanakannya adat itu.

Semuanya seperti kemestian alam yang tak perlu disesali atau dibanggakan. Warga desa saya yang sedang merantau akan menyempatkan pulang demi menyaksikan pelaksanaan adat itu.

Warga mulai sibuk mempersiapkan segala keperluan pelaksanaan adat. Mereka mengumpulkan aneka kembang untuk dironce dan dibentuk kalung dan mahkota.

Membabat alang-alang yang menyemaki dataran landai di desa saya. Kami memotong babi dan rusa untuk makan bersama. Menyusun meja kursi, mencuci dan meminyaki kereta kuda yang sudah lama tak digunakan.

Orang tua yang akan mengorbankan diri itu nanti akan naik kereta yang ditarik dua ekor kuda putih polos. Lalu kami akan mengaraknya keliling area terbuka.

Ada sejumlah warga berusia di atas 100 tahun yang siap sedia mengorbankan diri, tetapi tetua adat hanya memerlukan seorang saja. Dan tetua adat desa kami sudah menentukan orangnya. Dia orang tua berusia 120 tahun yang masih terlihat segar dan gesit.

Teman saya datang bersama dua teman lainnya beberapa hari menjelang upacara adat desa berlangsung. Mereka ingin melakukan wawancara dengan orangtua itu.

“Tidak mungkin,” kata saya. “Warga desa yang akan dilenyapkan dalam upacara adat tidak diperkenankan berbicara dengan orang asing.”

Warga desa saya menyambut kedatangan teman saya dengan gembira. Mereka mengajak teman saya berjalan-jalan mengitari desa kami, melihat sungai jernih dan meraba pohon-pohon besar yang memagari desa dari peradaban luar.

Pohon-pohon yang bernapas layaknya manusia. Teman saya takjub mendengar desah napas pohon-pohon itu.

“Jangan melukai mereka,” kata tetua adat desa saya ketika melihat teman saya hendak memetik tangkai pohon yang menjulur ke bawah.

Prosesi melenyapkan nyawa itu merupakan puncak dari serangkaian acara adat yang berlangsung selama sepekan. Hari pertama kami membersihkan tubuh kami bersama-sama di sungai di celah bukit, lalu mengenakan pakaian putih polos.

Mahkota bunga yang kami bikin kemarin kami pakai hari itu. Kami memakai kalung dari bunga yang dironce. Harum bunga mengembang di mana-mana bersama aroma rumput dan suara desah napas pohon serta sungai.

Jemari tangan teman saya menggenggam erat jemari saya seolah menitipkan nyawa mereka. Saya melihat ketegangan pada wajah keduanya. Namun ketegangan itu berangsur lenyap bersama suara nyanyian dan gerakan menari.

“Aku mendengar air sungai ini bernapas,” kata teman saya.

“Sebentar lagi tetua adat akan memimpin doa,” bisik saya sembari memberi isyarat kepada mereka untuk tidak mengeluarkan suara.

Tetua desa saya mulai mengumandangkan doa. Mula-mula lirih dan lambat. Lama-lama mulai lantang dan menggelegar.

Kami semua tertunduk khidmat dan mulai sesenggukan menangis saat tetua desa melantunkan doa dengan ratapan yang terdengar begitu menyayat. Itulah momen yang rasanya enak sekali buat menangis mengakui dosa-dosa.

Puncak adat itu dilaksanakan tengah hari. Laki-laki berusia 120 tahun itu kami arak dengan kereta kencana yang ditarik kuda putih. Sebagian yang lain telah menunggu di area terbuka.

Mereka telah menyiapkan makanan yang digelar di atas meja panjang. Kami makan bersama berhadap-hadapan di meja panjang.

Kami berdiri rapi saling menggenggam jemari orang di sebelah kanan dan kirinya. Tetua desa menuntun orang tua itu naik bukit. Sampai di puncak bukit mereka berhenti. Memanjat doa.

Lalu lelaki 120 tahun itu menjatuhkan diri dari puncak bukit. Tubuhnya meluncur deras ke bawah. Terempas di atas lepengan batu.

Darah muncrat dari tubuh yang rusak. Lelaki itu tidak langsung mati. Seseorang yang telah bersiap di sana menghajarnya dengan martil untuk mempercepat kematiannya.

Mengerikan sekali, bukan? Jadi pantas saja teman saya syok, muntah-muntah dan pingsan berkali-kali. ***

Aris Kurniawan, penulis asal Cirebon, Jawa Barat. Buku cerpen terbarunya Monyet Bercerita  (Basabasi, 2019).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...